Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih menyusun skema pembiayaan koperasi merah putih hingga akses kredit pendanaan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Hal ini sesuai dengan program prioritas yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan telah mengatur desain bisnis modern yang tepat. Sehingga, dapat memenuhi kebutuhan yang ada.
"Kemungkinan pembiayaan bagi program makanan bergizi gratis merujuk pada bagian sppg dalam kaitannya itu kami siap. Kita desain bisnis yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan yang ada dan skema yang didata dengan jelas," katanya dalam rapat dengan Banggar DPR, Kamis (3/7/2025).
Kata dia, kontribusi sektor jasa keuangan kedepan juga mengedepankan program prioritas pemerintah, termasuk optimalisasi terhadap MBG.
"Kedepan menjaga momentum dan kontribusi Sektor yang kuat mendukung pembangunan prioritas pemerimntah, kami tetapkan 4 arah, pertama, optimalisais kontribusi sektor jasa keuangan terhadap program priotroras terkait peran utama MBG," bebernya.
Sementara itu mengenai koperasi merah putih masih dimatangkan konsepnya. Salah satunya melibatkan perbankan untuk pembiayaan bisnisnya.
"Pemahaman kami pembiayaan koperasi merah putih tengah dimatangkan oleh Pemerintah skemanya. Sedangkan perbankan akan lebih banyak dilibatkan pembiayaan bisnis atau usaha bukan mendirikan koperasinya," bebernya.
"Dalam kaitan bisnis kita dorong tata kelola yang baik dengan manajemen risiko yang baik sehingga bisa berkelanjutan," tandasnya.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan kondisi perbankan masih tetap sehat. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan pertumbuhan kinerja perbankan tumbuh 8,43 persen.
Baca Juga: Bos OJK Pastikan Kinerja Perbankan Masih Kuat, Likuiditas Aman
Namun, persentase itu memang turun dibandingkan periode sebelumnya 9,88 persen. Sedangkan, kredit korporasi tumbuh 11,92 persen, lalu kredit UMKM tumbuh 2,17 persen.
"Perkembangan perbankan saat ini Mei 2025 kredit tumbuh 8,43 persen diharapkan akhir tahun tetap mencapai target di 2025 antar 9 sampai 11 persen. Sedangkan dana pihak ketiga bahwa pertumbuhannya sampai Mei 4,29 persen," bebernya.
Jika dilihat secara sektoral maka sektor pertambangan, transportasi dan rumah tangga adalah tiga yang tertinggi. Sekalipun untuk pertambangan terlihat pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan pada periode tahun-tahun sebelumnya.
Lanjutnya, untuk Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat hingga Mei 2025 adalah 88,16%.
"Loan to deposit ratio 88,16 persen dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan angka tinggi diimbangi dengan likuiditas memadai. Disisi lain permodalan car terjaga 25,1 persen disertai npl growth 22,9 persen dan nol 0,89 persen," katanya.
Tidak hanya itu, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami guncangan pada triwulan pertama tahun ini. Namun, kondisi pasar saham Indonesia mulai menunjukan perbaikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- 5 HP Murah 5G di Bawah Rp2 Juta, Koneksi Kencang untuk Multitasking
Pilihan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
Terkini
-
Importir Sepakat Jaga Harga Kedelai Rp11.500/Kg untuk Pengrajin Tahu Tempe
-
Bank Dunia: Danantara Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2027
-
RI Ekspor Ribuan Ton Klinker ke Afrika
-
Purbaya Klaim Pertumbuhan Ekonomi RI Triwulan Pertama Tinggi Bukan Karena Lebaran
-
Transaksi E-Commerce Tembus Rp96,7 Triliun, Live Streaming Jadi Sumber Pendapatan Baru Warga RI
-
Hadapi Musim Kemarau Panjang, Menteri PU Mau Penuhi Isi Bendungan
-
BRI Buka Layanan Money Changer, Tukar Riyal Jadi Lebih Praktis untuk Jamaah Haji
-
Purbaya Turun Tangan Atasi Proyek KEK Galang Batang, Investasi Rp 120 T Terancam Batal
-
Pengusaha Konstruksi Ngeluh Beban Operasional Naik 8% Gegara Harga BBM dan Material
-
Gelar RUPST, BRI Setujui Dividen Tunai Rp52,1 Triliun dan Perkuat Fundamental Kinerja