Bisnis / Makro
Minggu, 01 Februari 2026 | 12:19 WIB
Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (27/1/2026). [Suara.com/Rina]
Baca 10 detik
  • Krisis kepercayaan dipicu tekanan MSCI menyebabkan pengunduran diri massal direktur utama BEI dan empat pejabat tinggi OJK pada 30 Januari 2026.
  • Masa transisi pasca pengunduran diri regulator meningkatkan risiko ketidakpastian kebijakan yang membuat investor cenderung mengambil posisi tunggu.
  • OJK dan BEI berencana merevisi batasan minimal saham publik dari 7,5% menjadi 15% untuk memperdalam struktur pasar modal nasional.

Suara.com - Pasar keuangan Indonesia saat ini sedang berada di titik nadir yang menguji ketahanan fundamentalnya.

Krisis yang dipicu oleh tekanan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) tidak hanya memicu koreksi tajam pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tetapi juga merembet hingga ke level otoritas tertinggi.

Fenomena pengunduran diri massal para pimpinan bursa dan pengawas keuangan menjadi bukti nyata adanya krisis kepercayaan yang mendalam.

Pada Jumat (30/1/2026), Iman Rachman secara resmi menanggalkan jabatannya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah dramatis ini kemudian diikuti oleh empat pejabat teras Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Gelombang mundurnya para regulator ini dibaca pelaku pasar sebagai bentuk pertanggungjawaban moral atas instabilitas yang menempatkan reputasi Indonesia di bawah pengawasan ketat investor global.

Rentetan pengunduran diri ini melibatkan pilar-pilar utama stabilitas keuangan nasional, di antaranya:

Mahendra Siregar (Ketua Dewan Komisioner OJK)

Mirza Adityaswara (Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK)

Inarno Djajadi (Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK)

Baca Juga: PDIP Sarankan Beberapa Langkah untuk Respons Merosotnya IHSG dan Mundurnya Pejabat BEI-OJK

IB Aditya Jayaantara (Deputi Komisioner Pengawas Emiten OJK)

Masa transisi ini meningkatkan risiko policy uncertainty atau ketidakpastian kebijakan.

Investor kini cenderung mengambil posisi wait and see, yang berpotensi menyusutkan likuiditas pasar dan menaikkan premi risiko investasi di Indonesia dalam jangka pendek.

Sebagai langkah mitigasi dan respon atas kritik MSCI terkait kedalaman pasar, OJK dan BEI berencana melakukan reformasi fundamental. Salah satu poin krusial adalah rencana revisi batasan minimal saham publik (free float) dari semula 7,5 persen menjadi 15 persen yang akan mulai diberlakukan pada Februari 2026.

Kebijakan ini ditujukan untuk:

  • Meningkatkan likuiditas perdagangan harian.
  • Memperdalam struktur pasar modal nasional.
  • Meminimalisir risiko konsentrasi kepemilikan saham pada segelintir pemegang saham pengendali.

Namun, implementasi ini tentu menjadi tantangan besar.

Sebagai informasi, saat ini sudah ada 38 emiten yang dikenai suspensi karena belum memenuhi ketentuan free float:

ALMI – PT Alumindo Light Metal Industry Tbk (seluruh pasar)

CBMF – PT Cahaya Bintang Medan Tbk (seluruh pasar)

COWL – PT Cowell Development Tbk (seluruh pasar)

DEAL – PT Dewata Freightinternational Tbk (reguler dan tunai)

DUCK – PT Jaya Bersama Indo Tbk (seluruh pasar)

ETWA – PT Eterindo Wahanatama Tbk (seluruh pasar)

FASW – PT Fajar Surya Wisesa Tbk (reguler dan tunai)

GAMA – PT Aksara Global Development Tbk (reguler dan tunai)

HKMU – PT HK Metals Utama Tbk (seluruh pasar)

JSKY – PT Sky Energy Indonesia Tbk (reguler dan tunai)

KAYU – PT Darmi Bersaudara Tbk (seluruh pasar)

KBRI – PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk (seluruh pasar)

KIAS – PT Keramika Indonesia Asosiasi Tbk (reguler dan tunai)

LCGP – PT Eureka Prima Jakarta Tbk (seluruh pasar)

LMSH – PT Lionmesh Prima Tbk (reguler dan tunai)

MABA – PT Marga Abhinaya Abadi Tbk (seluruh pasar)

MAGP – PT Multi Agro Gemilang Plantation Tbk (reguler dan tunai)

MFMI – PT Multifiling Mitra Indonesia Tbk (reguler dan tunai)

MTRA – PT Mitra Pemuda Tbk (seluruh pasar)

MTSM – PT Metro Realty Tbk (reguler dan tunai)

MYTX – PT Asia Pacific Investama Tbk (reguler dan tunai)

NUSA – PT Sinergi Megah Internusa Tbk (reguler dan tunai)

PLAS – PT Polaris Investama Tbk (seluruh pasar)

PLIN – PT Plaza Indonesia Realty Tbk (reguler dan tunai)

RIMO – PT Rimo International Lestari Tbk (seluruh pasar)

RSGK – PT Kedoya Adyaraya Tbk (reguler dan tunai)

SBAT – PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (seluruh pasar)

SIMA – PT Siwani Makmur Tbk (seluruh pasar)

SKYB – PT Northcliff Citranusa Indonesia Tbk (reguler dan tunai)

SMCB – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (reguler dan tunai)

SUGI – PT Sugih Energy Tbk (seluruh pasar)

SUPR – PT Solusi Tunas Pratama Tbk (reguler dan tunai)

TECH – PT Indosterling Technomedia Tbk (seluruh pasar)

TOYS – PT Sunindo Adipersada Tbk (seluruh pasar)

TRIL – PT Trivina Insanlestari Tbk (seluruh pasar)

TRIO – PT Trikomsel Oke Tbk (seluruh pasar)

UNIT – PT Nusantara Inti Corpora Tbk (seluruh pasar)

WICO – PT Wicaksana Overseas International Tbk (reguler dan tunai).

Selain saham-saham di atas, emiten milik konglomerat juga turut menjadi sorotan, seperti Grup emtek, saat ini saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) hanya 14,93 persen.

Emiten lain bahkan lebih rendah, seperti PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), dan PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk (LIFE) yang ada di kisaran 7 persen.

Grup konglomerat lainnya, seperti Lippo juga memiliki free float saham yang tidak mencapai 15%, mulai dari PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU), dan PT Lippo General Insurance Tbk (LPGI).

Saham-saham lain seperti milik Grup Sinarmas, PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), PT DCI Indonesia Tbk (DNET), PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS), serta PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) juga dikabarkan belum memenuhi syarat free float.

Konglomerat yang paling mencuri perhatian belakangan ini, Prajogo Pangestu seperti TPIA hingga BREN juga memiliki saham-saham dengan free float rendah, meski manajemen terkai menegaskan langkah terkini untuk menghadapi kebijakan baru saham. 

Grup konglomerat lainnya, seperti Bakrie, Djarum dan lain-lain juga dilaporkan masih memiliki saham di bawah ketentuan free float terbaru.

Load More