Suara.com - Presiden Donald Trump berencana untuk menaikkan pajak bagi orang Amerika terkaya. Tentunya keputusan ini bakal membuat dinamika politik bergejolak antara partai Demokrat dan Republika.
Gagasan mengenai menaikan tarif pajam pada orang kaya, setelah Trump muncul setelah menghubungi Ketua DPR Mike Johnson, R-La. Komunikasi keduanya mengungkapkan penambahan kenaikan pajak pada penerima penghasilan tertinggi ke dalam RUU pajak dan pengeluaran utama yang ingin disahkan GOP tahun ini.
Trump beralasan menaikkan pajak orang kaya bisa menjadi alternatif untuk melindungi Medicaid dan memberikan ruang fiskal bagi pemotongan pajak kelas menengah dan pekerja. Ia juga mendesak agar celah pajak carried interest, yang sering dimanfaatkan oleh manajer dana lindung nilai untuk membayar pajak lebih rendah, dihapuskan.
Partai Republik juga tengah mempertimbangkan sejumlah langkah perpajakan lainnya yang bernuansa populis, seperti peningkatan pajak atas stock buyback dan pembatasan pengurangan pajak atas kompensasi eksekutif yang tinggi.
Dilansir CNBC, RUU ini ditargetkan untuk disahkan sebelum Hari Peringatan (Memorial Day), namun masih dihadapkan pada banyak perdebatan internal, termasuk soal penghapusan batas potongan pajak negara bagian dan lokal (SALT cap) yang banyak diminta oleh legislator dari negara bagian berbiaya tinggi.
Padahal sebelumnya, Trump mengacu pada janji kampanye George H.W. Bush tahun 1988 saat itu bahwa ia tidak akan menaikkan pajak sebagai presiden.
Kegagalan Bush untuk menepati janji itu akhirnya menjadi sasaran utama bagi lawan-lawan politiknya dan dianggap sebagai faktor kekalahannya dalam pemilihan umum 1992.
Namun kemudian, tampaknya ia mengubah pendiriannya, ia menulis mengenai ide menaikan pajak. Saya setuju jika mereka melakukannya," katanya.
Diminta kejelasannya pada hari Jumat nanti tentang apakah Trump ingin atau tidak menaikkan tarif pajak tertinggi, sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan ia menginginkan “pemotongan pajak terbesar dalam sejarah," tulis Trump.
Baca Juga: Trump Mulai Panik Soal Perang Dagang, Mau Turunkan Tarif ke China Jadi 80 Persen
Selain itu, Presiden telah mengatakan bahwa ia sendiri, secara pribadi, tidak keberatan membayar sedikit lebih banyak untuk membantu kaum miskin dan kelas menengah serta kelas pekerja di negara ini.
"Sejujurnya, saya pikir itu adalah posisi yang sangat terhormat. Namun, sekali lagi, negosiasi ini sedang berlangsung di Capitol Hill, dan presiden akan mempertimbangkannya jika perlu," kata kata Leavitt.
Jabatan Trump dapat memberikan tekanan lebih besar pada para pemimpin GOP yang sudah berjuang untuk menyusun RUU yang memenuhi tuntutannya untuk serangkaian pemotongan pajak besar, tanpa menambah defisit. Sehingga para petinggi fiskal partai tidak akan memberikan suaranya.
Selain itu, Trump berjanji di jalur kampanye dan sebagai presiden bahwa ia akan menghapus pajak atas upah lembur, atas tip pekerja layanan, dan atas Jaminan Sosial untuk para manula, sambil memperpanjang pemotongan pajak perusahaan yang diterapkan pada tahun 2017 selama masa jabatan pertamanya.
Perwakilan parta Republik yakni. Jason Smith, R-Mo., ketua Komite Anggaran dan Sarana DPR yang berfokus pada pajak, dijadwalkan bertemu dengan Trump pada hari Jumat.
Adapun, Johnson memberi tahu Partai Republik bahwa mereka tidak akan mampu membayar pemotongan pajak sebesar 4,5 triliun dollar As yang sebelumnya telah mereka targetkan, menurut Politico.
Berita Terkait
-
Mulai Nego dengan Trump, Iran Buka Selat Hormuz Tapi Tetapkan Tarif Rp34 Miliar per Kapal
-
Harga Minyak Dunia Ambles 7 Persen, Drama AS-Iran Guncang Pasar Energi
-
Asal Usul Viral Ejekan You're Fired, Cara Jenderal Iran Merendahkan Donald Trump Selama Perang
-
Ngaku Mau Damai, Donald Trump Masih Mau Iran Ganti Rezim
-
Donald Trump Bohong, Iran: Yang Mulai Perang kan Amerika Serikat
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Bos Go Ahead Eagles: Dean James Masih Gunakan Paspor Belanda!
Pilihan
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
Terkini
-
Gegara Selat Hormuz Tutup, Harga BBM di AS Tembus Rp 68.000
-
BRILink Agen Bukukan Transaksi Rp1.746 Triliun: Bukti BRI Percepat Inklusi Keuangan Nasional
-
Aturan Baru Purbaya: Jatim Jadi Provinsi Terbanyak Dapat Jatah Hasil Cukai Tembakau
-
Ekonomi India Mulai Terpukul, Konflik Timur Tengah Bikin Aktivitas Bisnis Melambat
-
7.131 Bus Ditemukan Tak Layak Jalan Saat Mudik Lebaran
-
Arus Balik Lebaran, KAI Catat 253 Ribu Kursi Masih Tersedia hingga Awal April
-
Arus Balik Mulai Padat, Jumlah Penumpang Kereta ke Jakarta Lampaui Keberangkatan
-
Perang di Timteng Memanas Bikin Premi Asuransi Meningkat
-
Arus Balik Mulai Menggeliat, Penumpang Bakauheni Tembus 91 Ribu di H+1 Lebaran
-
BI: Sektor Perbankan dalam Kondisi Prima di Tengah Krisis Akibat Konflik Timur Tengah