- Menteri ESDM menyatakan ada pihak terganggu akibat peningkatan produksi migas nasional yang mencapai 605 ribu barel per hari pada APBN 2025.
- Peningkatan produksi migas ini menyumbang sekitar Rp270 triliun terhadap Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun 2025.
- Kenaikan produksi migas dalam negeri berdampak signifikan mengurangi kebutuhan devisa negara untuk impor BBM dan LPG.
Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebut ada pihak yang terusik dengan peningkatan produksi minyak dan gas (migas) dalam negeri.
Tercatat target lifting minyak dan gas bumi dalam APBN 2025 telah tercapai dengan rata-rata 605 ribu barel per hari.
Angka itu meningkat jika dibanding capaian lifting pada 2024 yang tercatat sebesar 580 ribu barel per hari.
"Dan saya pikir ini memang pasti banyak yang akan merasa terganggu lah. Karena begitu produksi naik, impor yang kita lakukan, pasti pengusaha yang melakukan impor itu merasa terganggu. Dan maknanya bagi saya biasa-biasa saja," jelas Bahlil yang dikutip dari acara talk show di TV One, Rabu (31/12/2025).
Bahlil pun menyebut, dengan peningkatan produksi migas dalam negeri berkontribusi terhadap pendapatan negara.
Dia mengungkap sektor ESDM menyumbang 10 sampai dengan 12 persen pendapatan negara bukan pajak (PNBP). Pada 2025, PNBP dari ESDM tercatat sekitar Rp270 triliun.
"Kalau pendapatan negara kita itu taruh katakanlah Rp3.000 triliun, berarti kurang lebih sekitar 15-16 persen itu dari sektor ESDM. Itu termasuk PPN, pajak badan, dan PNBP. Tapi PNBP yang paling besar dari sektor ESDM," kata Bahlil.
Selain berdampak terhadap pendapatan negara, peningkatan lifting migas juga berkontribusi terhadap penghematan devisa.
"Kedua, kita mengurangi devisa kita. Impor kita itu kan setiap tahun, kita melakukan impor BBM dengan LPG, itu hampir sekitar Rp500 triliun kurang lebih. Berapa besar devisa kita setiap tahun? Sementara sumber daya kita punya, bukan tak punya," bebernya.
Baca Juga: Bahlil Sebut Lifting Minyak 2025 Penuhi Target: 605 Ribu Barel per Hari
Bahlil pun menyebut, pengelolaan sektor migas berbeda dengan pertambangan lain. Dalam pengelolaannya membutuhkan waktu yang lama hingga dapat berproduksi. Untuk itu, dibutuhkan kecepatan dalam mengeksekusi.
"Jadi persoalan di ESDM itu tidak hanya pada konteks bagaimana memahami konsep secara teoritis, tapi juga harus punya keberanian untuk mengeksekusi. Karena berhadapan langsung dengan pengusaha, masyarakat, dan kebutuhan negara," tegasnya.
Berita Terkait
-
Gakkum ESDM Buka Suara Soal Viral Aktivitas Tambang di Gunung Slamet
-
Target Mandatori Semester II-2025, ESDM Mulai Uji Coba B50 ke Alat-alat Berat
-
Jurus Bahlil Amankan Stok BBM di Wilayah Rawan Bencana Selama Nataru
-
Pelanggan Pertamina Kabur ke SPBU Swasta, Kementerian ESDM Masih Hitung Kuota Impor BBM
-
Kementerian ESDM Larang SPBU Swasta Stop Impor Solar di 2026
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
-
Kompak Turun: Ini Harga BBM di Pertamina hingga Shell
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
Terkini
-
Pemerintah Didesak Rombak Kebijakan Ekonomi RI Berbasis Manusia
-
Penjual Marketplace Kena PPh Mulai 1 Agustus 2026, Ini Kelompok Seller yang Bebas Pajak
-
MMA Marketing Talk 2026 Siap Tetapkan Arah Industri Pemasaran dan Periklanan Indonesia
-
Piala Dunia, Pemerasan Ekonomi, Judi dan Nyawa yang Dipertaruhkan
-
Marketplace Terapkan Pajak Otomatis Bagi Penjual Online, UMKM Ikut Kena?
-
Kenaikan Harga Pertamax Dorong Inflasi 0,44 Persen pada Juni
-
IHSG Akhirnya Ijo di Sesi I, BBCA dan TPIA Jadi Penopang
-
BBCA Jadi Bidikan Asing, Dana Rp1,19 triliun Lenyap Selama Dua Hari
-
Sambut ARTJOG 2026 di Yogyakarta, BRImo Hadirkan Kemudahan Pembelian Tiket: Diskon Sampai 15%
-
Tetap Berlaku Juli, Peresmian B50 Tunggu Jadwal Prabowo