Bisnis / Keuangan
Selasa, 20 Januari 2026 | 09:37 WIB
Ilustrasi Dolar AS. (Freepik)
Baca 10 detik
  • Rupiah melemah pada Selasa (20/1/2026), dibuka di Rp16.987 per dolar AS, terpuruk 0,19% dari penutupan Senin.
  • Pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen negatif domestik, terutama isu pelebaran defisit anggaran, meskipun indeks dolar AS turun.
  • Investor mengantisipasi RDGBI hari Rabu, mencari kejelasan prospek suku bunga meskipun suku bunga diperkirakan tetap.

Suara.com - Nilai tukar terus menunjukkan pelemahan  pada hari ini. Berdasarkan  data Bloomberg, rupiah di pasar Selasa (20/1/2026) dibuka pada level Rp16.987 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan ini membuat mata uang garuda terus terpuruk. Alhasil, rupiah melemah 0,19 persen persen dibanding penutupan pada Senin  yang berada di level Rp16.955  dolar AS. 

Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.935 per dolar AS.  Sementara itu, pergerakan mata uang Asia sebagian bergerak bervariasi.

Hal itu terlihat dari won Korea mencatat pelemahan terdalam yakni 0,35 persen, disusul dolar Taiwan yang melemah 0,20 persen. 

Disusul, baht Thailand melemah 0,05 persen, dolar Singapura melemah 0,05 persen. Sedangkan, dolar Hong Kong melemah 0,01 persen dan peso Filipina yang melemah 0,003 persen terhadap dolar AS.

Sedangkan mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS pagi ini. Ringgit Malaysia naik 0,06 persen. 

Ilustrasi Yen. [Pixabay]

Lalu ada yen Jepang menguat 0,04 persen dan yuan China menguat 0,03 persen terhadap dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 99,06, turun dari sehari sebelumnya yang ada di 99,39.

Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dikarenakan mendapatkan sentimen negatif dari dalam. Salah satunya adalah mengenai pelebaran defisit anggaran. 

Baca Juga: OJK Minta Perbankan Antisipasi Imbas Rupiah Anjlok

"Walau indeks dolar AS melemah tajam oleh perkembangan ini, namun rupiah diperkirakan masih akan lebih condong tertekan karna sentimen risk off," katanya saat dihubungi Suara.com.

Namun, data ekonomi China yang baru dirilis secara umum lebih kuat dari harapan bisa menahan perlemahan Rupiah yang lebih besar. 

"Investor juga mengantisipasi RDGBI hari rabu yang walau diperkirakan akan mempertahankan suku bunga kali ini, namun investor mencari kejelasan akan prospek suku bunga kedepannya Range 16.850-16.950," jelasnya.

Load More