Bisnis / Keuangan
Rabu, 11 Februari 2026 | 16:31 WIB
Dana Rp2.400 T mengendap di bank karena pengusaha belum tarik kredit. OJK sebut kondisi bisnis belum optimal jadi pemicu rendahnya serapan. Foto ist.
Baca 10 detik
  • Dana Rp2.400 T mengendap di bank karena pengusaha belum tarik kredit.
  • OJK sebut kondisi bisnis belum optimal jadi pemicu rendahnya serapan.
  • Solusi "Indonesia Incorporated" didorong untuk dongkrak permintaan kredit.

Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti fenomena tumpukan dana jumbo senilai Rp2.400 triliun yang masih mengendap di perbankan. Dana tersebut sejatinya adalah kredit yang sudah disetujui, namun belum ditarik oleh para debitur atau dikenal dengan istilah undisbursed loan.

Anggota Dewan Komisioner OJK, Dian Ediana Rae mengungkapkan bahwa tumpukan dana ini menjadi tantangan besar bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, hal ini mencerminkan sikap para pelaku usaha yang masih menahan diri.

"Kalau kita melihat perspektif lain, undisbursed loan itu komitmen para pengusaha untuk kemudian bisa merealisasikan pinjaman ini," ujar Dian dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Dian tak menampik bahwa belum cairnya kredit ribuan triliun tersebut disebabkan oleh kondisi bisnis di sektor riil yang belum sepenuhnya pulih atau bergairah. Faktor permintaan (demand) menjadi kendala utama mengapa pengusaha enggan mengeksekusi pinjaman yang sudah ada di tangan.

"Persoalannya adalah bagaimana kita bisa menciptakan demand kredit yang signifikan," imbuhnya.

Ia menilai, perbankan sebenarnya sudah siap menyalurkan likuiditas tersebut, namun daya serap dari sisi industri masih tersendat akibat ketidakpastian pasar.

Guna memecahkan kebuntuan ini, OJK mendorong penguatan konsep Indonesia Incorporated. Konsep ini menitikberatkan pada kolaborasi vertikal dan horizontal antara pemerintah, BUMN, sektor swasta, hingga perbankan agar bergerak dalam satu visi yang sama.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae. [Suara.com/Rina Anggraeni]

Dian berkaca pada kesuksesan negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura yang mampu mendongkrak konsumsi dan permintaan kredit melalui strategi koordinasi industri yang solid.

"Kalau kita bisa mewujudkan Indonesia Incorporated, semua simpang siur terkait perekonomian bisa lebih solid dan muncul komitmen bersama," jelas Dian.

Baca Juga: Pansel Jamin Seleksi Anggota Dewan Komisioner OJK Bebas Nepotisme

Dian optimistis, jika hambatan sistemik ini bisa diurai dan dana Rp2.400 triliun tersebut mengalir ke pasar, dampaknya akan sangat masif bagi roda ekonomi. "Bayangkan Rp2.400 triliun itu disalurkan saja, itu sudah sangat signifikan," pungkasnya.

Load More