- Thomas Djiwandono dinilai profesional meski berasal dari Partai Gerindra.Independensi
- Pencalonan Deputi BI tidak merusak independensi karena melalui proses seleksi.
- Thomas diprediksi dipersiapkan menjadi Gubernur BI dalam lima tahun ke depan.
Suara.com - Pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) memicu diskusi hangat di ruang publik. Sebagai keponakan Presiden Prabowo Subianto, langkah Thomas kerap dikaitkan dengan privilege keluarga.
Namun, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai kekhawatiran mengenai terganggunya independensi BI tidaklah beralasan.
Ibrahim mengakui adanya opini publik yang skeptis terhadap masuknya figur politisi sekaligus keluarga dekat Presiden ke dalam jajaran petinggi bank sentral. Meski begitu, ia menekankan bahwa jabatan yang disasar Thomas adalah posisi Deputi melalui mekanisme pencalonan resmi, bukan penunjukan langsung.
"Thomas Djiwandono ini adalah figur milenial yang cukup bagus dalam masalah keuangan. Wajar jika ia mencalonkan diri. Meski kader Gerindra, kita harus melihatnya sebagai seorang profesional, jangan hanya partai yang mengusung," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (20/1/2026).
Diproyeksikan Jadi Gubernur BI Masa Depan? Ibrahim melihat posisi Deputi ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat fondasi moneter BI dengan sentuhan profesional muda. Ia bahkan memprediksi bahwa pencalonan ini merupakan bagian dari persiapan jangka panjang.
"Jika terpilih, kemungkinan besar dalam lima tahun ke depan ia akan dipersiapkan sebagai Gubernur Bank Indonesia," lanjutnya.
Menjaga Marwah Independensi Menepis isu intervensi pemerintah, Ibrahim menjelaskan bahwa posisi Thomas saat ini sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) hanyalah jabatan pembantu menteri yang tidak memiliki otoritas kebijakan penuh. Hal ini berbeda dengan di Amerika Serikat, di mana Gedung Putih memiliki pengaruh lebih langsung dalam pencalonan Gubernur Bank Sentral.
Menurut Ibrahim, selama Presiden tidak memberikan pernyataan yang mendikte kebijakan moneter, maka tatanan independensi BI akan tetap terjaga. Kehadiran Thomas justru dianggap mampu menyegarkan birokrasi bank sentral dengan perspektif baru dari generasi milenial.
Presiden Prabowo Subianto resmi menyodorkan nama keponakannya, Thomas Djiwandono, sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Langkah ini diambil menyusul pengunduran diri Juda Agung dari jabatan strategis di bank sentral tersebut.
Baca Juga: Bocoran Purbaya: Tukar Jabatan Wamenkeu dan BI Terjadi Sebelum Februari
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengonfirmasi bahwa Presiden telah mengirimkan Surat Presiden (Surpres) kepada DPR RI untuk memproses pergantian kepemimpinan ini.
"Berkenaan dengan Deputi Gubernur BI, ini bermula dari adanya surat pengunduran diri dari salah satu Deputi Gubernur BI, Juda Agung," ujar Prasetyo di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (19/1/2026).
Proses Seleksi di DPR Sesuai regulasi, kandidat yang diusulkan Presiden harus melewati proses seleksi serta fit and proper test di DPR RI.
Thomas Djiwandono, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan, menjadi nama utama yang diusulkan untuk mengisi kekosongan tersebut.
"Ada beberapa nama dan yang diusulkan Thomas (Djiwandono)," tutur Prasetyo.
Sebagai informasi, Juda Agung sebenarnya memiliki masa jabatan hingga 2027. Sebelum di BI, Juda memiliki rekam jejak panjang termasuk menjadi Direktur Eksekutif di IMF. Pengunduran dirinya yang tergolong mendadak ini pun memicu perhatian publik terkait arah kebijakan moneter dan independensi BI ke depan.
Kini, bola panas ada di tangan DPR untuk menentukan apakah Thomas Djiwandono layak menduduki kursi Deputi Gubernur BI guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
Terkini
-
Bukan Berhenti Total, Ini Tugas Baru Nanik S. Deyang dari Prabowo Usai Mundur dari Kepala BGN
-
3 Zodiak yang Menarik Kesuksesan dan Kekayaan Hari Ini 22 Juli 2026
-
5 Tips Memilih Sepeda Hybrid untuk Pemula agar Nyaman dan Awet Dipakai Bertahun-tahun
-
Shio Apa yang Cocok untuk Pasangan dengan Shio Naga?
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Literasi Kelas Menengah: Saat Hobi Membaca Menjadi Sebuah Privilege
-
Mengapa Transportasi Umum Jadi Pilihan Terbaik untuk Mobilitas Sehari-hari di Jakarta
-
OJK Restui Merger BPRS Rizky Barokah ke BPRS PNM Mentari, Industri Perbankan Syariah Makin Kuat
-
Target Harga Saham BBRI Tembus 3.400, Apa Faktor Pendukungnya?