- Rupiah bukan satu-satunya mata uang yang melemah di awal pekan ini.
- Kondisi ekonomi dan politik Amerika Serikat berpengaruh pada pelemahan rupiah.
- Sementara di dalam negeri ekspansi manufaktur Indonesia yang berlanjut dalam tiga bulan terakhir membantu rupiah untuk bertahan.
Suara.com - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada Senin sore ini (3/11/2025). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot sore Senin (3/12/2025) ditutup di level Rp 16.676 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 0,27 persen atau 45 poin.
Di saat yang sama dolar Amerika Serikat juga terpantau turun 0,02 persen ke posisi 99,78.
Rupiah bukan satu-satunya mata uang yang melemah di awal pekan ini. Yen Jepang misalnya melemah 0,11 persen, dolar Hong Kong melemah 0,02 persen, rupee India melemah 0,01 persen dan dolar Taiwan melemah 0,28 persen.
Sementara di Asia Tenggara, peso Filipina melemah 0,08 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,21 persen, baht Thailand melemah 0,24 persen dan dolar Singapura melemah 0,10 persen.
Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyebutkan pelemahan rupiah disebabkan dua faktor dari global dan domestik. Salah satunya, The Fed telah memutuskan untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pekan lalu, namun komentar Ketua Fed Jerome Powell telah meredam optimisme investor.
Nada kehati-hatiannya, yang juga disuarakan oleh pejabat The Fed lainnya, telah mendorong pasar untuk mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga lagi pada Desember 2025. Dengan kondisi tersebut, indeks dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
Shutdown pemerintah AS yang kini telah memasuki pekan kelima juga menyebabkan melemahnya rupiah. Shutdown telah menyebabkan rilis data ekonomi utama AS ditunda dan meningkatkan kekhawatiran atas dampaknya terhadap perekonomian secara lebih luas.
Selain itu konflik Rusia - Ukraina juga masih berpengaruh besar. Ibrahim mengatakan ada kekhawatiran gangguan pasokan energi setelah Ukraina menyerang salah satu pelabuhan minyak utama Rusia di Laut Hitam. Serangan itu merupakan bagian dari strategi Kyiv untuk menghambat upaya perang Rusia dengan menyerang infrastruktur energinya.
Lalu dari dalam negeri, ekspansi manufaktur Indonesia berlanjut dalam tiga bulan terakhir. Pada Oktober 2025, Purchasing Managers Index atau PMI manufaktur Indonesia mencapai level 51,2 atau lebih tinggi dari bulan sebelumnya 50,4.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Stagnan Pada Awal Pekan Ini
Laporan terbaru S&P Global melaporkan angka PMI menunjukkan kondisi manufaktur yang stabilnya dari segi produksi, peningkatan aktivitas pembelian, serta penyerapan tenaga kerja.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Asosiasi Bisnis RI - Filipina Resmi Terbentuk, Fokus Atasi Hambatan Dagang
-
Apa itu Bond Stabilization Fund yang Mau Dikerahkan untuk Stabilkan Rupiah?
-
Kisah Bambang Jadi Agen BRILink Nomor 1 di Klaten, Dari Ngontrak hingga Antarkan Anak ke Jepang
-
Dikuras untuk Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Capai Titik Terendah Sejak 2024
-
Langgar Aturan Penagihan, Indosaku Didenda OJK Rp875 Juta
-
Sebut Beda Karakteristik, IMA Ragukan Skema Migas Diterapkan di Sektor Tambang
-
Dampingi Presiden Prabowo di KTT ASEAN, Bahlil Fokus Bahas Diversifikasi Energi
-
Dukung Ekonomi Rakyat, Pegadaian Hadirkan Solusi Keuangan Inklusif di Timor Leste
-
Harga Pangan Hari Ini Naik? Cabai Rawit Tembus Rp65 Ribu per Kg, Telur Ayam Rp31 Ribu
-
Bukan Dihapus, Ini Alasan 13 SPBU di Jabodetabek Tak Lagi Jual Pertalite