Suara.com - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari Kamis, 14 Agustus 2025 untuk ukuran satu dibanderol di harga Rp 1.933.000 per gram.
Harga emas Antam itu melambung tinggi Rp 16.000 dibandingkan hari Rabu, 13 Agustus 2025 sebelumnya.
Sementara itu, harga Buyback (beli kembali) emas Antam dibanderol di harga Rp 1.779.000 per gram.
Harga buyback itu juga melompat Rp 16.000 dibandingkan dengan harga buyback hari Rabu kemarin.
Seperti dilansir dari laman resmi Logam Mulia Antam, berikut adalah harga emas antam pada hari ini:
- Emas 0,5 Gram Rp 1.016.500
- Emas 1 Gram Rp 1.933.000
- Emas 2 gram Rp 3.806.000
- Emas 3 gram Rp 5.684.000
- Emas 5 gram Rp 9.440.000
- Emas 10 gram Rp 18.825.000
- Emas 25 gram Rp 46.937.000
- Emas 50 gram Rp 93.795.000
- Emas 100 gram Rp 187.512.000
- Emas 250 gram Rp 468.515.000
- Emas 500 gram Rp 930.820.000
- Emas 1.000 gram Rp 1.873.600.000
Harga Emas Dunia Melonjak
Harga emas dunia kembali menarik minat pembeli dan menguat hingga menyentuh kisaran USD 3.365 per ons pada sesi Asia, Kamis pagi.
Penguatan ini menjadi hari ketiga berturut-turut bagi logam mulia seiring melemahnya dolar AS dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Dikutip dari FXstreet, pelaku pasar kini memusatkan perhatian pada rilis data Indeks Harga Produsen (IHP) AS dan laporan klaim pengangguran awal mingguan yang akan dirilis hari ini dua data yang berpotensi memberi petunjuk lebih jelas soal arah kebijakan The Fed.
Baca Juga: Emas Antam Rontok, Harganya Terus Turun Jadi Rp 1.917.000 per Gram
Data inflasi AS yang relatif moderat belakangan ini memperkuat keyakinan bahwa The Fed berpeluang memangkas suku bunga pada pertemuan September, sekaligus meningkatkan probabilitas pemangkasan lebih lanjut di akhir tahun.
Kondisi tersebut menekan daya tarik dolar AS, sehingga memberi ruang bagi komoditas berdenominasi USD, termasuk emas, untuk menguat. Suku bunga yang lebih rendah menurunkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga logam kuning menjadi lebih menarik bagi investor.
"Emas menguat karena meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada bulan September, menyusul data IHK yang lemah dan data penggajian non-pertanian yang lemah pada bulan Juli," kata Nikos Tzabouras, analis pasar senior di tradu.com.
Alat CME FedWatch bahkan menunjukkan pasar kini menilai ada peluang besar — hingga sekitar 94 persen bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada September, setelah data inflasi Juli yang dianggap moderat.
Meski begitu, dorongan positif untuk emas berpotensi terbatas oleh kemajuan dalam negosiasi perdagangan global. Presiden AS belakangan setuju menunda penerapan tarif besar terhadap China selama 90 hari, sebuah perkembangan yang dapat meredam permintaan terhadap aset safe-haven seperti emas apabila ketegangan global mereda.
Dengan sentimen yang masih bergerak dinamis antara prospek pelonggaran moneter dan berita perdagangan global pelaku pasar diperkirakan akan terus mengikuti rilis data ekonomi dan pernyataan pejabat The Fed untuk menentukan arah harga emas selanjutnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Pertamina dan POSCO International Jajaki Kerja Sama Pengembangan Teknologi Rendah Karbon
-
Update Harga BBM SPBU Shell, BP dan Vivo saat Minyak Dunia Lewati USD 100 per Barel
-
Indonesia-Korsel Teken 10 MoU Senilai Rp 173 Triliun, Kerja Sama AI hingga Energi Bersih
-
IHSG Terus-terusan Anjlok, OJK Salahkan Sentimen Negatif Global
-
Penyebab Rupiah Melemah Tembus Rp17.002 per Dolar AS Hari Ini
-
Profil PT PP Presisi Tbk (PPRE): Anak Usaha BUMN, Siapa Saja Pemegang Sahamnya?
-
RI Masuk 3 Besar Dunia Peminat Aset Kripto Riil, OSL Rilis 'Tabungan' Emas Digital
-
Pasar Semen Domestik Lesu, SMGR Putar Otak Jualan ke Luar Negeri
-
Dilema Selat Hormuz: DEN Minta Warga Tenang, Stok BBM Nasional Masih Terjaga
-
Impor Mobil Pikap Tembus Rp 975,5 Miliar di Januari-Februari 2026, Buat Kopdes Merah Putih?