Bisnis / Makro
Selasa, 10 Februari 2026 | 19:00 WIB
BSI mengukuhkan diri sebagai “Best Medium Size Bank” di Indonesia (Dok: BSI)

Suara.com - Analyst perbankan dari perusahaan sekuritas merekomendasikan “BUY” atau beli saham PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk dengan Target Price (TP) berkisar Rp 2.800-Rp 4.000. Rekomendasi tersebut menyusul laporan keuangan akhir tahun Perseroan pada 6 Februari 2026 di mana BSI mengukuhkan diri sebagai “Best Medium Size Bank” di Indonesia dan sejalan dengan proyeksi mereka.

Bisnis emas dengan hadirnya lisensi bullion bank selain telah meningkatkan jumlah nasabah yang signifikan menjadi 23,1juta juga turut mendorong pendapatan berbasis fee (Fee Based Income, FBI) Perseroan yang meningkat 25,06% secara yoy, peningkatan tertinggi semenjak merger. Demikian halnya dengan likuiditas yang juga turut bertumbuh sejalan dengan kenaikan bisnis emas dengan memberikan peningkatan yang signifikan dari sisi Tabungan dengan pertumbuhan 15,72% secara yoy.

Manajemen BSI memperkirakan bisnis emas ini akan menjadi motor penggerak tambahan dari lisensi bank syariah yang sudah berjalan selama 5 tahun terakhir dan menjadi catalyst yang positif apabila dibandingkan dengan perbankan lainnya. Hal ini diamini oleh Analyst Bahana Sekuritas, M Razqi Kurniawan, dalam reportnya bahwa produk emas dioptimalkan sebagai pintu masuk untuk akuisisi nasabah baru, memperluas cross-selling, serta memiliki kualitas yang baik apabila dibandingkan dengan produk-produk lainnya. Selain itu, Analyst Citibank juga mengakui bahwa penurunan biaya dana BSI sejalan dengan pertumbuhan nasabah BRIS dan semakin banyaknya nasabah yang memiliki tabungan haji.

Dengan posisi sebagai bank syariah dan bank bullion pertama di Indonesia serta berada langsung di bawah Danantara sejak Januari 2026, BRIS dinilai memiliki prospek pertumbuhan struktural dari bisnis keuangan syariah dan emas. BRIS juga diharapkan membukukan kinerja lebih baik pada 2026 dengan proyeksi laba, berdasarkan konsensus Bloomberg, berada pada level Rp 8,8 triliun.

BRIS baru saja mengumumkan kinerja keuangan Tahun 2025 Jumat, 6 Februari 2026. Aset tumbuh 11,64% (YoY) didorong dari pertumbuhan DPK sebesar 16,20% (YoY), di mana pertumbuhan DPK didominasi oleh dana murah yang tumbuh sebesar 19,09% (YoY). Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI mencapai Rp380 triliun.

Adapun total pembiayaan di Desember 2025 tumbuh 14,49% (YoY) menjadi Rp319 Triliun, didorong oleh pertumbuhan bisnis emas yang cukup signifikan. Pembiayaan Emas tumbuh signifikan sebesar 78,60% YoY menjadi Rp22,9 Triliun. Kualitas pembiayaan terjaga dengan NPF gross sebesar 1,81% membaik 9 bps dari tahun sebelumnya.

Dari sisi Profit and Loss, BSI mampu membukukan laba bersih sebesar Rp7,57 T tumbuh 8,02% (YoY). Pertumbuhan laba ini merupakan salah satu yang tertinggi di industry termasuk di antara Top 10 Bank termasuk bank pemerintah. Salah satu kunci sukses laba BSI adalah karena BSI mampu menjaga CoF di level 2,58% dan CoC terjaga di level 0,84%.

Selain itu, strategi pertumbuhan adalah pada produk high yield mampu mendorong pendapatan margin bagi hasil tumbuh 11,74% YoY. Fee Based Income tumbuh 25,06% (YoY), terutama didorong dari pertumbuhan pendapatan pada bisnis emas.

"Kinerja solid BSI pada tahun 2025 ditopang berbagai faktor dan berjalannya fungsi intermediasi yang didukung pendanaan yang ample serta penyaluran pembiayaan yang sehat, tepat sasaran, dan juga kontribusi dukungan pembiayaan program yang sejalan dengan Asta Cita Pemerintah,” ujar Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo.

Baca Juga: Mitsubishi Motors Suguhkan Destinator dan Xforce 55th Anniversary Edition di IIMS 2026

Tahun 2025 BRIS juga mencatatkan pertumbuhan nasabah yang signifikan menjadi 23,1 juta, tertinggi sepanjang sejarah merger.***

Load More