Namun, kini nikel kadar rendah menjadi produk strategis yang menarik di pasar global, membuat Indonesia Timur, khususnya Pulau Obi, diperhitungkan dalam peta rantai pasok baterai dunia.
Tidak hanya High Pressure Acid Leaching (HPAL), Harita Nickel juga menggunakan Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) sebagai metode utama pengolahan nikel.
RKEF adalah metode yang sering dipakai untuk mengolah bijih nikel berkadar tinggi (bijih nikel saprolit).
Cara kerjanya, memanfaatkan panas tinggi untuk mengubah bijih nikel menjadi feronikel, yang kemudian digunakan dalam pembuatan baja tahan karat (stainless steel).
Sebagai informasi, saat ini, Harita Nickel memiliki 12 jalur produksi RKEF dengan kapasitas mencapai 120.000 ton nikel per tahun.
Paradoks Pertumbuhan: Kuantitas vs Kualitas Kesejahteraan
Di balik kisah sukses pertumbuhan ekonomi, muncul tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey, menyoroti sebuah paradoks penting.
“Kita sudah menguasai secara kuantitas proses produksi nikel secara global. Tapi saat ini bukan lagi bicara kuantitas, melainkan bagaimana menciptakan value,” ujar Meidy dalam sebuah forum di Jakarta, beberapa saat lalu.
Baca Juga: IRMA Jadi Modal Harita Nickel Genggam Pasar Global
Menurut Meidy, nilai tambah tidak boleh hanya berhenti pada peningkatan pendapatan negara, tetapi harus berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang.
Ia menyayangkan, meski Produk Domestik Bruto (PDB) di daerah penghasil nikel meningkat, daya beli masyarakat justru terkadang mengalami penurunan.
“Ini yang menjadi perhatian kita bersama. Masyarakat harus ikut naik kelas, bukan hanya sektor industrinya saja,” tambahnya.
Menjawab tantangan ini, APNI kini tengah fokus menyelaraskan standar keberlanjutan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang relevan dengan kondisi lokal namun tetap diakui pasar global.
“Kita sudah mengkombinasi antara standar internasional seperti IRMA, Nickel Institute, dan RMI dengan regulasi Indonesia. Ini bukan hal mudah, terutama karena tantangan budaya dan tenaga kerja,” jelas Meidy.
Terkait IRMA, ia bahkan sempat menyinggung standar ini tidak main-main. "17 tahun IRMA berdiri, baru berapa perusahaan yang bisa masuk. Dan itu belum certified, masih audit," ujar Meidy.
Sebagai contoh, IRMA menetapkan setidaknya 400 daftar aspek ESG yang harus dipenuhi perusahaan agar memenuhi kriteria.
Ditambah, dua standar global yang semakin mendapatkan sorotan adalah Inisiatif Jaminan Pertambangan Bertanggung Jawab (IRMA) dan Inisiatif Mineral Bertanggung Jawab (RMI).
Meskipun sama-sama bertujuan mendorong keberlanjutan dan etika dalam rantai pasok mineral, keduanya memiliki fokus dan pendekatan yang berbeda.
IRMA (Initiative for Responsible Mining Assurance) adalah sebuah skema sertifikasi yang komprehensif. Tujuannya adalah untuk memberikan jaminan independen kepada para pembeli mineral, investor, dan masyarakat umum bahwa sebuah operasi pertambangan telah memenuhi standar ketat dalam hal lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Audit IRMA mencakup 22 aspek kinerja yang luas, mulai dari pengelolaan air dan limbah, hak asasi manusia, hingga keterlibatan masyarakat adat.
Prosesnya melibatkan audit pihak ketiga yang ketat, dengan hasil yang dipublikasikan secara transparan, memungkinkan setiap pihak untuk melihat skor dan status kepatuhan suatu perusahaan. IRMA lebih berfokus pada audit di tingkat tambang itu sendiri.
Sedangkan Responsible Minerals Initiative (RMI), khususnya melalui program Responsible Minerals Assurance Process (RMAP), berfokus pada jaminan integritas rantai pasok. RMI RMAP dirancang untuk membantu perusahaan menghindari mineral dari sumber yang berisiko tinggi atau dari zona konflik.
Alih-alih menilai kinerja keseluruhan tambang seperti IRMA, RMI RMAP lebih fokus pada audit di tingkat peleburan atau pemurnian mineral.
Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa mineral yang digunakan, seperti nikel, timah, atau kobalt, tidak berasal dari sumber yang mendanai konflik atau melanggar hak asasi manusia. Proses audit RMAP juga dilakukan oleh pihak ketiga dan menuntut transparansi dalam pelacakan asal-usul mineral.
Mengadopsi standar-standar ketat seperti IRMA dan RMI bukan hanya menunjukkan kepatuhan, melainkan sebuah investasi jangka panjang dalam reputasi dan keberlanjutan bisnis.
Saat ini, hanya dua perusahaan pertambangan di Indonesia yang diketahui sedang menjalani proses sertifikasi IRMA, menunjukkan komitmen mereka untuk memenuhi tuntutan pasar global. Salah satunya adalah Harita Nickel, yang kini berada di Fase 2 dari proses sertifikasi IRMA. Fase ini melibatkan evaluasi yang lebih mendalam terhadap praktik-praktik operasional perusahaan.
Sementara itu, Vale, yang juga beroperasi di Indonesia, juga sudah memulai prosesnya di Fase 1. Fase awal ini biasanya mencakup evaluasi mandiri dan persiapan untuk audit yang lebih intensif.
Langkah yang diambil oleh Harita Nickel dan Vale ini bukan hanya menjadi preseden bagi industri pertambangan di Indonesia, tetapi juga menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan nasional mampu bersaing dan memenuhi standar etika serta keberlanjutan yang paling ketat di dunia.
Upaya ini menunjukkan keseriusan dalam menciptakan industri pertambangan yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.
Di tengah berbagai tantangan lingkungan ini, Harita Nickel terus bertransformasi dengan berbagai inovasi dan berupaya menerapkan praktik pertambangan yang lebih bertanggung jawab.
Salah satu komitmen utamanya adalah dalam pengelolaan sisa hasil pengolahan (waste management). Dibandingkan menggunakan metode pembuangan ke laut dalam (DSTP) yang kontroversial, perusahaan berkomitmen pada lingkungan dan menjadi salah satu yang pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi Dry Stack Tailing Facility.
Metode ini mengolah sisa hasil pengolahan menjadi padatan kering yang lebih stabil dan disimpan di fasilitas penampungan khusus yang aman.
Di sisi sosial, program pemberdayaan masyarakat (CSR) difokuskan pada peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kemandirian ekonomi lokal di sekitar Pulau Obi.
Ribuan tenaga kerja lokal telah terserap, menciptakan efek ganda bagi perekonomian desa-desa di sekitarnya. Upaya rehabilitasi lahan pasca-tambang juga terus dilakukan sebagai bagian dari komitmen untuk meminimalkan jejak ekologis.
Tantangan lain datang dari pasar global. Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, mengakui bahwa industri saat ini sedang menghadapi tekanan harga akibat kelebihan pasokan global. Sejak 2020, harga nikel di London Metal Exchange (LME) telah anjlok hingga 46%.
“Untuk proyek besar, margin masih memungkinkan meski tidak setinggi sebelumnya. Namun, beberapa proyek, terutama perusahaan kecil, mulai menghadapi margin negatif,” jelas Arif saat berlangsungnya International Battery Summit (IBS) 2025, Selasa (5/8/2025).
Meski begitu, ia optimis nikel tetap menjadi bahan baku unggulan untuk baterai karena keunggulan kinerjanya.
Menurutnya, dukungan kebijakan pemerintah yang tepat, seperti penyesuaian harga listrik dan insentif fiskal, akan sangat menentukan keberlanjutan hilirisasi.
Berita Terkait
-
Danantara Gaet Perusahaan China Garap Proyek Smelter Nikel Milik INCO Senilai Rp23 Triliun
-
GNI Tanam Modal untuk Tingkatkan Kualitas SDM Lokal
-
Soal Baterai Berbasis Nikel, Gaikindo: Kalau Tidak Ekonomis, Siapa Mau Investasi?
-
ESDM Sebut Ada Perusahaan Rusia Kepincut Investasi di Sektor Minerba
-
Kuota Impor Habis di Akhir Tahun, Produsen Mobil Listrik China Harus Bangun Pabrik di Indonesia
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
- PT Blueray Cargo Milik Siapa? Perusahaan Logistik yang Seret Raffi Ahmad dalam Kasus Suap Importasi
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Bank Dunia Singgung 20 Persen Orang Kaya RI, Sebut Tak Tahu Diri
-
Penjualan Properti Anjlok, Pengembang Andalkan Kawasan Hunian-Komersial Terintegrasi
-
Bank Jakarta Permudah Layanan Warga Bayar Pajak Kendaraan
-
BTN Jakarta International Marathon 2026 Sukses Digelar, 20.500 Pelari Ramaikan Hari Pertama
-
Program JKN Bantu Dede Jalani Operasi Kista Ganglion
-
CBDK Cetak Laba Melonjak 317 Persen
-
Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
-
Pembebasan PPN Tiket Pesawat Domestik Dinilai Tingkatkan Mobilitas dan Perkuat Perekonomian Nasional
-
IHSG Melonjak 7,38% Sepekan, Asing Jual Bersih Sentuh Rp67 T Sepanjang Tahun
-
Dilema Pertamina Naikkan Harga Pertamax, Ekonom: Kalau Ditahan Terus Bisa Gerus Keuangan Negara