Suara.com - Analyst perbankan dari perusahaan sekuritas merekomendasikan “BUY” atau beli saham PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk dengan Target Price (TP) berkisar Rp 2.800-Rp 4.000. Rekomendasi tersebut menyusul laporan keuangan akhir tahun Perseroan pada 6 Februari 2026 di mana BSI mengukuhkan diri sebagai “Best Medium Size Bank” di Indonesia dan sejalan dengan proyeksi mereka.
Bisnis emas dengan hadirnya lisensi bullion bank selain telah meningkatkan jumlah nasabah yang signifikan menjadi 23,1juta juga turut mendorong pendapatan berbasis fee (Fee Based Income, FBI) Perseroan yang meningkat 25,06% secara yoy, peningkatan tertinggi semenjak merger. Demikian halnya dengan likuiditas yang juga turut bertumbuh sejalan dengan kenaikan bisnis emas dengan memberikan peningkatan yang signifikan dari sisi Tabungan dengan pertumbuhan 15,72% secara yoy.
Manajemen BSI memperkirakan bisnis emas ini akan menjadi motor penggerak tambahan dari lisensi bank syariah yang sudah berjalan selama 5 tahun terakhir dan menjadi catalyst yang positif apabila dibandingkan dengan perbankan lainnya. Hal ini diamini oleh Analyst Bahana Sekuritas, M Razqi Kurniawan, dalam reportnya bahwa produk emas dioptimalkan sebagai pintu masuk untuk akuisisi nasabah baru, memperluas cross-selling, serta memiliki kualitas yang baik apabila dibandingkan dengan produk-produk lainnya. Selain itu, Analyst Citibank juga mengakui bahwa penurunan biaya dana BSI sejalan dengan pertumbuhan nasabah BRIS dan semakin banyaknya nasabah yang memiliki tabungan haji.
Dengan posisi sebagai bank syariah dan bank bullion pertama di Indonesia serta berada langsung di bawah Danantara sejak Januari 2026, BRIS dinilai memiliki prospek pertumbuhan struktural dari bisnis keuangan syariah dan emas. BRIS juga diharapkan membukukan kinerja lebih baik pada 2026 dengan proyeksi laba, berdasarkan konsensus Bloomberg, berada pada level Rp 8,8 triliun.
BRIS baru saja mengumumkan kinerja keuangan Tahun 2025 Jumat, 6 Februari 2026. Aset tumbuh 11,64% (YoY) didorong dari pertumbuhan DPK sebesar 16,20% (YoY), di mana pertumbuhan DPK didominasi oleh dana murah yang tumbuh sebesar 19,09% (YoY). Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI mencapai Rp380 triliun.
Adapun total pembiayaan di Desember 2025 tumbuh 14,49% (YoY) menjadi Rp319 Triliun, didorong oleh pertumbuhan bisnis emas yang cukup signifikan. Pembiayaan Emas tumbuh signifikan sebesar 78,60% YoY menjadi Rp22,9 Triliun. Kualitas pembiayaan terjaga dengan NPF gross sebesar 1,81% membaik 9 bps dari tahun sebelumnya.
Dari sisi Profit and Loss, BSI mampu membukukan laba bersih sebesar Rp7,57 T tumbuh 8,02% (YoY). Pertumbuhan laba ini merupakan salah satu yang tertinggi di industry termasuk di antara Top 10 Bank termasuk bank pemerintah. Salah satu kunci sukses laba BSI adalah karena BSI mampu menjaga CoF di level 2,58% dan CoC terjaga di level 0,84%.
Selain itu, strategi pertumbuhan adalah pada produk high yield mampu mendorong pendapatan margin bagi hasil tumbuh 11,74% YoY. Fee Based Income tumbuh 25,06% (YoY), terutama didorong dari pertumbuhan pendapatan pada bisnis emas.
"Kinerja solid BSI pada tahun 2025 ditopang berbagai faktor dan berjalannya fungsi intermediasi yang didukung pendanaan yang ample serta penyaluran pembiayaan yang sehat, tepat sasaran, dan juga kontribusi dukungan pembiayaan program yang sejalan dengan Asta Cita Pemerintah,” ujar Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo.
Baca Juga: Mitsubishi Motors Suguhkan Destinator dan Xforce 55th Anniversary Edition di IIMS 2026
Tahun 2025 BRIS juga mencatatkan pertumbuhan nasabah yang signifikan menjadi 23,1 juta, tertinggi sepanjang sejarah merger.***
Tag
Berita Terkait
-
Deretan Brand dan Aftermarket Luncurkan Produk Baru di IIMS 2026
-
Dari Skala Ekosistem Vietnam ke Ambisi Elektrifikasi Indonesia: Keyakinan Dealer VinFast
-
140 Tahun Mercedes-Benz: Dari Mobil Pertama Dunia Sampai Jejak Awal di Indonesia
-
Dari MBG Sampai ASRI, Presiden Prabowo Menggugah 4 Ribu Lebih Peserta Rakornas Kemendagri 2026
-
Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatera Paparkan 11 Prioritas
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Asisten Raffi Ahmad Duduk di Kursi Komisaris Krakatau Posco, Siapa Mufli Budi Ananda?
-
Survei: 81% Pekerja RI Merasa Gajinya Adil, Tapi Tak Semua Bahagia
-
96% Perusahaan RI Rekrut Lulusan Micro-Credentials, Gaji Dibayar Tinggi
-
Pengguna Tol Jakarta-Cikampek Wajib Tahu! Ada Perbaikan Jalan di Beberapa Titik hingga Awal Juli
-
Prabowo: Belum Ada Profesor Ekonomi yang Bisa Bantah Saya, Matematik Adalah Matematik!
-
Jembatan Donat Dukuh Atas Rampung 2028, Menhub: Enam Moda Transportasi Jakarta Akan Terintegrasi
-
Dari Pupuk ke Klinik Desa, KDMP Tamanmartani Buktikan Koperasi Mampu Tingkatkan Kesejahteraan Warga
-
Kabar Baik! Stasiun JIS Akan Punya Dua Peron, Akses ke Stadion dan Ancol Makin Lancar
-
Pemerintah Diminta Perhatikan Dampak Ekonomi dalam Pembuatan Aturan soal Industri Rokok
-
Merdeka Gold Resources Ukir Sejarah, Saham EMAS Resmi Melantai di Bursa Hong Kong