Suara.com - "Pupuk bukan sekedar zat yang menyuburkan tanah. Melainkan juga simbol harapan dan keberlanjutan," demikian pemikiran Francis Bacon, filsuf asal Inggris yang percaya bahwa pengetahuan adalah kekuatan. Layaknya pupuk yang mendukung tanaman tumbuh dengan baik, pengetahuan dan inovasi menjadi penyangga kemajuan peradaban manusia. Dalam dunia pertanian, pupuk dianggap sebagai nyata bagaimana manusia mampu memahami dan mengolah alam demi kesejahteraan bersama.
Pemikiran ini mungkin menjadi salah satu inspirasi bagi PT Pupuk Indonesia (Persero), selaku ujung tombak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di lini produksi pupuk dan pengembangan bahan kimia untuk mendukung petani Indonesia.
Hampir 66 tahun menjadi mitra penanam negeri ini, PT Pupuk Indonesia (Persero) tidak berhenti membuktikan diri sebagai salah satu pelopor transformasi digital di bidangnya. Tidak main-main, langkah ini memiliki signifikan terhadap efisiensi operasional, peningkatan kinerja keuangan, dan perluasan akses pupuk bagi petani.
Sebagai produsen pupuk terbesar di Asia Pasifik, perusahaan milik negara ini tidak hanya menjadi salah satu sosok kunci ketahanan pangan nasional, melainkan juga contoh sukses integrasi teknologi dalam ekosistem pertanian.
Peran strategis Pupuk Indonesia dalam mendukung petani Indonesia dari masa ke masa tidak bisa lepas dari adaptasi yang tepat seiring perkembangan zaman.
Sebagai contoh, transformasi digital yang dilakukan oleh PT Pupuk Indonesia (Persero) berdampak signifikan dalam efisiensi operasional, peningkatan produksi, hingga optimalisasi distribusi. Dengan mengadopsi teknologi digital berbasis Internet of Things (IoT), big data analytics, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Pupuk Indonesia tidak hanya berhasil memperluas kemudahan akses pupuk bagi petani, melainkan juga meningkatkan efisiensi kerja perusahaan.
“Tebus pupuk subsidi sekarang mudah banget, mas. Pakai KTP aja. Stok juga Alhamdulillah saya belum pernah ada masalah. Bersyukur sekali, dan terima kasih tentunya untuk Pupuk Indonesia karena sudah dibantu dapat pupuk dengan harga murah,” ujar Wiyono, salah seorang petani asal Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten yang sekaligus menegaskan keberhasilan digitalisasi penyaluran pupuk di berbagai pelosok.
Kemudahan akses pupuk yang dinikmati oleh Wiyono ini adalah bukti bahwa Pupuk Indonsia telah mengimplementasikan Perpres 06/2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi yang memangkas jalur panjang distribusi pupuk bersubsidi.
Ditambah dengan dukungan i-Pubers, petani yang terdaftar dalam e-RDKK dan memenuhi kriteria untuk mendapatkan pupuk bersubsidi karena pemilik kios pupuk dapat melakukan verifikasi data KTP petani terkait secara realtime.
Baca Juga: Pupuk Indonesia Berdayakan UMKM Kain Songket Jadi Berjual Nilai Tinggi
Revolusi Rantai Pasok melalui Sistem Terintegrasi
Salah satu langkah transformasi digital yang paling berdampak pada efisiensi distribusi Pupuk Indonesia adalah penerapan Distribution Planning & Control System (DPCS). Sistem ini memungkinkan pemantauan distribusi pupuk dari pabrik hingga ke kios-kios yang tersebar di seluruh Indonesia.
Berdasarkan laporan keuangan PT Pupuk Indonesia (Persero) pada tahun 2023, dukungan sistem ini membuat perencanaan distribusi menjadi lebih akurat, dibuktikan dengan adanya peningkatan efisiensi distribusi hingga 30%. Selain itu, teknologi ini berhasil mengurangi buffer stock sebesar 15%, yang berkontribusi pada efisiensi biaya logistik tahunan mencapai Rp200 miliar.
Distribusi pupuk juga semakin mudah dijagkau oleh petani karena faktor kedekatan. Pasalnya, kini, pengelolaan pendaftaran distributor pupuk terbilang sangat mudah dengan adanya dukungan Distributor Management System (DIMAS), sebuah aplikasi yang digunakan untuk mengelola pendaftaran distributor pupuk dari PT Pupuk Indonesia. Adanya DIMAS semakin memudahkan distribusi pupuk subsidi karena mendukung pemerataan distributor pupuk di berbagai pelosok.
Pakar pertanian dari IPB, Dwi Andreas Santosa dalam salah satu analisanya menjelaskan bahwa digitalisasi rantai pasok merupakan langkah yang sangat krusial dalam meningkatkan efektivitas distribusi pupuk di Indonesia.
“Selama ini, salah satu tantangan terbesar dalam penyaluran pupuk adalah ketidakseimbangan pasokan dan permintaan di berbagai daerah. Dengan sistem berbasis digital, distribusi dapat lebih merata dan tepat sasaran,” ungkap Dwi.
Berita Terkait
-
Adopsi Teknologi, Pupuk Indonesia Berhasil Tingkatkan Produktivitas
-
Pupuk Indonesia Pastikan Kios Jual Pupuk Subsidi Sesuai Harga Eceran Tertinggi
-
Petrokimia Gresik dan Pupuk Indonesia Dukung Kemajuan Voli Tanah Air
-
Emak-Emak Jadi Andalan Swasembada Pangan, Pupuk Indonesia Beri Pelatihan Khusus
-
Pupuk Indonesia Berdayakan UMKM Kain Songket Jadi Berjual Nilai Tinggi
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Swasembada Beras Sudah Sejak 2018, Apa yang Mau Dirayakan?
-
Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
-
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025
-
Realisasi Konsumsi Listrik 2025 Tembus 108,2 Persen dari Target
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kementerian PU Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, 7 Blok Rampung untuk 84 KK
-
Purbaya Yakin MBG Paling Cepat Habiskan Anggaran di Awal 2026
-
Beban Impor LPG Capai 8,4 Juta Ton, DME Diharapkan Jadi Pengganti Efektif
-
Defisit APBN 2025 Hampir 3 Persen, Purbaya Singgung Danantara hingga Penurunan Pajak
-
Target IHSG Tembus 10.000, OJK: Bukan Tak Mungkin untuk Dicapai