- ESDM tetap memangkas produksi batubara tahun ini meski harga dunia mencapai 130 dolar AS per ton.
- Keputusan ini diambil untuk mencari keseimbangan pasar, menghindari produksi berlebihan saat harga naik sementara.
- Pengusaha diizinkan mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 pada pertengahan tahun.
Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tetap akan memangkas produksi batubara pada tahun ini, meski harganya mengalami kenaikan di tengah gejolak yang terjadi di Timur Tengah. Tercatat harga batubara dunia telah mencapai 130 dolar AS per ton.
"Ini kan baru kejadian baru-baru aja nih (harga batubara tinggi). Jangan terus kita langsung nyimpulin gitu," kata Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Tri Winarno di Kantor Kementerian ESDM yang dikutip pada Selasa (10/3/2026).
Kementerian ESDM tak ingin terburu-buru mengambil keputusan di tengah situasi saat ini, dan memastikan akan tetap memantau perkembangan harga.
"Jangan sampai nanti dinaikkan (kuota produksi batubara), jor-joran (produksinya), terus habis itu (harganya) turun lagi. Cari keseimbangan lah,” ucap Tri.
Namun, sebagai langkah antisipatif, Kementerian ESDM mengizinkan pengusaha mengajukan revisi RKAB 2026 pada pertengahan tahun.
Kebijakan ini diambil agar para penambang dapat menyesuaikan rencana kerja mereka dengan dinamika permintaan batu bara di pasar.
"Yang pertama revisi memungkinkan. Tapi apakah nanti dibuka atau tidak kan tergantung nantinya seperti apa. Jadi pintu-pintu itu sudah kita siapkan,” kata Tri.
Sebagaimana diketahui, pemerintah berencana memangkas produksi batubara pada 2026 guna mengendalikan harga. Tercatat pada 2025 realisasi produksi nasional mencapai 790 juta ton. Sementara tahun ini akan dipangkas menjadi 600 juta ton, atau berkurang sekitar 190 juta ton.
Baca Juga: Bahlil Gunakan Jurus B50 dan E20 untuk Hadapi Minyak Dunia yang Mendidih
Berita Terkait
-
ESDM Tetap Gaspol Impor Migas USD 15 Miliar dari AS, Meski Ada Pembatalan Tarif
-
Kementerian ESDM: Perusahaan Amerika Tetap Harus Investasi Jika Mau Akses Mineral Kritis Indonesia
-
Berkat Perjanjian Prabowo-Trump, AS Bisa Kuasai Mineral Kritis RI
-
Negosiasi Dagang Rampung, RI Siap Borong Produk Energi AS Senilai Rp235 Triliun
-
Indonesia Impor Energi dari AS Senilai USD 15 Miliar: Mulai dari Batubara hingga Bensin Olahan!
Terpopuler
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Sepeda Polygon Paling Murah Tipe Apa? Ini 5 Pilihan Ternyaman dan Tahan Banting
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Pakar UGM Bongkar 'Dosa' Satu Dasawarsa Jokowi: Aturan Dimanipulasi Demi Kepentingan Rente
Pilihan
-
Cek Fakta: Viral Pengajuan Pinjaman Koperasi Merah Putih Lewat WhatsApp, Benarkah Bisa Cair?
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
Terkini
-
Jakarta Pertamina Enduro Juara Proliga 2026, Bukti Konsistensi Disiplin dan Semangat Juang
-
BRI Beri Reward Spesial untuk Agen BRILink, Bisa Dapat Emas Batangan 2 Gram
-
Purbaya Ungkap Rahasia Indonesia Masih Kuat di Tengah Krisis Minyak
-
Jurus Bos BI Jaga Stabilitas Ekonomi RI
-
Tarik Ulur Larangan Vape, Industri dan Pekerja Was-was
-
Segini Ramalan Harga Emas Antam untuk Sepekan Depan
-
Purbaya Bantah Dana SAL Milik Pemerintah Sisa Rp 120 Triliun: Uang Kita Masih Banyak!
-
Purbaya Klarifikasi Tarik Pajak Selat Malaka: Saya Tahu Betul Peraturannya
-
Mandalika Racing Series 2026 Resmi Digelar, Pertamina Perkuat Pembinaan Pembalap Muda Indonesia
-
BNLI Bukukan Laba Bersih Rp920 Miliar pada Kuartal I 2026, Cek Likuiditasnya