Suara.com - Amerika Serikat (AS) menetapkan tarif resiprokal sebesar 19% untuk produk dari Indonesia, angka yang lebih rendah dibandingkan sejumlah negara pesaing di Asia Tenggara.
Kondisi ini seharusnya menjadi angin segar yang membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menarik relokasi investasi. Namun, tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR) di Indonesia menjadi tantangan serius yang bisa menghambat masuknya modal asing.
Menurut Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, tarif resiprokal AS yang lebih rendah bagi Indonesia menciptakan keuntungan kompetitif. Tarif sebesar 19% ini lebih menarik ketimbang Vietnam yang dikenakan tarif 20% dan tarif barang dari negara ketiga yang bisa mencapai 40%. Sementara itu, tarif untuk Malaysia, Thailand, dan Kamboja setara dengan Indonesia, yaitu 19%.
"Dari sana, sebenarnya ada peluang, kemudian ada relokasi investasi ke Indonesia," ujar Yusuf dalam Seminar Daring yang diselenggarakan Core Indonesia, Rabu (20/8/2025).
Meskipun peluang sudah di depan mata, Indonesia pernah mengalami situasi serupa saat perang dagang AS-China pada tahun 2018. Sayangnya, saat itu Indonesia gagal memanfaatkan momentum. Relokasi investasi dari Tiongkok justru membanjiri Vietnam. Sebagai perbandingan, pada tahun 2026, Vietnam berhasil menarik 38 perusahaan, sedangkan Indonesia hanya mampu menarik lima perusahaan.
"Kenapa kemudian relokasi ini tidak masuk ke Indonesia? Saya pikir ini disebabkan oleh beberapa faktor, tetapi faktor utamanya adalah masalah ICOR kita yang relatif tinggi," jelas Yusuf.
ICOR adalah rasio yang menunjukkan besarnya tambahan investasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit tambahan output. ICOR yang tinggi mengindikasikan bahwa investasi yang masuk tidak efisien dan biayanya lebih mahal.
Data dari World Bank dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ICOR Indonesia pada tahun 2022–2023 berada di level 6,2. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan Vietnam yang hanya 4,9, dan Malaysia sebesar 3,7.
"Jadi ICOR tinggi ini yang menekan daya saing dari ekonomi kita. Kalau ada potensi investasi yang bisa muncul dari perang tarif saat ini, masih ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk menangkap relokasi investasi tersebut," tutup Yusuf.
Baca Juga: Apa Itu Shadow Economy yang Jadi Incaran Sri Mulyani?
Tingginya ICOR menjadi PR besar bagi pemerintah. Tanpa perbaikan signifikan, keuntungan dari tarif resiprokal AS yang lebih rendah mungkin tidak akan cukup untuk menarik investasi yang sangat dibutuhkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Bedak Apa yang Bisa Menghilangkan Flek Hitam? Ini 5 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 4 Toko Online Terpercaya untuk Beli Sepatu Lari di Indonesia, Dijamin Original
Pilihan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
-
Ironi Hukum: Menuju Indonesia Emas, Ternyata Emasnya Ada di Rumah Febrie!
Terkini
-
Pengamat Ibrahim: Kasus KUR Jember Bukan Kesalahan Bank Penyalur, tetapi Ulah Collection Agent
-
IPO RANS Dihadiri Haji Isam Hingga Boy Thohir, Ini Daftar Pemegang Sahamnya
-
Mini Soccer Fun Match Jadi Ajang Bulog Perkuat Kolaborasi dengan Stakeholder Ketahanan Pangan
-
Prabowo Sebut Banyak BUMN Mau Dijual ke Asing: PT PAL, PT Pindad dan PTDI Dibunuh
-
Produksi Pupuk Petrokimia Gresik Tembus 2,7 Juta Ton pada Semester I 2026
-
IHSG Terkoreksi, BEI Sebut Justru Jadi Peluang Investasi Jangka Panjang
-
Panasonic Tampilkan Solusi Modern Living & Building Terintegrasi di IndoBuildTech Expo 2026
-
Tabel Pinjaman KUR BRI Juli 2026 Terbaru, Simulasi Angsuran Rp1 Juta hingga Rp100 Juta
-
Liburan Lebih Hemat dengan Diskon Rp125.000 di tiket.com Pakai BRI Kartu Kredit
-
Harga Emas Antam Berbalik Naik ke Rp2,655 Juta per Gram, Buyback Ikut Menguat