Bisnis / Keuangan
Rabu, 28 Januari 2026 | 07:49 WIB
Ilustrasi usia produktif. (pexels/fauxels)
Baca 10 detik
  • LPS mencatat 15,3 juta jiwa usia produktif (15-69 tahun) belum memiliki rekening tabungan per 2025.
  • LPS menargetkan mengurangi penduduk usia produktif tanpa rekening menjadi 13 juta jiwa pada tahun ini.
  • LPS bersinergi dengan KSSK melalui program edukasi seperti LIKE IT untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat.

Suara.com - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat masih ada masyarakat Indonesia yang belum memiliki tabungan. Terbanyak disumbang oleh penduduk usia produktif.

Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, mengungkapkan usia 15 tahun sampai dengan 69 tahun, belum memiliki rekening. Adapun jumlahnya mencapai 15,3 juta jiwa yang belum memiliki tabungan di usia produktif.

“Menurut data yang kami pantau dan kami hitung, saat ini jumlah penduduk yang produktif usia 15 sampai dengan 69 tahun yang belum mempunyai rekening itu adalah sebanyak 15,3 juta jiwa tahun 2025,” kata Anggito dikutip dari akun Youtube Bank Indonesia, Rabu (28/1/2026).

Untuk itu, LPS menargetkan angka penduduk unbanked tersebut dapat ditekan hingga ke level 13 juta jiwa pada tahun ini.

Selain itu, LPS bersinergi dengan anggota KSSK lainnya, yakni Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui berbagai program strategis.

“Tentu kami tidak sendiri, melakukan semacam kampanye, edukasi, literasi. Kami punya program LIKE IT, misalnya, untuk menguatkan kepercayaan dan perlindungan masyarakat,” jelasnya.

Ilustrasi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). [Suara.com/Hadi]

Dia berharap mampu membuka pintu bagi masyarakat produktif untuk mendapatkan layanan keuangan yang lebih luas.

Strategi ini berjalan beriringan dengan kebijakan LPS yang baru saja mempertahankan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum pada level 3,5 persen dan BPR di level 6 persen.

"Jadi, target yang kami tetapkan di 2026 adalah menambah jumlah penduduk produktif yang nantinya akan memiliki rekening sehingga bisa mengakses sektor keuangan dan bisa mendapatkan layanan-layanan keuangan yang diperlukan,” bebernya.

Baca Juga: Dompet Kelas Menengah Makin Memprihatinkan, Mengapa Kondisi Ekonomi Tak Seindah yang Diucapkan?

Dia menambahkan, KSSK akan terus meningkatkan koordinasi dan sinergi dalam mengantisipasi potensi risiko dari dinamika perekonomian, pasar keuangan dan geopolitik.

Terutama rambatannya terhadap perekonomian dan sektor keuangan domestik. Termasuk, memperkuat coordinated policy responsedan kewaspadaan untuk memitigasi berbagai risiko bagi perekonomian dan stabilitas sistem keuangan.

"KSSK juga telah dan terus berkomitmen untuk mendukung sektor riil dan program Asta Cita Pemerintah guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan demi mencapai kemakmuran bangsa," tandasnya.

Load More