Suara.com - Pandemi COVID-19 memang sempat mengguncang berbagai sektor ekonomi global, tak terkecuali industri properti di Indonesia. Namun, di balik badai tantangan tersebut, pasar properti Tanah Air justru menemukan jalan untuk beradaptasi dan membuka lembaran baru.
Pergeseran fundamental dalam gaya hidup masyarakat, perubahan preferensi konsumen yang kian selektif, dan akselerasi adopsi teknologi telah melahirkan peluang-peluang properti yang sebelumnya tak banyak dilirik. Tren kerja dari rumah (work from home), meningkatnya kebutuhan akan ruang hijau yang asri, serta kesadaran yang lebih tinggi terhadap kesehatan dan kesejahteraan, kini menjadi faktor penentu dalam keputusan konsumen memilih hunian dan ruang kerja.
Menurut data dari Mordor Intelligence, proyeksi pasar properti Indonesia menunjukkan angka yang mengesankan.
Diprediksi mencapai USD 68,55 miliar pada tahun 2025, pasar ini diharapkan akan terus merangkak naik hingga menyentuh angka USD 90,96 miliar pada tahun 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (compounded annual growth rate/CAGR) sebesar 5,82% selama periode perkiraan 2025-2030.
Sektor properti di Indonesia sendiri telah lama menjadi salah satu pilar utama pembangunan ekonomi, dengan kontribusi PDB dari kegiatan properti mencapai Rp 488,31 triliun (setara USD 31 miliar) pada tahun 2022, sebagaimana dilaporkan oleh Statistik Indonesia. Angka-angka ini menunjukkan resiliensi dan potensi besar industri properti sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional.
Di tengah optimisme pasar properti nasional, Bali muncul sebagai bintang yang bersinar terang, mencatatkan kenaikan signifikan pada harga dan okupansi properti. Masifnya kedatangan wisatawan ke Pulau Dewata pascapandemi menjadi daya dorong utama bagi geliat pembangunan properti di sana.
Fenomena ini tak hanya menarik minat investor lokal, tetapi juga memikat hati para investor asing dari berbagai belahan dunia. Warga negara asing (WNA) asal Rusia, Ukraina, Timur Tengah, Eropa, bahkan Amerika, kini berbondong-bondong melirik dan meraup keuntungan dari bisnis properti di Bali.
Daya pikat tak terbantahkan dari Bali tentu saja terletak pada keindahan alamnya yang memukau. Dari hamparan pantai berpasir unik, deretan sawah hijau yang artistik, hingga kemegahan pura-pura kuno yang kaya filosofi, semuanya berpadu harmonis dengan budaya lokal yang memesona dan sulit ditemukan di tempat lain.
Lebih dari sekadar pemandangan menakjubkan, Bali juga menawarkan pengalaman hidup yang autentik dan spiritual—sebuah nilai yang semakin dicari banyak orang di tengah hiruk pikuk kehidupan modern. Ditambah dengan keramahan penduduk lokal dan kekayaan seni yang terus hidup dan berkembang, tak heran jika Bali terus menjadi primadona dunia.
Baca Juga: Cerita Stefano Lilipaly Diminta Bela Timnas Indonesia: Saya Tidak Bisa
"Pandemi telah mengubah prioritas masyarakat secara fundamental. Kini, orang mencari hunian yang bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga mampu menunjang produktivitas kerja dan kesehatan keluarga mereka. Bali, dengan segala keunikan dan pesonanya, telah menjadi salah satu destinasi utama yang merangkul tren baru ini,” ungkap Shanny Poijes, Founder & CEO CORE Concept Living, sebuah pengembang properti.
Geliat bisnis properti di Bali pascapandemi mendorong para pengembang untuk beradaptasi dengan inovasi dan menghadirkan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar yang terus berubah. Hal ini mencakup integrasi teknologi smart home untuk kenyamanan dan efisiensi, desain properti yang lebih ramah lingkungan (eco-friendly), serta pemanfaatan layanan digital secara menyeluruh dalam setiap tahapan, mulai dari proses pembelian hingga pengelolaan kepemilikan properti.
Namun, di balik geliat investasi dan pesona tak terbantahkan ini, pembangunan properti yang semakin masif di Bali juga membawa tantangan tersendiri dan potensi ancaman serius. Pertumbuhan yang tak terkendali dapat mengancam keseimbangan ekosistem Pulau Dewata, mulai dari tekanan pada sumber daya air, masalah pengelolaan limbah, hingga perubahan lanskap budaya yang menjadi ciri khas Bali.
Infrastruktur yang ada, seperti jalan raya dan fasilitas publik, berpotensi kewalahan menampung laju pertumbuhan penduduk dan wisatawan yang semakin meningkat.
Ancaman lain adalah potensi komersialisasi berlebihan dan hilangnya esensi budaya Bali. Jika pembangunan tidak diimbangi dengan regulasi yang kuat dan perencanaan yang matang, keautentikan Bali yang menjadi daya tarik utama bisa terkikis.
Kenaikan harga properti yang drastis juga dapat menyebabkan masyarakat lokal kesulitan memiliki hunian di tanah kelahiran mereka sendiri, memicu kesenjangan sosial dan ekonomi.
Berita Terkait
-
Resmi Diluncurkan, Navara Hadirkan Hunian Mewah 3 Lantai untuk Keluarga Besar
-
Sri Mulyani Kritik SDM Indonesia Rendah, Pendidikan dan Budaya Kerja Jadi Biangkerok?
-
Membongkar Sisi Kreatif Fandom K-Pop di Tengah Stigma Sosial
-
Etika yang Hilang, Mengapa Tim Kompak Bisa Saling Menikam?
-
PLN Diminta Ganti Rugi Warga Bali Terdampak Mati Listrik Massal
Terpopuler
- PP Nomor 9 Tahun 2026 Resmi Terbit, Ini Aturan THR dan Gaji ke-13 ASN
- Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
- 5 Rekomendasi Body Lotion Terbaik Mencerahkan Kulit di Indomaret
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Yaqut Diperiksa KPK Pekan Ini Usai Praperadilannya Ditolak, Langsung Ditahan?
-
Dua Kali Blunder Kiper Tottenham Antonin Kinsky Bikin Igo Tudor Kehabisan Kata-kata
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
Terkini
-
Tebar Kebaikan Sesama, Ribuan Mitra Gojek Bersihkan Ratusan Masjid di Indonesia
-
BRI Siapkan 175 Bus Gratis bagi Pemudik Lebaran 2026, Pastikan Mudik Lancar dan Aman
-
Peringatan dari Iran: Harga Minyak Dunia Akan Tembus 200 dolar AS per Barel
-
Kementerian ESDM: Pengujian B50 Diprediksi Rampung Maret Ini
-
DPR Sepakat Tunjuk Friderica Widyasari Sari Jadi Ketua DK OJK
-
PLTS Terapung Karangkates Siap Pasok Listrik 100 Ribu Rumah
-
Fenomena Panic Buying BBM Hantui Daerah-daerah, Apa Pemicu dan Dampaknya?
-
OJK: Pasar Saham Domestik Stabil, Asing Masih Beli
-
PLN Salurkan Sambung Listrik Gratis untuk 2.533 Keluarga Prasejahtera Lewat Donasi Pegawai
-
Menko Pangan: Kopdes Merah Putih Tak Akan Batasi Perkembangan Ritel Modern