Bisnis / Keuangan
Selasa, 18 November 2025 | 15:08 WIB
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan penerbitan obligasi dilakukan untuk menambal modal, setelah perseroan menyerahkan Rp 6 triliun ke Bank Syarian Nasional (BSN). [Dok BTN]
Baca 10 detik
  • Bank Tabungan Negara (BTN) akan menerbitkan obligasi maupun pinjaman untuk menambah modal, setelah unit usaha syariah diserahkan ke Bank Syariah Nasional (BSN).
  • Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengakui bahwa CAR akan mengalami penurunan setelah perseroan menambah modal ke BSN sekitar Rp6 triliun. 
  • BTN pada hari ini telah resmi melepas unit usaha syariah ke BSN.

Suara.com - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk akan memperkuat permodalan melalui penerbitan instrumen Tier 2 berupa obligasi atau bonds maupun pinjaman setelah unit usaha syariah (UUS) diserahkan ke Bank Syariah Nasional (BSN).

Penerbitan obligasi dan pinjaman itu ditargetkan efektif sebelum akhir 2025, agar rasio kecukupan modal atau CAR terjaga di kisaran 17-18 persen

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengakui bahwa CAR akan mengalami penurunan setelah perseroan menambah modal ke BSN sekitar Rp6 triliun. Oleh sebab itu, penerbitan instrumen modal pelengkap (Tier 2) menjadi langkah mitigasi untuk menjaga kecukupan modal.

“Sementara rasio-rasio lain juga sudah kita hitung, kalau UUS dikeluarkan, apa yang terjadi, masih dalam range rasio-rasio keuangan yang wajar,” kata Nixon usai RUPSLB di Menara BTN, Jakarta, Selasa (18/11/2025).

Usai pemisahan (spin off), Nixon juga mengatakan bahwa perseroan akan kehilangan aset UUS atau BTN Syariah di mana hal ini tecermin dalam laporan keuangan perseroan mendatang. Di sisi lain, aset Bank Syariah Nasional (BSN) akan bertambah setelah digabungkan dengan BTN Syariah.

“Tapi nanti secara konsolidasi akan sama. Sehingga mereka menjadi entitas yang terpisah, yang berdiri sendiri, yang memiliki kewenangan sendiri untuk mengelola korporasi perusahaan seperti biasa,” kata Nixon.

Mengenai prospek ke depan, BTN memperkirakan penyaluran kredit tumbuh di kisaran 8 persen hingga akhir tahun. Kinerja kredit tetap ditopang oleh kredit sektor perumahan sebagai motor utama.

Di samping itu, perseroan juga terus mengembangkan bisnis segmen lain termasuk consumer banking untuk mendukung kinerja kredit perseroan.

Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tetap bertahan pada angka dua digit. Apabila dana pemerintah melalui penempatan SAL sebesar Rp25 triliun dikeluarkan dari neraca, Nixon memastikan bahwa DPK BTN tetap tumbuh baik di kisaran 9-10 persen.

Baca Juga: BTN Syariah Akan Berubah Jadi Bank Syariah Nasional, Layani Tabungan Emas Hingga Haji

Adapun non-performing loan (NPL) pada akhir tahun diharapkan dapat menurun dari posisi September 2025.

“Kita melihat bahwa ex-Covid sudah berlalu, dan mudah-mudahan tahun depan kondisi kesehatan bank semakin baik lagi, hingga ini bisa mendorong pertumbuhan lebih tinggi lagi di tahun depan,” kata Nixon.

Per akhir September 2025, kredit dan pembiayaan BTN (konvensional dan syariah) tumbuh sebesar 7,0 persen year on year (yoy) menjadi Rp381,03 triliun.

Sedangkan total penghimpunan DPK BTN, termasuk UUS, mencapai Rp429,92 triliun atau tumbuh 16,0 persen yoy.

Adapun total aset BTN tercatat sebesar Rp510,85 triliun, naik 12,2 persen yoy dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp455,10 triliun.

Dengan pertumbuhan positif di sisi pendanaan dan pembiayaan, BTN mencatat loan to deposit ratio (LDR) di level 88,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 96,0 persen.

Load More