Suara.com - Menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-80, Industri tekstil Indonesia kembali menghadapi pukulan telak. PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY), salah satu emiten tekstil raksasa, mengumumkan penutupan permanen pabriknya di Karawang.
Keputusan ini menjadi sinyal bahaya besar bagi sektor padat karya yang sedang berjuang melawan badai ekonomi, mulai dari sepinya permintaan, gempuran tekstil impor murah hingga berlakunya tarif ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) sebesar 19 persen.
Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), POLY menyatakan sudah tidak sanggup lagi menahan tekanan yang datang dari berbagai arah. Penurunan permintaan produk di pasar domestik dan internasional, ditambah dengan serbuan produk impor yang jauh lebih murah, memaksa perusahaan untuk menyerah dan menutup fasilitas produksinya.
Manajemen POLY menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah menghadapi serangkaian tantangan bisnis yang berat. Salah satu faktor eksternal yang paling signifikan adalah kenaikan tarif ekspor ke Amerika Serikat (AS) yang memberatkan, kebijakan yang dipicu oleh proteksionisme era Donald Trump. Kondisi ini diperparah dengan kelebihan kapasitas global di industri tekstil dan kenaikan harga bahan baku secara global.
Selain itu, POLY juga mengeluhkan ketidakpastian kebijakan pemerintah di dalam negeri. Perusahaan merasa tertekan oleh lambatnya implementasi bea anti-dumping dan revisi peraturan importasi yang belum efektif. Kompleksitas masalah ini menunjukkan betapa sulitnya posisi produsen tekstil lokal.
"Oleh karena itu, perusahaan akan mendeklarasikan penutupan permanen unit produksi ini," terang manajemen POLY dikutip Senin (11/8/2025).
Perusahaan kini akan fokus pada operasional pabriknya di Kaliwungu-Kendal.
Meskipun POLY telah berupaya melakukan restrukturisasi utang dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), proses ini berjalan lebih lambat dari yang diharapkan. Biaya pemeliharaan yang sangat tinggi untuk pabrik di Karawang, ditambah dengan penghentian produksi yang sudah berlangsung lebih dari enam bulan, membuat operasional kembali menjadi tidak layak secara teknis maupun komersial.
Fokus kini beralih ke Pabrik Kaliwungu-Kendal. Perseroan akan segera meninjau ulang dan mereposisi kembali produk-produk dan faktor pendukung lainnya yang ada di unit produksi tersebut. Manajemen juga bertekad untuk meneruskan proses restrukturisasi yang sedang berlangsung, demi mencapai kesepakatan dengan para kreditur dan investor. Harapannya, mereka bisa mendapatkan pendanaan untuk meningkatkan produksi di Kaliwungu.
Baca Juga: Apple Resmi Bangun Pabrik di Amerika, Siap-siap Harga iPhone Makin Mahal
"Keputusan ini sangat penting bagi keberlanjutan usaha di masa depan dan perseroan meminta dukungan dan kerjasama dari semua pihak terkait dan pemangku kepentingan," pungkas Manajemen POLY.
Informasi saja, Amerika Serikat (AS) menetapkan tarif impor 19 persen atas produk yang berasal dari Indonesia, termasuk tekstil.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pemberlakuan tarif yang dikenakan pada Indonesia merupakan angka terendah diantara negara kawasan ASEAN lainnya, serta sejumlah negara pesaing komoditas ekspor.
“Nah kalau kita lihat angka-angka itu adalah angka yang terendah dibandingkan negara ASEAN yang lain, dimana Vietnam dan Filipina itu sampai saat sekarang adalah 20 persen, Malaysia dan Brunei adalah 25 persen, kemudian Kamboja 36 persen dan Myanmar-Laos sebesar 40 persen., Thailand juga 36 persen. Dibandingkan pesaing untuk produk tekstil, kita juga melihat seperti negara Bangladesh 35 persen, Sri Lanka 30 persen, Pakistan 29 persen dan India 27 persen,” ungkap Menko Airlangga.
Pemerintah lanjut Airlangga secara aktif berupaya meningkatkan pemahaman stakeholders terkait dengan menggelar agenda sosialisasi kepada pelaku usaha dan asosiasi mengenai kebijakan tarif resiprokal AS dalam mendorong investasi dan perdagangan ke depan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Baru Paling Murah Rilis Awal 2026, Fitur Canggih Mulai Rp1 Jutaan
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
- Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
Pilihan
-
Hasil Rapat DPR: Pasien PBI BPJS Tetap Dilayani, Pemerintah Tanggung Biaya Selama 3 Bulan
-
OJK Bongkar Skandal Manipulasi Saham, PIPA dan REAL Dijatuhi Sanksi Berat
-
Hasil Uji Coba: Tanpa Ampun, Timnas Indonesia U-17 Dihajar China Tujuh Gol
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
Terkini
-
Purbaya Sentil Dirut BPJS Kesehatan Imbas Gaduh PBI JKN: Image Jelek, Pemerintah Rugi
-
BEI: 267 Emiten Belum Penuhi Free Float 15 Persen
-
Status BPJS Kesehatan 11 Juta Warga Diklaim Aktif Otomatis Pekan Depan
-
Kementerian PU Bangun Huntara Modular untuk 202 KK di Aceh, Target Rampung Sebelum Ramadan
-
Purbaya Ungkap Biang Kerok Penonaktifan PBI BPJS Kesehatan yang Diprotes Warga
-
Keputusan Pengambilan Tambang Martabe Milik Agincourt Berada di Tangan Prabowo
-
Dalih Tepat Sasaran, Pemerintah Akui Blokir 11,53 Juta Peserta PBI-JKN
-
KB Bank dan Bali United FC Jalin Kerja Sama Strategis untuk Perluas Inklusi Keuangan Masyarakat
-
Kerugian Ritel Mengintai Saat Kasir 'Nge-hang'
-
IHSG Rebound ke Level 8.000 di Sesi I, 440 Saham Hijau