Bencana alam yang terjadi akhir November lalu telah menghabiskan tenaga dan sumber daya mereka (seperti ketersediaan makanan yang menipis), sambil secara implisit menuntut "negosiasi" atau intervensi darurat dari otoritas tertinggi.
Kritik dan Kondisi Darurat
Mantan Sekretaris BRR Aceh-Nias, Teuku Kamaruzzaman (Ampon Man), mendukung bahwa bendera putih itu adalah isyarat kondisi darurat yang harus direspons cepat.
Ia menggambarkan betapa parahnya kondisi di lapangan, di mana warga hidup berminggu-minggu tanpa listrik, komunikasi, BBM, dan elpiji yang melumpuhkan ekonomi dan melonjakkan harga kebutuhan pokok.
Ampon Man menyoroti keterbatasan lembaga pemerintah dalam penanganan bencana. Ia mencatat minimnya tenaga penyelamat terlatih, tiadanya distribusi logistik besar-besaran melalui udara seperti saat Tsunami 2004, dan ketiadaan pengerahan cadangan negara secara masif.
Ia mengkritik PLN dan Pertamina yang dinilai lamban merespons dengan mekanisme darurat. Baginya, kelambanan pusat ini sama saja dengan meremehkan nyawa korban, sebuah ironi yang mendorong kesimpulan pahit: Aceh harus berani berjuang dengan kekuatannya sendiri.
Oleh karena itu, pengibaran bendera putih di Aceh adalah tindakan yang secara dramatis menghubungkan sejarah simbol penyerahan diri dengan realitas darurat kemanusiaan, menuntut intervensi segera di tingkat nasional dan internasional.
Untuk diketahui, jumlah korban akibat bencana alam yang terjadi di Aceh dan Sumatra saat ini adalah 1.030 orang meninggal dunia, sementara 206 orang masih hilang. Selain itu, sekitar 7.000 warga mengalami luka-luka. Sedangkan jumlah pengungsi 608.940 orang.
Pemerintah, melalui Presiden Prabowo menegaskan, Indonesia mampu dan kuat untuk mengatasi bencana ini.
Baca Juga: Banjir Sumatera Luluh Lantahkan 70.000 Ha Sawah, Kapan Perbaikan Dimulai?
Hingga kini, pemerintah Indonesia masih belum memutuskan status bencana nasional dan belum membuka bantuan internasional untuk Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Kontributor : Rizqi Amalia
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
Terkini
-
Atasi Dampak Kekeringan, BBWS Serayu Opak Pasok Air Bersih ke Sejumlah Titik Rawan di Jateng dan DIY
-
Max Havelaar! Novel Legendaris Pelajaran SMA yang Mengguncang Belanda
-
Gubernur Khofifah Beri Kado Kemerdekaan HUT ke-81 RI: Bebaskan Pajak Daerah, Ringankan Beban Warga
-
Kabinet Bayangan: Dana MBG di Pos Pendidikan Korbankan Nasib Guru dan Sekolah
-
5 Low pH Cleanser Lokal yang Aman untuk Kulit Sensitif, Cuma Rp30 Ribuan!
-
Cushion Skintific Paling Bagus yang Mana? Ini Perbedaan Kemasan Biru, Pink, Hijau, dan Gold
-
Menemukan Ruang Sunyi dalam Selamat Menunaikan Puisi Karya Joko Pinurbo
-
Air Mawar Viva Bisa Mencerahkan Wajah? Cek Klaimnya dan Review Pengguna
-
Alarm Buat KPK! Eks Penyidik Desak Perketat Pengawasan Usai Pegawai Bocorkan Kasus
-
Imigran Ceuta Ungkap Polisi Maroko Membuka Jalur Perbatasan Spanyol Secara Sengaja