Bisnis / Makro
Selasa, 10 Februari 2026 | 18:44 WIB
Zaid Burhan Ibrahim selaku Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP dalam konferensi pers di Hotel Movenpick, Jakarta, Selasa (10/2/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
Baca 10 detik
  • BPDP menyatakan produktivitas kelapa sawit Indonesia masih di bawah Malaysia selama beberapa tahun terakhir.
  • Indonesia unggul dalam luas lahan dan total produksi, namun produktivitas per hektar masih tertinggal dari Malaysia.
  • Tahun 2025, produktivitas sawit Indonesia tercatat 3,61 ton/hektare, sementara Malaysia mencapai 4,02 ton/hektare.

Suara.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengungkapkan kalau produktivitas kelapa sawit Indonesia masih kalah dari Malaysia selama bertahun-tahun. 

Lembaga di bawah naungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) itu menyebut kalau Indonesia sebenarnya unggul dalam luas lahan hingga jumlah produksi. Tapi RI masih kalah dari segi produktivitas per lahan ketimbang Malaysia.

"Saat ini memang kita masih di bawah Malaysia ya, dari sisi produktivitas. Tapi dari sisi luas lahan, dari sisi jumlah hasil produksinya, memang Indonesia adalah yang terbesar di dunia," kata Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko BPDP, Zaid Burhan Ibrahim dalam konferensi pers di Hotel Movenpick, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Ilustrasi perkebunan kelapa sawit. (Suara.com/Aldie)

Ia menerangkan kalau sepanjang 2025, produktivitas sawit Indonesia hanya 3,61 metrik ton per hektare. Sedangkan Malaysia sudah mencapai 4,02 metrik ton per hektare.

Sementara dari jumlah produksi, Indonesia mencapai 46,5 juta metrik ton dari total luas lahan 12,9 juta hektare. Adapun Malaysia produksinya hanya 20,1 juta metrik ton dengan total luas lahan 5,04 juta hektare.

Produktivitas sawit Indonesia juga kalah dari Malaysia beberapa tahun sebelumnya. Sejak 2023, produktivitas sawit RI mencakup 3,63 metrik ton per hektare sedangkan Malaysia 3,68 metrik ton per hektar tiap tahunnya.

Begitu pula di 2024, di mana produktivitas sawit RI hanya 3,53 metrik ton per hektare. Sementara Malaysia 3,82 metrik ton per hektare per tahun.

"Artinya apa? Artinya ini tantangan dan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produktivitas. Dengan luasan lahan yang lebih tinggi, seyogyanya Indonesia masih bisa meningkatkan produktivitas," jelasnya.

Baca Juga: Di Tengah Penangguhan Sanksi FIFA, Klub Malaysia Datangkan Pemain Naturalisasi Harimau Malaya

Load More