- Laporan terbaru Bitwise menunjukkan jumlah perusahaan publik yang memegang Bitcoin melonjak hampir 40% dalam satu kuartal.
- Total kepemilikan korporat kini melebihi US$117 miliar, menandakan keyakinan jangka panjang yang mendalam di tengah guncangan pasar.
- Kondisi ini secara fundamental mengurangi pasokan yang tersedia di pasar terbuka.
Suara.com - Gelombang adopsi Bitcoin (BTC) di kalangan korporasi global dilaporkan mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Data terbaru menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan kini secara kolektif memegang aset digital ini senilai lebih dari US$117 miliar, sebuah angka yang mencerminkan 4,87% dari total pasokan Bitcoin yang beredar.
Dikutip via Binance, peningkatan adopsi ini didokumentasikan secara rinci dalam Laporan Adopsi Bitcoin Korporat Kuartal III oleh Bitwise Asset Management.
Laporan tersebut—mengutip data dari BitcoinTreasuries.NET—mengungkapkan lonjakan jumlah perusahaan publik yang memasukkan BTC ke dalam neraca mereka.
Jumlahnya melonjak hampir 40% hanya dalam satu kuartal, meningkat dari 124 perusahaan pada bulan Juni menjadi 172 perusahaan pada bulan September.
Kenaikan ini menandai masuknya 48 pendatang baru di ruang kas Bitcoin korporat antara Juli dan September.
Hunter Horsley, CEO Bitwise, menggambarkan angka-angka tersebut sebagai "sama sekali luar biasa."
Melalui unggahan di platform X, ia menegaskan sentimen pasar: "Orang-orang ingin memiliki Bitcoin. Perusahaan pun demikian.” Total kepemilikan Bitcoin korporat kini telah mencapai rekor US$117 miliar, meningkat 28% dari kuartal sebelumnya, mewakili lebih dari satu juta BTC.
Para analis pasar melihat tren akumulasi ini sebagai bukti kuat dari keyakinan institusional yang semakin dalam, bahkan di tengah volatilitas harga kripto baru-baru ini.
Baca Juga: Bursa Kripto Global OKX Catat Aset Pengguna Tembus Rp550 Triliun
Rachael Lucas, seorang analis dari BTC Markets, menjelaskan bahwa akumulasi yang terus meningkat menunjukkan bahwa “Pemain Besar Semakin Bertaruh, Bukan Menghindar.”
Menurut Lucas, keputusan perusahaan-perusahaan ini bukan sekadar mengejar keuntungan jangka pendek, melainkan hasil dari pertimbangan strategis jangka panjang.
“Mereka membuat keputusan jangka panjang tentang aset digital sebagai bagian dari strategi kas mereka, bukan mengejar keuntungan jangka pendek,” ujarnya.
Partisipasi masif ini, yang melibatkan perusahaan besar dan bahkan entitas berdaulat, secara efektif melegitimasi crypto sebagai kelas aset arus utama dan meletakkan dasar bagi inovasi keuangan baru di masa depan, mulai dari pinjaman berbasis Bitcoin hingga pasar derivatif.
MicroStrategy, yang dipimpin oleh Michael Saylor, tetap menjadi pemegang korporat terbesar, kini memiliki 640.250 BTC setelah pembelian terbarunya pada 6 Oktober.
Sementara itu, MARA Holdings, penambang crypto yang berbasis di AS, menempati peringkat kedua dengan kepemilikan 53.250 BTC setelah akuisisi terbarunya awal pekan ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- 36 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 22 Januari: Klaim TOTY 115-117, Voucher, dan Gems
- Alur Lengkap Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman yang Libatkan Eks Bupati Sri Purnomo
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- Lula Lahfah Pacar Reza Arap Meninggal Dunia
- 5 Lipstik Ringan dan Tahan Lama untuk Usia 55 Tahun, Warna Natural Anti Menor
Pilihan
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
-
Fit and Proper Test BI: Solikin M Juhro Ungkap Alasan Kredit Loyo Meski Purbaya Banjiri Likuiditas
-
Dompet Kelas Menengah Makin Memprihatinkan, Mengapa Kondisi Ekonomi Tak Seindah yang Diucapkan?
Terkini
-
Gubernur Target Bank Jakarta Segera IPO Saham, Ini Persiapannya
-
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Merah Turun Drastis, Daging Sapi Naik
-
Kenaikan Harga Emas di Pegadaian, Beli Kemarin Sudah Dapat Untung Banyak
-
Hadiri WEF Davos 2026, Dirut BRI Angkat Peran Kunci UMKM ke Panggung Keuangan Global
-
Indonesia Semakin Dekat Garap Proyek Nuklir Bareng Rusia
-
Target Harga BUMI Saat Sahamnya Hancur Lebur Ditekan Aksi Jual Massal
-
Mengenal ORI029: Imbal Hasil Tetap Hingga 6 Tahun dan Cara Beli
-
Profil PT Isra Presisi Indonesia Tbk (ISAP): Pemegang Saham dan Kinerja
-
Tiket Kereta Lebaran 2026 Bisa Dibeli Hari Ini, Simak Jadwal Lengkapnya
-
Promo Tiket Pesawat Pelita Air Periode 1-28 Februari 2026