Bisnis / Keuangan
Rabu, 28 Januari 2026 | 12:30 WIB
Jumlah ATM di Indonesia terus menurun akibat transformasi perbankan digital. [Suara.com/Emma]
Baca 10 detik
  • Jumlah ATM di Indonesia menurun dari 95.188 unit (2021) menjadi 89.774 unit (2025) akibat transformasi perbankan digital.
  • Pergeseran strategi perbankan fokus pada efisiensi dan kecepatan layanan digital, meski ATM tidak ditinggalkan sepenuhnya oleh perbankan.
  • BCA menolak tren penurunan dengan terus menambah jumlah ATM, meyakini transaksi tunai masih dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat.

Suara.com - Dunia perbankan Indonesia tengah mengalami perubahan besar. Bank-bank kini berlomba menghadirkan layanan digital untuk memanjakan nasabah, mulai dari mobile banking hingga berbagai platform transaksi non-tunai yang serba instan.

Transformasi tersebut perlahan berdampak pada layanan perbankan konvensional yang selama ini identik dengan antrean panjang nasabah. Salah satunya adalah fasilitas Anjungan Tunai Mandiri atau ATM, yang pamornya mulai meredup seiring pergeseran perilaku transaksi masyarakat.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan jumlah ATM di Indonesia terus menurun dalam lima tahun terakhir. Pada 2021, jumlah ATM tercatat mencapai 95.188 unit. Namun, angka tersebut menyusut menjadi 89.774 unit pada 2025.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengakui strategi perbankan saat ini memang bergeser ke arah digital. Selain faktor efisiensi, perubahan perilaku nasabah yang menginginkan layanan serba cepat dan praktis turut mempercepat tren tersebut.

"Adopsi teknologi digital dalam layanan perbankan memungkinkan nasabah mengakses layanan kapan saja dan di mana saja. Selain itu, semakin mudahnya akses layanan melalui aplikasi dan platform daring, serta meningkatnya penggunaan pembayaran non-tunai, maka kebutuhan penggunaan ATM menjadi semakin terminimalisir," ujar Dian beberapa waktu lalu.

Jumlah ATM di Indonesia terus menurun akibat transformasi perbankan digital. [Suara.com/Emma]

Alasan Transformasi

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI juga mengakui adanya pengurangan jumlah ATM di Tanah Air. Namun, langkah tersebut disebut sebagai bagian dari strategi transformasi layanan perbankan ke arah digital.

BNI menilai penetrasi layanan mobile banking terus meningkat signifikan setiap tahunnya. Oleh karena itu, bank pelat merah tersebut kini lebih memfokuskan penguatan layanan digital agar tetap stabil dan andal digunakan nasabah.

Meski begitu, BNI menegaskan tidak sepenuhnya meninggalkan ATM. Hanya saja, peran ATM kini tidak lagi menjadi kanal utama layanan perbankan.

Baca Juga: ATM Bersama Award 2025 Nobatkan KB Bank sebagai The Most Transaction Growth Issuer

"Ke depan, ATM dan Cash Recycle Machine (CRM) diposisikan sebagai bagian integral dari ekosistem layanan perbankan yang inklusif dan terintegrasi, bukan semata sebagai kanal utama," ujar Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, saat dihubungi Suara.com.

Berbeda dengan BNI, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) justru masih terus menambah jumlah ATM. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, mengungkapkan penambahan mesin ATM tetap dilakukan sepanjang 2025.

Per September 2025, BCA tercatat memiliki 20.008 unit ATM yang tersebar di seluruh Indonesia, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 19.439 unit.

Menurut Hera, pamor ATM belum sepenuhnya meredup. Ia menilai masih banyak nasabah yang rela mengantre untuk menarik uang tunai maupun melakukan transaksi lainnya.

“Kami memproyeksikan penggunaan mesin ATM masih akan terus tumbuh ke depannya selaras dengan pertumbuhan perekonomian Indonesia. Sejalan dengan itu, BCA juga senantiasa melakukan investasi berkesinambungan untuk memperkuat ekosistem hybrid banking, dari kanal mobile dan internet banking, point of sales, kantor cabang, ATM, hingga contact center,” ujarnya.

Jangan Dianaktirikan

Meski layanan digital terus berkembang pesat, para pelaku perbankan diingatkan agar tidak mengesampingkan keberadaan ATM. Fasilitas ini masih sangat dibutuhkan, terutama di daerah-daerah kecil yang belum sepenuhnya akrab dengan layanan mobile banking.

Bagi sebagian masyarakat, mengantre di ATM masih menjadi pilihan utama untuk menarik uang tunai, melakukan transfer, hingga membayar berbagai tagihan. Tidak semua nasabah memiliki pemahaman yang memadai terkait penggunaan aplikasi perbankan digital.

Pengamat perbankan, Trioksa Siahaan, menilai ATM masih memiliki peran penting di Indonesia, mengingat kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai masih cukup tinggi.

"Untuk di Indonesia masih perlu, karena masyarakat masih butuh uang tunai untuk kegiatan-kegiatan tertentu seperti acara adat, belanja di pasar tradisional, dan aktivitas lainnya. Bahkan di Eropa pun transaksi tunai masih berjalan berdampingan dengan cashless," katanya.

Dalam hal ini, digitalisasi layanan perbankan memang tidak terelakkan. Namun, perbankan tetap perlu menjaga keseimbangan antara layanan digital dan fisik, mengingat tidak semua lapisan masyarakat Indonesia siap sepenuhnya beralih ke sistem perbankan digital.

Load More