- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan kepada Menkeu bahwa ada bank BUMN yang sangat lincah menyalurkan kredit, sementara yang lain masih tertinggal jauh.
- Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengungkapkan perbedaan signifikan dalam penyerapan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) tersebut.
- Secara menyeluruh, OJK melaporkan tiga dampak positif.
Suara.com - Program penyaluran dana pemerintah sebesar Rp200 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang dicanangkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mulai membuahkan hasil, namun dengan kecepatan yang timpang.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan kepada Menkeu bahwa ada bank BUMN yang sangat lincah menyalurkan kredit, sementara yang lain masih tertinggal jauh.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengungkapkan perbedaan signifikan dalam penyerapan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) tersebut.
"Memang dari bank ke bank berbeda-beda. Ada yang sudah mendekati 70 persen, ada yang di kisaran 50 persenan, ada yang masih di bawah itu, masih di 20-30 persen. Nah ini kami sampaikan kepada Pak Menteri mengenai bagaimana kecepatan dari penyerapan di masing-masing," kata Mahendra usai bertemu Menkeu di Kementerian Keuangan, Rabu (22/10/2025).
Pertemuan OJK dan Menkeu Purbaya bertujuan memantau dampak dari 'guyuran' dana Rp200 triliun tersebut. Secara menyeluruh, OJK melaporkan tiga dampak positif yang sesuai dengan tujuan pemerintah pertama, penempatan dana ini berhasil meningkatkan likuiditas Bank Himbara, memberikan ruang yang lebih besar bagi bank untuk menyalurkan pinjaman, kedua dengan penempatan dana pada suku bunga 4%, kebijakan ini telah memberikan momentum dan dorongan terhadap mulai bergeraknya turun tingkat suku bunga secara menyeluruh di Bank Himbara.
Dan ketiga OJK melihat penyaluran pinjaman kepada nasabah dan debitur cukup baik, yang pada gilirannya diharapkan dapat memacu pertumbuhan kredit nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Meskipun dampak positif sudah terlihat, OJK menggarisbawahi perlunya evaluasi lebih lanjut terhadap bank-bank yang lamban dalam menyerap dana. Hal ini krusial agar tujuan utama pemerintah memutar kembali roda perekonomian lewat kredit produktif dapat tercapai secara merata di seluruh bank BUMN.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Cari Dana Segar Buat Produksi Film dan Ekspansi, Emiten RAAM Mau Siapkan Rights Issue
-
Niatnya Self-Love, Kok Malah Insecure? Ini Jebakan di Balik Main Character Energy
-
Jumlah Uang Beredar Masih Bertambah, Apa Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia?
-
Drama Blokade Pantura di Alastlogo Berakhir Usai Janji Mediasi Peluru Nyasar
-
5 Weton yang Berbakat Jadi Orang Kaya Menurut Primbon Jawa, Punya Garis Tangan Emas
-
Pemkot Bandar Lampung Sulap Pedestrian Jadi Solusi Banjir
-
Sebut Dasco Dulu Provokator Sekarang Profesor, Prabowo: Co, Hati-hati Co!
-
Review Film WIND UP: The Movie, Perjuangan Manis Mengejar Mimpi Masa Remaja
-
Prabowo Singgung Londo Ireng 'Nyamar' jadi Pengamat dan Wartawan, Kok Bisa?
-
25 Ton Ikan Nila Mati Massal Akibat Letupan Belerang di Danau Batur