- IHSG ditutup menguat 0,84% pada 6 Januari 2026 di level 8.933, didorong komoditas dan stimulus pemerintah.
- Pemerintah memberikan insentif pajak PPh 21 dan perpanjangan PPN DTP untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
- Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji level psikologis 9.000 meski indikator menunjukkan area jenuh beli.
Suara.com - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan performa impresif pada awal tahun ini.
Pada penutupan perdagangan Selasa (6/1/2026), IHSG parkir di level 8.933,61, menguat 0,84% setelah sempat menyentuh rekor intraday baru di level 8.940.
Kombinasi antara kenaikan harga komoditas logam global serta derasnya stimulus fiskal dari pemerintah menjadi bahan bakar utama penguatan indeks.
Meski demikian, performa IHSG berbanding terbalik dengan nilai tukar Rupiah yang justru masih tertekan di pasar spot pada level Rp16.740/US$.
Pemerintah secara agresif meluncurkan sejumlah insentif pajak untuk menjaga daya beli masyarakat dan memacu pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2026. Berikut adalah poin-poin penting stimulus tersebut:
Pembebasan PPh 21: Karyawan dengan gaji di bawah Rp10 juta per bulan yang bekerja di sektor padat karya (tekstil, alas kaki, furnitur, industri kulit) serta sektor pariwisata akan menikmati pajak penghasilan ditanggung pemerintah selama tahun 2026.
Insentif Perumahan: Perpanjangan PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 100% untuk rumah tapak hingga harga Rp2 miliar dan rumah susun hingga Rp5 miliar.
Sektor Otomotif: Pemerintah dikabarkan tengah mengkaji aturan insentif tambahan untuk industri kendaraan bermotor guna mempercepat rotasi ekonomi.
Analisis Teknikal: Peluang Uji Level 9.000
Baca Juga: Emiten Jual Beli Besi Kapal Bekas (OPMS) Berencana Tambah 16 Lini Usaha Baru
Secara teknikal, pergerakan IHSG menunjukkan indikasi bullish yang kuat namun mulai mendekati area jenuh beli.
- Indikator MACD: Histogram positif terus menguat seiring dengan peningkatan volume beli.
- Stochastic RSI: Mulai memasuki area overbought (jenuh beli).
- Prediksi: IHSG berpeluang besar menguji level psikologis 9.000. Namun, pelaku pasar perlu mewaspadai potensi minor pullback atau koreksi pendek akibat aksi ambil untung (profit taking) setelah penguatan beruntun.
Sentimen positif juga mengalir dari pasar global. Indeks S&P 500 dan Dow Jones ditutup pada level tertinggi sepanjang masa pada Selasa (6/1).
Penguatan ini dimotori oleh saham-saham berbasis Kecerdasan Buatan (AI), terutama Nvidia yang mengumumkan produksi massal platform AI generasi terbaru serta model AI Alpamayo untuk kendaraan otonom.
Sentimen AI ini berhasil menutupi aksi profit taking di sektor energi yang sempat reli pasca-intervensi AS di Venezuela. Sementara itu, pelaku pasar global juga mencermati kenaikan U.S. 10-year Bond Yield ke level 4,167% dan harga emas yang terus memanas di posisi US$4.485/troy oz.
Investor kini menantikan sejumlah rilis data penting yang akan menentukan arah kebijakan moneter ke depan:
Eropa & Jerman: Data retail sales, angka pengangguran, dan inflasi kawasan Euro.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
Terkini
-
Lowongan Kerja Lion Air Group Terbaru 2026 untuk Semua Jurusan
-
Perpanjangan PPN DTP 100 Persen, Rumah Tapak di Kota Penyangga Jadi Primadona
-
Sinergi Strategis Hilirisasi Batu Bara, Wujudkan Kemandirian Energi Nasional
-
OJK Blokir 127 Ribu Rekening Terkait Scam Senilai Rp9 Triliun
-
Bulog Gempur Aceh dengan Tambahan 50.000 Ton Beras: Amankan Pasokan Pasca-Bencana dan Sambut Ramadan
-
Swasembada Beras Sudah Sejak 2018, Apa yang Mau Dirayakan?
-
Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
-
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025
-
Realisasi Konsumsi Listrik 2025 Tembus 108,2 Persen dari Target
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban