- UBS memproyeksikan harga emas mencapai USD 5.000 per ons pada Maret 2026, didorong defisit fiskal dan risiko geopolitik.
- Komoditas lain seperti Tembaga, Aluminium, dan Minyak juga diprediksi naik akibat ketidakseimbangan pasokan dan permintaan.
- Lonjakan harga emas dipicu oleh respons pasar terhadap ketegangan global dan ketidakpastian politik Amerika Serikat.
Suara.com - Dunia investasi komoditas diprediksi akan mengalami lonjakan besar sepanjang tahun ini. UBS Wealth Management baru saja merilis proyeksi terbaru yang menyebutkan bahwa harga emas berpotensi meroket hingga ke level USD 5.000 per ons pada akhir Maret 2026.
Dominic Schnider, Head of Commodities & APAC Forex CIO di UBS, menyatakan bahwa tahun 2026 akan menjadi panggung utama bagi aset komoditas.
Lonjakan ini dipicu oleh kombinasi dari defisit fiskal yang membengkak, penurunan suku bunga di Amerika Serikat, serta risiko geopolitik yang tak kunjung mereda.
Dikutip via Kitco, konflik global menjadi pendorong tercepat kenaikan harga emas. Schnider mencatat bahwa emas menjadi instrumen yang paling responsif saat kabar mengenai tindakan militer AS yang menggulingkan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, mencuat ke publik.
Pasca aksi militer tersebut, harga emas di pasar spot langsung dibuka melonjak tajam dan sempat menyentuh angka USD 4.491,20 pada Selasa lalu.
Tak hanya itu, ketidakpastian politik menjelang Pemilu Sela di Amerika Serikat diprediksi bisa membawa harga emas jauh lebih tinggi lagi, bahkan hingga menyentuh USD 5.400 per ons jika situasi keuangan global memburuk.
Selain emas, UBS melihat adanya peluang struktural pada komoditas lain yang didorong oleh ketidakseimbangan pasokan dan permintaan:
- Tembaga dan Aluminium: Permintaan untuk kedua logam ini terus meningkat seiring dengan tren elektrifikasi global dan transisi menuju energi bersih. UBS memprediksi akan terjadi kelangkaan pasokan yang mendorong harga ke level lebih tinggi.
- Minyak Mentah: Meski saat ini terjadi surplus, harga minyak diperkirakan akan mulai pulih pada paruh kedua tahun 2026 seiring dengan menguatnya permintaan dan terbatasnya kapasitas cadangan dari negara-negara non-OPEC+.
- Pertanian: Sektor ini juga dinilai memiliki prospek imbal hasil yang menarik bagi para investor tahun ini.
UBS menyarankan para investor untuk mengalokasikan sekitar 5% dari portofolio mereka ke dalam indeks komoditas yang terdiversifikasi.
Strategi ini dianggap krusial untuk melindungi nilai kekayaan dari guncangan inflasi atau peristiwa geopolitik yang mendadak.
Baca Juga: Berkas Dilimpahkan, Jaksa Tahan WN China Tersangka Pencurian Listrik Tambang Emas Ilegal
"Komoditas memberikan hasil terkuat saat risiko makro—seperti inflasi atau konflik global—sedang tinggi. Emas tetap menjadi diversifikator portofolio yang sangat berharga," tulis Schnider dalam kajiannya, Senin (9/2/2026).
Berikut adalah ringkasan target harga emas dari UBS untuk tahun 2026:
- Maret - September 2026: Bertahan di level USD 5.000 per ons.
- Akhir Tahun 2026: Melandai ke level USD 4.800 per ons (tetap lebih tinggi dari prediksi sebelumnya di USD 4.300).
- Skenario Terburuk (Krisis Politik): Berpotensi melesat hingga USD 5.400 per ons.
Dengan kondisi ekonomi AS yang dibayangi ketidakpastian kebijakan domestik dan tekanan fiskal yang meningkat, emas diposisikan sebagai "pelabuhan aman" utama bagi para pemodal di seluruh dunia, termasuk bagi para pelaku pasar di kota-kota besar Indonesia yang ingin menjaga nilai aset mereka.
DISCLAIMER: Artikel ini disusun berdasarkan laporan riset pasar dari UBS Wealth Management per Februari 2026. Proyeksi harga emas merupakan perkiraan analis yang didasarkan pada kondisi geopolitik dan ekonomi saat ini. Investasi komoditas memiliki risiko volatilitas yang tinggi. Pembaca disarankan untuk melakukan analisis mandiri atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.
Tag
Berita Terkait
-
Emas antam Mulai Naik Lagi, Kini Harganya Tembus Rp 2,94 Juta/Gram
-
Harga Emas Stabil di Pegadaian, Pembeli Bisa Beli Tanpa Antre
-
Emas ETF Global Diborong Investor Tembus 120 Ton, Efek Ancaman Perang Dunia?
-
Emas Antam Berbalik Turun, Harganya Masih di Bawah Rp 3 Juta/Gram
-
Grafik Emas Antam 5 Februari 2026: Turun Tipis, Masih di Kisaran 3 Jutaan
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 30 Kode Redeem FF 25 Maret 2026: Klaim Bundle Panther Gratis dan Skin M14 Sultan Tanpa Top Up
- 5 Rekomendasi HP Samsung Terbaru Murah dengan Spek Gahar, Mulai Rp1 Jutaan
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Libur Lebaran 2026: Wisata Lokal Banjir Pengunjung, Pendapatan Daerah Naik
-
Menkeu Purbaya Bantah Indonesia Terancam Resesi: Di Semua Tempat Pada Belanja!
-
Prabowo Bertemu Ray Dalio, Bahas Proyek Energi hingga Danantara
-
Riset NEXT: Daya Beli Masyarakat Meningkat di Lebaran 2026, Uang Beredar Tembus Rp 1.370 T
-
Kapal Pertamina Terjebak di Tengah Perang Iran, Ini Nasib Pasokan BBM Indonesia
-
Perum Bulog Percepat Penyaluran Bantuan Pangan ke Wilayah Kepulauan Pasca Idul Fitri
-
Menteri Bahlil Pilih Berhati-hati Soal Pajak Ekspor Batu Bara
-
THR ASN Belum Cair Semua, Purbaya: Kementerian dan Lembaga Lambat Mengajukan
-
Gejolak Global Meningkat, Perbankan Nasional Perkuat Prinsip Kehati-hatian
-
Ketahanan Energi RI Diuji, Naikkan BBM atau Tambah Subsidi?