- Pasar keuangan global, termasuk kripto, merespons positif setelah Senat AS menyetujui penghentian shutdown.
- Kabar berakhirnya penutupan pemerintah memicu kenaikan harga Bitcoin (BTC).
- Investor kini memproyeksikan potensi bullish breakout bagi BTC jika likuiditas kembali mengalir.
Suara.com - Pasar keuangan global, termasuk sektor mata uang kripto, bereaksi positif terhadap kabar bahwa penutupan kegiatan pemerintahan (government shutdown) di Amerika Serikat (AS) akan segera berakhir.
Spekulasi mengenai potensi lonjakan harga Bitcoin (BTC) mencuat, mengingat aset kripto utama ini secara historis menunjukkan respons kuat pasca-resolusi shutdown sebelumnya.
Menurut jurnalis Nick Sortor, Senat AS telah menyetujui Continuing Resolution dengan hasil suara 60 banding 40, membuka jalan bagi berakhirnya shutdown AS yang telah berlangsung selama 41 hari—periode terpanjang dalam sejarah modern negara tersebut.
Meskipun RUU tersebut masih memerlukan persetujuan final dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan tanda tangan dari Presiden sebelum resmi berlaku, proses ini diperkirakan akan rampung dalam beberapa hari ke depan.
Ekspektasi positif ini didukung data dari Polymarket, di mana lebih dari 90% investor yakin bahwa shutdown akan resmi berakhir pekan ini.
Kabar positif ini sendiri memberikan dorongan psikologis yang signifikan ke pasar. Hal ini memicu kenaikan harga saham AS, emas, perak, dan yang paling mencolok, juga harga Bitcoin (BTC).
Ekonom Peter Schiff mencatat, "Berita bahwa shutdown pemerintah akan segera berakhir mendorong reli di saham, emas, perak, dan Bitcoin. Kesepakatan ini berarti Washington kembali beroperasi normal. Defisit dan inflasi akan meningkat, dan investor akan terus mencari alternatif dari dolar AS yang terdepresiasi,” katanya, seperti dilansir TradingView, Kamis (13/11/2025).
Analisis historis menguatkan spekulasi ini. Data menunjukkan bahwa Bitcoin mencatat kenaikan signifikan sebesar 96% dan 157% setelah penyelesaian shutdown pada Februari 2018 dan Januari 2019.
Meskipun reli tersebut mungkin bertepatan dengan fase pemulihan pasar yang lebih luas, jika sejarah berulang, lonjakan serupa diperkirakan terjadi dengan jeda beberapa pekan, bergantung pada kondisi ekonomi makro saat itu.
Baca Juga: Prediksi Bitcoin: Ada Proyeksi Anjlok US$ 56.000, Analis Yakin Sudah Capai Harga Bottom
Persetujuan Senat memberikan sinyal psikologis positif, mendorong ekspektasi kembalinya likuiditas di pasar. Ini menyebabkan investor kembali beralih ke aset berisiko tinggi (risk-on) seperti Bitcoin.
Dalam jangka pendek, BTC berpotensi mempertahankan momentum naiknya jika langkah legislatif final segera tuntas, memicu gelombang optimisme di pasar global.
Saat ini, situasi makro mencerminkan pola serupa dengan fase sebelum reli besar Bitcoin pada tahun 2020. Ini kembali menegaskan sifat ganda Bitcoin sebagai aset lindung nilai terhadap depresiasi dolar sekaligus instrumen investasi berisiko tinggi.
Saat ini, Bitcoin berada di titik krusial antara potensi bullish breakout (kenaikan signifikan) atau justru bull trap (jebakan kenaikan palsu) jangka pendek.
Apabila kebijakan fiskal baru terealisasi dan likuiditas benar-benar mengalir kembali ke pasar, BTC dapat memulai fase pertumbuhan baru.
Namun, jika proses kebijakan tertunda atau direvisi, pasar kripto dapat mengalami koreksi sementara sebelum memasuki fase akumulasi ulang menuju pertumbuhan jangka panjang.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Habib Rizieq Shihab: Umat Islam Sunni dan Syiah Harus Bersatu Lawan AS-Israel
-
Kepulangan Jenazah Praka Farizal dari Lebanon ke Kulon Progo Diestimasikan Tiba Jumat Lusa
-
Update Tarif Listrik per kWh April 2026, Apakah Ada Kenaikan Harga?
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
Terkini
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
-
Inflasi Maret 2026 Tembus 0,41 Persen, Kenaikan Harga Pangan dan Bensin Jadi Biang Keroknya
-
Isu Harga BBM Melejit, Warga Jakarta 'Panic Buying' Pertamax Hingga Ludes!
-
Harga Avtur Naik 70%, Nasib Tarif Tiket Pesawat Gimana?
-
LPDB Koperasi Perkuat Skema Penyaluran Dana Bergulir untuk Dukung Operasional KDKMP
-
Punya 9,8 Juta Pengguna, Indodax Perkuat Literasi Kripto di Indonesia
-
Tarif Listrik Tak Naik Hingga Juni 2026
-
Timur Tengah Bergejolak, Petrokimia Gresik Bicara Nasib Soal Pasokan Sulfur
-
Laba Bersih PTBA Terkoreksi 42,74 Persen di Tengah Pembengkakan Beban Operasional
-
Sektor Swasta Ini Diharamkan untuk Ikut WFH oleh Pemerintah