Suara.com - PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) menganggarkan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 3,6 triliun di sepanjang 2025.
VP of Investor Relations & Corporate Communications Surya Semesta Internusa, Erlin Budiman mengatakan, dana capex persroan akan difokuskan untuk mempercepat ekspansi kawasan industri Subang dan pengembangan bisnis perhotelan melalui proyek Melia Bali.
"Dari jumlah capex Rp 3,6 triliun, sebanyak Rp1,1 triliun diperuntukkan untuk Melia Bali, sebanyak Rp2,4 triliun dialokasikan untuk kawasan industri, dan sisanya untuk entitas lain," kata dia di Jakarta, Rabu (23/4/2024).
Dari total anggaran kawasan industri, sekitar 30 persen ditujukan untuk akuisisi lahan dan sisanya difokuskan pada pengembangan kawasan. Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan potensi kawasan industri Subang yang memiliki izin lahan seluas 2.717 hektare.
"Saat ini, lahan yang telah dikembangkan mencapai sekitar 1.700 hektare, sehingga masih tersedia sekitar 1.000 hektare yang perlu dibangun di Subang," jelas dia.
Dia menegaskan, kehadiran BYD di kawasan industri Subang berdampak signifikan bagi perseroan. Maka dari itu, perusahaan sedang dalam tahap negosiasi dengan calon investor Tiongkok.
"Proses akuisisi dilakukan secara berkelanjutan karena tingginya permintaan investor, khususnya dari Tiongkok," ungkap dia.
Melalui strategi bisnis yang ekspresif dan dukungan dari belanja modal yang digelontorkan, maka perusahaan membidik pertumbuhan pendapatan sebesar 5 persen dan porsi laba bisa meningkat 20 persen di tahun ini.
Artinya, pendapatan SSIA akan mencapai sekitar Rp6,56 triliun di tahun ini, dari porsi Rp6,25 triliun di 2024. Sedangkan laba bersih bisa mencapai Rp281 miliar, dari porsi laba sebesar Rp234,2 miliar pada 2024.
Baca Juga: Pendapatan Bersih SSIA Naik 37,8 Persen Jadi Rp 6,25 Triliun di 2024
Erlin menambahkan, perusahaan optimistis bisa mencapai target kinerja positif di tahun ini.
"Kami optimistis bisa capai target. Kalau tidak tercapai di pertengahan tahun, kami yakin itu hanya akan bergeser ke tahun depan, bukan hilang," tutup Erlin.
Surya Semesta Internusa (SSIA) adalah perusahaan konglomerasi terkemuka di Indonesia yang memiliki jejak rekam panjang dalam pembangunan infrastruktur, properti, dan manufaktur.
Didirikan pada tahun 1971, SSIA telah menjadi salah satu pemain kunci dalam memajukan perekonomian Indonesia melalui berbagai proyek strategis.
Bisnis inti SSIA mencakup pengembangan kawasan industri melalui anak perusahaannya, PT Suryacipta Swadaya, yang mengelola kawasan industri terpadu Suryacipta City di Karawang, Jawa Barat.
Kawasan ini telah menarik investasi dari berbagai perusahaan multinasional dan domestik, menjadikannya pusat manufaktur yang penting.
Selain itu, SSIA juga aktif dalam pengembangan properti melalui PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), yang fokus pada konstruksi bangunan komersial dan residensial.
NRCA telah membangun berbagai proyek ikonik di Indonesia, termasuk hotel, pusat perbelanjaan, dan apartemen.
Diversifikasi bisnis SSIA juga merambah ke sektor perhotelan melalui anak perusahaannya, PT BATIQA Hotel Manajemen, yang mengelola jaringan hotel BATIQA di berbagai kota di Indonesia.
Ekspansi ke sektor perhotelan ini menunjukkan komitmen SSIA untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan di sektor pariwisata.
Dengan pengalaman lebih dari 50 tahun, Surya Semesta Internusa terus berupaya untuk memberikan kontribusi positif bagi pembangunan Indonesia melalui inovasi, investasi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Perusahaan ini berkomitmen untuk menjalankan bisnis secara berkelanjutan dan bertanggung jawab, dengan memperhatikan dampak sosial dan lingkungan dari setiap proyek yang dikerjakan.
SSIA terus beradaptasi dengan perubahan pasar dan berinvestasi dalam teknologi baru untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan di masa depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
Pilihan
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Pelabuhan Karimun Masuk Radar Sanksi Uni Eropa terkait Distribusi Minyak Rusia
-
Strategi Bank Mandiri Taspen Perkuat Ekosistem Pensiunan
-
Pandu Sjahrir: Moodys Hanya Minta Kejelasan Arah Kebijakan Pemerintah
-
Kemenhub Deadline Kapal Penyeberangan: Bereskan Izin atau Dilarang Mudik
-
Kilau Emas Menggoda, Pembiayaan BCA Syariah Melesat 238 Persen
-
Antisipasi Mudik Lebaran 2026, KSOP Tanjung Wangi Siagakan 55 Kapal di Selat Bali
-
Skandal Ribuan Kontainer China: Mafia Impor Diduga Gerogoti Institusi Bea Cukai
-
Kinerja 2025 Moncer, Analyst Rekomendasikan 'BUY' Saham BRIS
-
BPDP Akui Produktivitas Sawit Indonesia Kalah dari Malaysia
-
Pemerintah Umumkan Jadwal WFA Periode Ramadan-Lebaran, Berlaku buat ASN dan Swasta