-
Trump beri dividen USD 2.000.
-
Stimulus picu kenaikan aset.
-
Ancaman inflasi jangka panjang.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada hari Minggu (9/11/2025), mengumumkan rencana kebijakan ekonomi besar yang akan memberikan "dividen" sebesar USD 2.000 kepada sebagian besar warga Amerika.
Dana ini disebut berasal dari pendapatan yang dikumpulkan melalui kebijakan tarif yang diterapkan pemerintahannya.
“Dividen setidaknya USD 2.000 per orang, tidak termasuk individu berpenghasilan tinggi, akan dibayarkan kepada semua orang,” kata Trump melalui platform Truth Social.
Pengumuman ini datang di tengah perdebatan sengit mengenai legalitas kebijakan tarif tersebut. Saat ini, Mahkamah Agung AS sedang mendengarkan argumen mengenai keabsahan tarif tersebut.
Menariknya, prediksi pasar taruhan menunjukkan sebagian besar trader bertaruh melawan persetujuan Mahkamah Agung.
Probabilitas Persetujuan di Mahkamah Agung: Traders di Kalshi menempatkan peluang persetujuan kebijakan ini hanya sebesar 23%, sementara traders di Polymarket memberikan peluang 21%.
Menanggapi keraguan tersebut, Trump berargumen mengenai otoritas presiden: “Presiden AS diizinkan, dan sepenuhnya disetujui oleh Kongres, untuk menghentikan semua perdagangan dengan negara asing—yang jauh lebih memberatkan daripada tarif—dan melisensikan negara asing, tetapi tidak diizinkan untuk mengenakan tarif sederhana pada negara asing, bahkan untuk tujuan keamanan nasional?”
Dampak Stimulus Terhadap Pasar Aset dan Kripto
Pengumuman mengenai potensi stimulus ekonomi ini disambut meriah oleh investor dan analis pasar.
Baca Juga: 3 Fakta Pertemuan Xi Jinping-Trump: China dan AS 'Mesra', Perang Dagang Berakhir Damai?
Mereka melihat langkah ini sebagai stimulus ekonomi langsung yang dapat mendorong harga cryptocurrency dan aset lainnya, karena sebagian dari dana stimulus tersebut diprediksi akan mengalir ke pasar investasi.
Analis investasi di The Kobeissi Letter memperkirakan bahwa sekitar 85% orang dewasa di AS akan menerima cek stimulus USD 2.000 tersebut, berdasarkan data distribusi dari cek stimulus yang diberikan selama era pandemi COVID-19.
Anthony Pompliano, seorang investor dan analis pasar, bereaksi terhadap pengumuman Trump dengan optimis: “Saham dan Bitcoin hanya tahu untuk naik sebagai respons terhadap stimulus.”
Meskipun diyakini dapat meningkatkan harga aset dalam jangka pendek, The Kobeissi Letter turut memperingatkan tentang dampak negatif jangka panjang dari stimulus yang diusulkan ini.
Peringatan utama adalah bahwa efek akhir dari stimulus ekonomi jenis apa pun adalah inflasi mata uang fiat dan hilangnya daya beli.
Cek stimulus yang diusulkan tersebut dipastikan akan menambah beban utang nasional dan berpotensi mengakibatkan inflasi yang lebih tinggi seiring berjalannya waktu.
Analis Bitcoin, Simon Dixon, memperkuat pandangan ini, menyatakan: “Jika Anda tidak menempatkan USD 2.000 tersebut dalam aset, uang itu akan terinflasi atau hanya digunakan untuk membayar bunga utang dan dikirim ke bank.”
Dengan demikian, bagi banyak investor, mengalihkan dana stimulus ke aset seperti saham dan Bitcoin dilihat sebagai strategi defensif untuk menjaga nilai kekayaan dari erosi inflasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
B50 Resmi Jalan, Ekonom UGM Ingatkan Ancaman APBN, Minyak Goreng hingga Deforestasi
-
Danantara Belum Juga Rilis Laporan Keuangan 2025
-
Kemendag Tagih PLN Penuhi Hak Pelanggan Korban Pemadaman, Kompensasi Masih Tunggu Investigasi
-
Saham Perbankan Masih Menarik, BBCA dan BMRI Layak Dikoleksi
-
Mengapa Investor Mulai Menjauh dari Indonesia?
-
Pedagang Online Dukung Kewajiban NIB, Tapi Minta Pemerintah Ikut Atur Potongan Komisi E-commerce
-
PNM Borong GCG Awards 2026, Layani 23,3 Juta Perempuan Prasejahtera hingga Mei
-
Neraca Perdagangan Indonesia Defisit 1,61 Miliar Dolar AS pada Mei 2026, BI Bakal Lakukan Ini
-
Dirut Pos Indonesia Daud Joseph Secara Tiba-tiba Mundur
-
BBM B50 Resmi Mulai Didistribusikan ke SPBU, Peluncuran Tinggal Tunggu Prabowo