Suara.com - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), masih merana di perdagangan pagi hari ini dengan nyaman di zona merah. IHSG dibuka di level 6.948.
Mengutip data RTI Business, IHSG hingga pukul 09.07 WIB, IHSG masih terjun bebas menuju level 6.934 atau turun 33,90 poin, secara presentase turun 0,49 persen.
Pada perdagangan waktu itu, sebanyak 1,59 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 904,52 triliun, serta frekuensi sebanyak 101.786 juta kali.
Dalam perdagangan hari ini, sebanyak 147 saham bergerak naik, sedangkan 253 saham mengalami penurunan, dan 194 saham tidak mengalami pergerakan.
Adapun, beberapa saham yang mendorong penguatan IHSG waktu itu diantaranya, AGAR, PTMR, KJEN, NZIA, APEX, ASPI, NICL, KRYA, SURI, RUIS, HALO, FOLK.
Sementara saham-saham yang mengalami penurunan tajam di perdagangan waktu itu diantaranya, MBSS, OBAT, IOTF, CENT, CSIS, NINE, DKFT, WIRG, MDKA, PANI, BBTN, AKRA, AMMN.
Sebelumnya, IHSG berpotensi mengalami rebound teknikal dalam jangka pendek setelah terkoreksi tajam pada perdagangan sebelumnya.
Namun, investor tetap disarankan untuk berhati-hati karena tekanan koreksi masih bisa berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Pada perdagangan Rabu (19/6/2025), IHSG ditutup melemah signifikan sebesar 1,96 persen dengan disertai aksi jual bersih (net sell) asing sekitar Rp 1,3 triliun. Saham-saham big caps seperti BBRI, ANTM, BMRI, BBCA, dan BBNI menjadi yang paling banyak dilepas oleh investor asing.
Baca Juga: Waspada! IHSG Bisa Kembali Terjadi Koreksi, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
Menanggapi pergerakan pasar, Fanny Suherman, CFP, Head of Retail Research BNI Sekuritas, menyampaikan bahwa setelah koreksi dalam kemarin, IHSG berpeluang untuk mengalami technical rebound dalam jangka pendek ke area 7.000–7.050. Namun, ia menekankan bahwa level tersebut dapat dimanfaatkan untuk aksi ambil untung (take profit).
"Setelah IHSG koreksi dalam kemarin, IHSG berpeluang untuk short term teknikal rebound ke sekitar 7000-7050. Tapi dapat dipergunakan untuk take profit karena IHSG masih berpeluang koreksi hingga 6800 dalam beberapa waktu ke depan," ujar Fanny.
Ia juga menyebutkan bahwa level support IHSG saat ini berada di kisaran 6.900–6.950, sedangkan resistance berada di 7.000–7.050.
Dari sisi global, pasar saham Amerika Serikat tutup pada Kamis (19/6) dalam rangka libur Hari Juneteenth. Pada hari sebelumnya, indeks utama di Wall Street bergerak cenderung datar. Indeks Dow Jones turun tipis 0,10 persen, S&P 500 turun 0,03 persen, sementara Nasdaq Composite menguat 0,13 persen.
Pergerakan pasar tersebut menyusul pernyataan dari Ketua The Fed Jerome Powell yang mengindikasikan bahwa inflasi harga barang kemungkinan akan meningkat selama musim panas, sebagai dampak dari pemberlakuan tarif Presiden Donald Trump yang langsung memukul konsumen. Dalam keputusan kebijakan terbarunya, The Fed tetap mempertahankan suku bunga acuan, dan sebagian besar pembuat kebijakan memperkirakan tidak akan ada pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini.
Di sektor saham, Circle Internet, penerbit stablecoin, melesat 33,8 persen usai Senat AS meloloskan RUU regulasi stablecoin. Saham Nucor, produsen baja, juga naik 3,3 persen setelah mengumumkan proyeksi laba kuartal II/2025 yang melebihi ekspektasi analis.
Sementara itu, bursa Asia-Pasifik pada Kamis (19/6) umumnya melemah, seiring kehati-hatian investor terhadap kebijakan suku bunga The Fed dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama antara Israel dan Iran.
Indeks Nikkei 225 Jepang terkoreksi 1,02 persen dan Topix melemah 0,58 persen. Hang Seng Hong Kong mencatat penurunan signifikan sebesar 1,99 persen, dan Taiex Taiwan turun 1,58 persen. Di sisi lain, indeks Kospi Korea Selatan naik 0,19 persen dan Kosdaq menguat 0,36 persen. Indeks S&P/ASX 200 Australia juga turun tipis 0,09 persen.
Investor juga tengah menantikan keputusan suku bunga dari bank sentral Taiwan dan Filipina yang dijadwalkan pada hari yang sama. Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump dilaporkan kembali menggelar pertemuan darurat di Situation Room Gedung Putih terkait potensi tindakan militer terhadap Iran, setelah eskalasi konflik dengan Israel.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Kapal Mulai Keluar Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melemah
-
LPS Pastikan Keamanan Tabungan, Ratusan Juta Rekening Dijamin hingga Rp2 Miliar
-
Zulhas Respons Keluhan Mitra MBG, Janji Libatkan dalam Perumusan Kebijakan
-
Kurs Rupiah Hari Ini: Dolar AS Tembus Rp17.995, Pasar Waspadai Kebijakan The Fed
-
DSI Diminta Jadi Operator Bisnis, Bukan Regulator Baru
-
Sinergi Mengemaskan Indonesia, Pegadaian - Pupuk Kaltim Kolaborasi Demi Pertumbuhan Berkelanjutan
-
IHSG Menghijau Lagi Dibuka ke Level 6.000, TPIA dan ASII Mulai Dibeli Asing
-
Waktunya Beli, Harga Emas Antam Dua Hari Nggak Berubah Masih Rp2.665.000/Gram
-
Emiten Konstruksi PPRE Catatkan Pendapatan Rp3,9 Triliun Sepanjang 2025
-
Belajar ke Inggris, Menteri LH Bidik Sampah Jadi Komoditas Bernilai Ekonomi