- Ritel keluhkan stok impor telat masuk saat momen Imlek hingga Lebaran 2026 yang berdekatan.
- HIPPINDO sebut keterlambatan barang impor di mal berpotensi ganggu target penjualan nasional.
- Menko Airlangga pilih fokus urus pangan dulu sebelum bahas kendala impor barang ritel.
Suara.com - Momentum "panen raya" pelaku usaha ritel di tanah air terancam tak maksimal. Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) mengeluhkan tersendatnya pasokan barang impor menjelang rangkaian hari besar, mulai dari Imlek hingga Idulfitri 2026.
Ketua Umum HIPPINDO, Budihardjo Iduansjah mengungkapkan, para pelaku ritel sebenarnya telah melakukan persiapan matang untuk menyambut lonjakan konsumsi masyarakat. Namun, keterlambatan masuknya produk impor ke pasar domestik menjadi ganjalan serius.
"Mungkin kami mohon arahan untuk tahun ini menumpuk dengan adanya Imlek, Cap Go Meh, Lebaran, Puasa, itu semua jadi satu. Jadi event-nya numpuk semua," ujar Budihardjo dalam peluncuran program BINA Lebaran 2026 di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Budihardjo menjelaskan bahwa kalender perayaan tahun ini sangat padat dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini menuntut ketersediaan stok yang lebih masif dan lebih awal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Meski pasokan produk lokal diklaim relatif aman, ketergantungan mal terhadap produk impor masih menjadi isu krusial yang bisa menggerus potensi omzet.
"Stok yang ada dari lokal cukup terjaga. Namun untuk impor, Pak Menko, kami menghadapi masalah. Barang-barang di mal banyak yang impor agak telat, sehingga mungkin Lebaran ini kita agak terganggu untuk penjualannya," tegasnya.
Padahal, HIPPINDO telah mengerahkan kekuatan penuh dengan melibatkan sedikitnya 800 merek dan 80.000 toko mulai dari sektor fashion, makanan-minuman, hingga gerai elektronik untuk menyemarakkan promo Ramadan dan Lebaran.
Menanggapi "curhatan" pelaku usaha tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, belum memberikan solusi instan. Pemerintah, kata dia, saat ini masih memprioritaskan stabilitas harga kebutuhan pokok untuk masyarakat luas.
"Jadi itu akan dibahas tersendiri. Kita sekarang urus Lebaran dulu aja dan bulan Puasa," pungkas Airlangga singkat.
Baca Juga: Pengusaha Mal Full Senyum Pada Momen Ramadan dan Lebaran Tahun Ini
Hambatan distribusi ini diharapkan segera terurai, mengingat sektor ritel merupakan salah satu motor penggerak konsumsi rumah tangga yang menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2026 Diproyeksikan Turun ke 5 Persen
-
Purbaya Klaim Rating Utang Indonesia di S&P Aman hingga 2028
-
Tingkat Kecelakaan Roda Dua Tinggi, Mitra Driver Kini Diberi Asuransi Gratis
-
Peringati Hari Kartini: BRI Terus Dukung Pemberdayaan Perempuan untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
-
Uji Jalan Rampung di Mei, Penerapan B50 Serempak pada Juli 2026
-
Daftar Kode SWIFT BRI Semua Daerah dan Cara Pakai Transfer Internasional
-
World Bank Minta Maaf ke Purbaya Buntut Salah Proyeksi Ekonomi RI
-
Laba Bank Mandiri Tumbuh 16,5 Persen, Tembus Rp15,4 Triliun
-
Kejar Target Produksi, SKK Migas Bakal Pakai Teknologi Triple 100
-
Heboh Gugatan Rp119 Triliun: Bos CMNP Sampai Buka Suara