Bisnis / Makro
Selasa, 06 Januari 2026 | 17:04 WIB
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu. [Suara.com/Dicky Prastya]
Baca 10 detik
  • Kemenkeu menyatakan perekonomian Indonesia akhir 2025 tangguh, didukung manufaktur ekspansif dan inflasi terkendali.
  • Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif $38,54 miliar hingga November 2025, ekspor tumbuh 5,61 persen.
  • Inflasi tahunan 2025 terkendali pada 2,92 persen, didukung kebijakan menjaga harga pangan dan stabilitas domestik.

Suara.com - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan kalau perekonomian Indonesia pada akhir tahun 2025 menunjukkan ketahanan dalam menghadapi berbagai tekanan.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu menyebut kalau perekonomian Indonesia di penutup tahun 2025 tetap resilien, didukung aktivitas manufaktur yang ekspansif, inflasi yang terkendali, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus.

"Faktor-faktor tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di tahun 2026,” ujar Febrio, dikutip dari siaran pers, Selasa (6/1/2026).

Ia memaparkan, aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan kinerja positif di akhir tahun 2025. PMI Manufaktur Desember 2025 tercatat sebesar 51,2, ekspansif selama lima bulan berturut-turut.

"Kinerja positif ini didukung kuatnya permintaan domestik, peningkatan ketenagakerjaan, serta aktivitas pembelian bahan baku. Optimisme pelaku usaha juga menguat dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, mencerminkan keyakinan terhadap prospek sektor manufaktur ke depan," beber dia.

Dari sisi global, aktivitas manufaktur negara mitra utama Indonesia secara umum juga berada di zona ekspansif seperti Amerika Serikat (51,8), China (50,1), dan India (55,7).

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu. [Suara.com/Dicky Prastya]

Sedangkan di kawasan ASEAN, PMI manufaktur Thailand (57,4) dan Malaysia (50,1) juga menguat. Ia mengklaim ini memberikan sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia.

Sementara di November 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus 2,66 miliar Dolar AS. Ini melanjutkan tren yang telah berlangsung sejak Mei 2020.

Secara kumulatif Januari hingga November 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar 38,54 miliar Dolar AS, naik 9,30 miliar Dolar AS.

Baca Juga: Viral karena Dihujat, Patung Macan Putih Kediri Kini Jadi Magnet Wisata Dadakan!

Ekspor selama Januari hingga November 2025 tercatat sebesar 256,56 miliar Dolar AS, meningkat 5,61 persen. Peningkatan ekspor disumbang oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi 10,41 persen, mencerminkan meningkatnya nilai tambah ekspor nasional.

Sementara itu, impor pada periode yang sama tercatat sebesar 218,02 miliar Dolar AS, naik 2,03 persen. Penyumbang utama peningkatan impor adalah dari sisi impor Barang Modal dengan kontribusi 3,28 persen, sejalan dengan aktivitas produksi yang ekspansif.

"Ke depan, dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama akan terus diperkuat untuk mengantisipasi berbagai dinamika global," imbuhnya.

Kondisi inflasi akhir tahun 2025

Selain itu, stabilitas harga di tahun 2025 tetap terjaga tercermin dari tingkat inflasi yang terkendali sebesar 2,92 persen (yoy). Tingkat inflasi Desember 2025 dipengaruhi oleh naiknya harga beberapa komoditas pangan di tengah tetap menguatnya inflasi inti dan rendahnya inflasi administered price (AP).

Gangguan cuaca dan kendala distribusi mendorong naiknya inflasi volatile food hingga mencapai 6,21% persen (yoy), dipengaruhi oleh komoditas aneka cabai, beras, dan ikan segar.

Inflasi AP tercatat sedikit meningkat menjadi 1,93 persen (yoy) yang didorong oleh kenaikan harga bensin non subsidi dan tarif transportasi di periode Nataru.

Load More