- Tanggul beton di laut Clincing bikin heboh.
- Diketahui pemiliknya adalah PT Karya Citra Nusantara (KCN).
- KCN pernah diperebutkan antara BUMN dan swsata soal kepemilikan saham.
Suara.com - Tanggul beton yang dikeluhkan nelayan di pesisir Cilincing, Jakarta Utara, belakangan ini menjadi sorotan publik. Tanggul tersebut, yang viral di media sosial karena dinilai menghalangi akses nelayan, ternyata milik PT Karya Citra Nusantara (KCN), sebuah perusahaan patungan yang pernah terlibat sengketa besar antara BUMN dan pihak swasta.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengonfirmasi bahwa proyek tersebut milik PT KCN dan menyatakan proyek itu memiliki izin yang lengkap. Menurut Direktur Pengendalian Pemanfaatan Ruang Laut KKP, Fajar, hasil verifikasi lapangan menunjukkan proyek ini tidak menutup akses nelayan, meskipun sebelumnya ada keluhan di media sosial yang menyebutkan tanggul sepanjang 2-3 kilometer itu memaksa nelayan memutar lebih jauh untuk mencari ikan.
"Kementerian Kelautan dan Perikanan telah melakukan verifikasi lapangan terkait keluhan nelayan Cilincing atas proyek reklamasi di area PT Karya Citra Nusantara," ujar Fajar pada Kamis (10/9/2025).
Fajar menambahkan, proyek terminal umum ini bertujuan untuk memperkuat konektivitas dan ekonomi maritim di Indonesia. KKP juga memastikan akan terus mengawasi proyek tersebut agar sesuai dengan izin dan tidak merugikan masyarakat pesisir, karena kepentingan nelayan dan kelestarian laut adalah prioritas utama.
Menariknya, di balik proyek ini, terkuak sejarah panjang PT KCN. Perusahaan ini merupakan perusahaan patungan antara BUMN, PT Kawasan Berikat Nusantara (PT KBN), dan pihak swasta, PT Karya Teruji Utama (PT KTU).
Kepemilikan sahamnya didominasi oleh pihak swasta, dengan PT KTU memegang 82,5% dan PT KBN sebagai subholding Danareksa memegang 17,5%.
Polemik antara kedua perusahaan ini mencapai puncaknya pada tahun lalu. Kejaksaan Agung (Kejagung) bahkan harus turun tangan untuk memediasi sengketa kepemilikan dan pengelolaan pelabuhan yang telah berlangsung selama 12 tahun. Mediasi yang dilakukan selama empat bulan oleh Jamdatun (Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara) berhasil menyelamatkan investasi senilai Rp 4,6 triliun di sektor maritim.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
Pilihan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
Terkini
-
KWP Bareng BNI Salurkan 2000 Paket Alat Sekolah di Tiga Daerah
-
Indonesia Gandeng Uni Emirat Arab Ajak Investasi Ketahanan Pangan Nasional
-
Airlangga Klaim Investasi Sektor Hilirisasi Terus Berkembang, Realisasi Tembus Rp 498,79 T
-
Purbaya dan DPR Sepakati KEM-PPKF 2027: Defisit APBN 2,4 Persen, Pertumbuhan Ekonomi 6,5 Persen
-
Target Penerimaan Negara Naik di 2027, Purbaya Bakal Andalkan Coretax
-
MBG Masuk Daerah 3T, PU Telah Bangun 22 SPPG
-
Tak Hanya untuk Investasi, Aset Kripto Bisa Penuhi Gaya Hidup
-
Kelola Transaksi, Begini Caranya Agar UMKM Bisa Pisahkan Dana Bisnis dan Pribadi
-
Pertamax Naik, Anak Buah Mas Bahlil 'Ganteng' Imbau Masyarakat Sadar Tak Pindah
-
Mohon Maaf Warga Serpong, PLN Matikan Listrik di Beberapa Wilayah