Bisnis / Makro
Minggu, 22 Februari 2026 | 09:55 WIB
PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI)

Suara.com - PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk, yang dikenal dengan kode emiten BIPI, merupakan salah satu pilar utama dalam industri energi di Indonesia.

Fokus bisnis perusahaan ini terletak pada penyediaan infrastruktur energi terintegrasi.

Rekam Jejak: Transformasi dari Migas ke Batu Bara

Perjalanan BIPI dimulai pada tahun 2007 dengan identitas awal sebagai PT Macau Oil Engineering and Technology.

Pada masa awal berdirinya, perusahaan ini aktif dalam sektor produksi minyak dan gas bumi, termasuk menjalin kemitraan strategis dengan PT Pertamina EP untuk mengelola lapangan Bangkudulis di Kalimantan Timur.

Namun, seiring dengan dinamika pasar energi global, perseroan melakukan reposisi bisnis secara besar-besaran. Hingga akhir tahun 2025, BIPI telah memantapkan posisinya untuk berfokus sepenuhnya pada komoditas batu bara.

Saat ini, emiten ini membawahi empat anak perusahaan yang mengelola lini bisnis dari hulu ke hilir, meliputi:

  • Penyewaan Infrastruktur: Pengelolaan pelabuhan khusus dan fasilitas penghancur batu bara (crushing facilities).
  • Pengembangan Jaringan: Pembangunan infrastruktur logistik batu bara.
    Eksploitasi: Produksi langsung melalui tambang yang tersebar di Kabupaten Lahat (Sumatera Selatan) dan Samarinda (Kalimantan Timur).

Struktur Kepemilikan Saham BIPI (Posisi 2025)

Berdasarkan laporan registrasi pemegang efek yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, komposisi pemilik BIPI per 31 Agustus 2025 didominasi oleh kombinasi perusahaan investasi dan partisipasi publik yang luas:

Baca Juga: BEI Gembok Saham WIKA, Ini Alasannya

PT Indotambang Perkasa: Selaku pemegang saham pengendali, entitas ini mendekap 12,35 miliar lembar saham atau sekitar 19,39%.

CGS-CIMB Securities: Memiliki porsi signifikan sebesar 11,39 miliar lembar saham atau setara 17,89%.

PT KB Valbury: Menguasai sekitar 5,07% kepemilikan.

Masyarakat (Publik): Porsi kepemilikan masyarakat non-warkat mencapai 57,63%, menunjukkan tingkat likuiditas saham yang sangat tinggi di pasar modal.

Manajemen: Michael Wong (jajaran Direksi) tercatat memiliki sekitar 0,02% saham secara personal.

Adapun sosok di balik kendali strategis perseroan atau penerima manfaat akhir (ultimate beneficial owner) adalah Konsorsium Halim Jusuf.

Halim Jusuf dikenal sebagai tokoh bisnis senior dengan pengalaman panjang di sektor keuangan dan instrumen investasi di Indonesia.

BIPI resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 11 Februari 2010. Saat itu, perseroan melepas 11,50 miliar lembar saham kepada publik dengan harga penawaran sebesar Rp140 per saham.

Aksi korporasi tersebut berhasil menghimpun dana segar senilai Rp1,61 triliun, yang kemudian menjadi modal dasar bagi ekspansi besar-besaran perusahaan di sektor infrastruktur energi hingga saat ini.

Kontributor : Rizqi Amalia

Load More