- Kelompok produsen minyak raksasa OPEC+ sepakat untuk menambah produksi minyak sebesar 137.000 barel per hari (bph).
- Keputusan penambahan produksi ini ternyata diwarnai ketegangan antara dua pemain kunci di OPEC+: Arab Saudi dan Rusia.
- Keputusan ini membuat pasar agak panik.
Suara.com - Organisasi negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya (OPEC+) kembali mengambil keputusan yang memicu perdebatan di pasar global.
Meskipun kekhawatiran atas kelebihan pasokan mulai menghantui, kelompok produsen minyak raksasa ini sepakat untuk menambah produksi minyak sebesar 137.000 barel per hari (bph), berlaku mulai November 2025.
Mengutip Reuters, Senin (6/10/2025) keputusan ini menambah total peningkatan target produksi mereka tahun ini menjadi lebih dari 2,7 juta bph. Pergeseran kebijakan ini dinilai sebagai upaya strategis untuk merebut kembali pangsa pasar yang sempat diambil oleh pesaing, terutama produsen minyak dari Amerika Serikat (AS).
Keputusan penambahan produksi ini ternyata diwarnai ketegangan antara dua pemain kunci di OPEC+: Arab Saudi dan Rusia.
Rusia menganjurkan peningkatan produksi yang lebih moderat. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat Rusia masih menghadapi kesulitan teknis untuk meningkatkan produksi secara signifikan akibat dampak perang dengan Ukraina. Rusia cenderung ingin menghindari tekanan lebih lanjut pada harga minyak.
Arab Saudi justru menginginkan langkah yang lebih agresif. Saudi dikabarkan lebih suka melipatgandakan angka penambahan, antara 274.000 bph hingga 548.000 bph. Saudi ingin memanfaatkan kapasitas cadangan mereka untuk mendapatkan kembali pangsa pasar lebih cepat.
Keputusan OPEC+ ini diambil di tengah sentimen pasar yang sedang lesu. Harga minyak Brent sempat turun di bawah US$65 per barel pada Jumat (3/10/2025) lalu. Penurunan ini dipicu oleh perkiraan sebagian besar analis yang memproyeksikan terjadinya kelebihan pasokan pada kuartal IV-2026. Permintaan global yang diperkirakan melambat, ditambah dengan meningkatnya suplai dari AS, membuat harga minyak terus menjauhi puncaknya tahun ini di angka US$82 per barel.
Meskipun demikian, dalam pernyataan resminya, OPEC tetap optimis. Mereka memandang prospek ekonomi global stabil dan fundamental pasar sehat, terutama karena persediaan minyak yang masih rendah. Keputusan ini menunjukkan tekad kuat OPEC+ untuk mengontrol suplai global, meski harus melawan arus sentimen pasar yang tengah dihantui momok kelebihan pasokan.
Baca Juga: Waspada Permainan Kotor, Ole Romeny Peringatkan Timnas Indonesia Soal Faktor Non Teknis
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 6 Sunscreen Pencerah di Indomaret yang Worth It Masuk Keranjang Belanja
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Kerugian Tembus Rp9,3 Triliun, OJK Ungkap Fakta Mengejutkan dari 'Love Scam'
-
Unilever Global Mau Investasi ke RI Bulan Depan, Proyek Diresmikan di Sumatra Utara
-
BTN Borong Lima Penghargaan Internasional, Transformasi Beyond Mortgage Makin Diakui
-
Di Bawah Danantara, PNM Buka Pekerjaan Puluhan Ribu Lulusan SMA/SMK dari Keluarga Prasejahtera
-
Perombakan di Manajemen Danantara, Pahala Mansury Jadi Managing Director
-
Rupiah Terkapar Lemah Hari Ini, Sempat ke Level Rp18.000
-
Omnichannel Jadi Solusi Menjawab Perubahan Perilaku Konsumen
-
Emak-emak Kecantol 'Cinta Online', Berujung Duit Rp120 Miliar Lenyap
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Marketeers Tech for Business: Brand Hari ini Harus AI Friendly