- OJK ungkap fakta ironis bahwa DKI Jakarta masuk dalam tiga besar provinsi dengan laporan kasus investasi bodong terbanyak di Indonesia.
- Sejak 2017 hingga Juni 2025, tercatat ada 1.107 aduan (12 persen) yang berasal dari Ibu Kota.
- Secara nasional, total kerugian masyarakat akibat investasi bodong dalam delapan tahun terakhir telah mencapai Rp142,13 triliun.
Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap fakta ironis bahwa DKI Jakarta, sebagai pusat akses informasi, justru masuk dalam tiga besar provinsi dengan laporan kasus investasi bodong terbanyak di Indonesia. Sejak 2017 hingga Juni 2025, tercatat ada 1.107 aduan (12 persen) yang berasal dari Ibu Kota.
"Walaupun di Jakarta akses informasi banyak, tinggal cari di Google legal atau ilegal, tapi ternyata masih mendominasi dalam peringkat tiga besar pengaduan investasi ilegal," kata Kepala Divisi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK Jabodebek, Andes Novytasary, dalam sebuah podcast di Jakarta, Rabu (22/10/2025).
Berdasarkan data Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas Pasti), Jawa Barat menempati peringkat pertama dengan 1.850 kasus (21 persen), diikuti oleh Jawa Timur dengan 1.115 kasus (13 persen).
Secara nasional, total kerugian masyarakat akibat investasi ilegal dalam kurun waktu delapan tahun terakhir telah mencapai angka fantastis sebesar Rp142,13 triliun.
Andes menambahkan, sejak 2017 hingga Juni 2025, Satgas Pasti telah menghentikan kegiatan 13.228 entitas ilegal. Dari jumlah tersebut, 1.811 di antaranya merupakan investasi bodong, sementara sisanya adalah pinjaman online ilegal (11.166) dan gadai ilegal (251).
Menurut Andes, ada dua penyebab utama maraknya korban investasi ilegal. Pertama, adanya kesenjangan antara literasi keuangan masyarakat (66 persen) dengan tingkat penggunaan produk keuangan (80 persen).
"Ini menunjukkan masyarakat cenderung lebih dulu menggunakan produk dan layanan keuangan, tapi tidak memahami manfaat dan risikonya," jelasnya.
Penyebab kedua adalah faktor gaya hidup dan tekanan sosial, di mana banyak orang tergiur karena tidak ingin ketinggalan tren atau khawatir dianggap ketinggalan zaman jika tidak ikut berinvestasi. (Antara)
Baca Juga: Jakarta Krisis Lahan Kuburan! Pramono Pertimbangkan Pemakaman Vertikal
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Surya Paloh Titip Masa Depan Indonesia ke Anak Muda: Tak Bisa Lagi Berharap pada Generasi Tua
-
Sempat Kabur ke Depok, Begal Driver Lalamove di Gunung Masigit Akhirnya Diringkus Polisi
-
Polresta Solo Amankan Dua Pemuda Bawa Clurit di Jebres, Ini Kronologinya
-
Pofesi HR Kini Tak Hanya Urus Administrasi, Tapi Juga Menuju Mitra Strategis Bisnis
-
Waketum PSSI Ratu Tisha Kenalkan Liga Universitas Coca-Cola di Forum PBB
-
Liburan ke Bali Sambil Nonton Festival Musik, Ini Deretan Destinasi Seru di Bali Selatan
-
Prananda Paloh Resmi Pimpin Garda Pemuda NasDem, Surya Paloh Beri Pesan Menyentuh
-
Mengapa Banyak Proyek AI di Perusahaan Indonesia Mandek? Ternyata Bukan Salah Teknologinya
-
Keluar dari 'Zona Tidak Aman', Sarwendah Pilih Tinggalkan Rumah Gono-gini Ruben Onsu
-
Sambut Minat Besar Investor, PLN Siapkan Kontrak Jangka Panjang untuk Akselerasi Proyek PSEL