-
Saham bank BUMN serempak turun meski kemenkeu suntik likuiditas Rp76 T.
-
BMRI, BBRI, BBNI & BRIS kompak merah di tengah injeksi modal negara.
-
Tambahan dana Rp76 T diberikan ke BMRI, BBRI, BBNI masing-masing Rp25 T.
Suara.com - Sebuah anomali terjadi di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat pagi (21/11/2025). Saham-saham bank milik negara yang menjadi bagian dari ekosistem BPI Danantara justru berguguran serempak di zona merah.
Ironisnya, pelemahan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan injeksi likuiditas negara dalam jumlah jumbo senilai Rp76 triliun.
Data pasar mencatat bahwa euforia suntikan modal tersebut gagal menarik minat buyer. Pasar tampaknya lebih fokus pada sentimen lain, mengabaikan janji pemerintah untuk memperbesar likuiditas dan mendorong pertumbuhan kredit.
Empat raksasa perbankan, termasuk bank syariah terbesar, kompak tunduk di bawah tekanan jual yang dominan:
- Bank Mandiri (BMRI): Saham terkoreksi 0,4% ke level Rp4.920. Meski volume transaksi mencapai 35,1 juta saham, tekanan ask yang kuat di harga penutupan menunjukkan pelaku pasar cenderung melepas kepemilikan.
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI): Turun 0,50% ke Rp3.970. Dengan volume perdagangan 29,5 juta saham, bid dan ask yang berdekatan menandakan pertarungan sengit antara seller dan buyer di harga rendah.
- Bank Negara Indonesia (BBNI): Mengalami ambles terdalam, terkoreksi 1,12% ke Rp4.410. Penurunan yang signifikan ini menunjukkan keraguan pasar terhadap prospek jangka pendek BBNI meskipun menjadi salah satu penerima dana terbesar.
- Bank Syariah Indonesia (BRIS): Bank syariah pelat merah ini ikut melemah 1,22% ke Rp2.420, mengikuti tren negatif sektor Himbara.
Injeksi dana segar sebesar Rp76 triliun, yang ditempatkan pada 10 November 2025, bertujuan mulia: menambah fuel bagi perbankan, khususnya Bank Mandiri, BNI, dan BRI yang masing-masing mendapat tambahan Rp25 triliun, serta Bank DKI yang menerima Rp1 triliun. Harapannya, dana ini akan disalurkan sebagai kredit ke sektor riil untuk menopang ekonomi.
Namun, koreksi serempak saham perbankan ini memunculkan pertanyaan kritis: Mengapa investor justru panik di tengah berita baik?
Salah satu sentimen negatif yang mungkin membebani adalah kekhawatiran pasar terhadap kualitas aset di masa depan. Meskipun likuiditas bertambah, investor mungkin membaca sinyal bahwa penempatan dana negara ini adalah upaya antisipatif terhadap risiko yang mungkin timbul, atau adanya tekanan agar bank menyalurkan kredit ke sektor-sektor yang return-nya belum terjamin.
Selain itu, penurunan tajam dalam penerimaan pajak bulan Oktober 2025 yang merosot 3,85% Year-on-Year (YoY) juga ikut membayangi sentimen pasar. Perlambatan penerimaan negara bisa menjadi indikasi bahwa pertumbuhan korporasi yang menjadi klien utama bank BUMN sedang menghadapi tantangan, sehingga prospek laba bank di kuartal berikutnya menjadi kurang meyakinkan.
Baca Juga: Neraca Pembayaran Masih Alami Defisit 6,4 Miliar Dolar AS, Bagaimana Kondisi Cadangan Devisa?
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Sedan Bekas di Bawah 30 Juta Mudah Dirawat, Performa Juara!
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- Bupati Mempawah Lantik 25 Pejabat, Berikut Nama-namanya
- 4 Rekomendasi HP Murah Layar AMOLED dengan Baterai Jumbo Terbaik Januari 2025
- Stargazer vs Xpander: 10 Fakta Penentu MPV 7 Seater Paling Layak Dibeli
Pilihan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
5 HP Infinix Memori 256 GB Paling Murah untuk Gaming Lancar dan Simpan Foto Lega
-
John Herdman Teratas Soal Pelatih ASEAN dengan Bayaran Tertinggi
-
Coca-Cola Umumkan PHK Karyawan
-
Unilever Jual Sariwangi ke Grup Djarum Senilai Rp1,5 Triliun
Terkini
-
Insentif Rumah Diperpanjang Purbaya, Menperin Ungkap Efeknya Bagi Industri
-
Bangkrut, OJK Cabut Izin Usaha PT Bank Perekonomian Rakyat Suliki Gunung Mas
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
Rupiah Masih Lemas, Berikut Harga Kurs Dolar AS di Mandiri, BNI, BRI dan BCA
-
UU APBN 2026: Defisit Anggaran Dipatok 2,68% Tahun Ini
-
UU APBN 2026: Belanja Negara Tembus Rp 3.842 Triliun
-
UU APBN 2026 Akhirnya Terbit, Penerimaan Pajak Ditarget Rp 2.693 Triliun
-
Pinjol Maucash Milik Grup Astra Tutup Usaha, Apa Penyebabnya?
-
Harga Minyak Dunia Naik Tipis: Stok AS Merosot di Tengah Ambisi Trump Kuasai Minyak Venezuela
-
Pakar Ingatkan Bahaya Kriminalisasi Kebijakan bagi Sebuah Inovasi