- Bank Indonesia menyebutkan kebijakan redenominasi rupiah perlu persiapan yang lama.
- Bank Indonesia mengatakan alih-alih memikirkan redenominasi, pihaknya akan lebih fokus menjaga stabilitas ekonomi.
- Kemenkeu menargetkan, RUU Redenominasi akan rampung paling lambat pada tahun 2027.
Suara.com - Bank Indonesia menyebutkan kebijakan redenominasi rupiah perlu persiapan yang lama. Hal ini disampaikan menanggapi rencana Menteri Keuangan Purbaya Yudha Sadewa mengenai redenominasi rupiah.
Redenominasi rupiah menyederhanakan mata uang rupiah seperti dari Rp 1.000 menjadi Rp 1. Gubernur BI Perry mengatakan pihaknya lebih fokus untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi, ketimbang melaksanakan redenominasi dalam waktu dekat.
"Kami saat ini lebih fokus jaga stabilitas dan dorong pertumbuhan ekonomi. Fokus kami seperti itu, apalagi redenominasi butuh timing dan persiapan lebih lama,” kata Perry dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Sebelumnya, Pemerintah memanaskan wacana penyederhanaan mata uang nasional atau Redenominasi Rupiah.
Rencana ini secara resmi diusulkan melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Harga Rupiah yang masuk dalam kerangka regulasi prioritas Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Rencana pembahasan RUU Redenominasi Rupiah tercantum jelas dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 70 Tahun 2025 tentang Rencana Strategis Kementerian Keuangan Tahun 2025-2029.
Dalam beleid yang ditetapkan pada 10 Oktober 2025 itu, RUU Redenominasi menjadi satu dari empat RUU yang disiapkan Kemenkeu, di bawah tanggung jawab Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb).
Kemenkeu menargetkan, RUU Redenominasi akan rampung paling lambat pada tahun 2027.
Redenominasi Banyak Ditentang
Baca Juga: Ketua Banggar DPR Minta Pemerintah Tak Gegabah Lakukan Redenominasi
Rencana Menteri Purbaya ini kurang begitu populer di kalangan pemerintah dan DPR. Pekan ini Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Said Abdullah mengatakan rencana redenominasi tidak boleh dijalankan secara gegabah karena akan berdampak luas.
Ia mengatakan pembahasan redenominasi idealnya dimulai pada 2027. Karenanya ia menerangkan redenominasi memang dalam Prolegnas atau program legislasi nasional jangka panjang, namun belum untuk tahun 2025-2026.
"Kalau Prolegnas dalam jangka panjang nampaknya masuk di DPR. Namun untuk tahun 2025-2026 itu belum," kata Said di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (11/11/2025).
"Dan pemerintah nampaknya merevisi ulang pernyataannya bahwa itu baru akan dilakukan di tahun 2027. Bagi saya baik, 2027 karena perlu sosialisasi yang intensif, termasuk literasi keuangan kita yang masih rendah di masyarakat," tegasnya.
Ketika ditanya mengenai urgensi redenominasi saat ini, Said menjawab lugas.
"Urgensi tidak. Pada tingkat kebutuhan ke depan barangkali iya," katanya.
Berita Terkait
-
BI: Waspadai Inflasi Akhir Tahun, Harga Pangan Mulai Melonjak
-
COO Danantara Minta Publik Tak Khawatir Redenominasi: Sudah Dipikirkan dengan Baik
-
Ketua Banggar DPR Pastikan Redenominasi Sudah Masuk Prolegnas
-
Danantara Tidak Was-was Menkeu Purbaya Mau Redenominasi Rupiah
-
Rupiah Melempem Lawan Dolar AS pada Penutupan Selasa Sore
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Bukan Cuma di Indonesia, MSCI Juga Bersih-bersih Indeks yang Berdampak ke Bursa Negara Lain
-
LPDB Koperasi Hadir di Pontianak, Dorong UMKM dan Koperasi Naik Kelas
-
BI Jamin Uang Palsu Kini Lebih Mudah Dideteksi, Ini Ciri-cirinya
-
Solar yang Tersedia di SPBU Shell Berasal dari Pertamina
-
Pelemahan Rupiah Belum Beri Dampak pada Harga Pangan
-
Perhatian! CNG Bukan Pengganti LPG 3 KG
-
Ancaman Phishing Makin Brutal, Investor Mulai Pilih Sekuritas dengan Proteksi
-
OJK Optimistis Banyak Emiten Indonesia Akan Masuk Index MSCI
-
Pemerintah Gaspol Naikkan Kelas UMKM, Sertifikasi hingga HAKI Dipermudah
-
GIAA Lapor: Kinerja Menguat di 3 Bulan Pertama 2026, Rugi Bersih Dipangkas 45 Persen