- Fitch mengubah prospek Indonesia menjadi negatif fokus pada risiko fiskal akibat rencana belanja sosial ambisius 2026.
- Lembaga tersebut memproyeksikan defisit fiskal 2026 mencapai 2,9% PDB, melebihi target pemerintah karena asumsi pendapatan konservatif.
- Tata kelola kebijakan dinilai lemah, tercermin dari rendahnya rasio penerimaan negara dan kurangnya transparansi keputusan strategis.
Suara.com - Keputusan Fitch Ratings untuk mengubah prospek ekonomi Indonesia dari stabil menjadi negatif memicu pertanyaan, mengapa lembaga kredibel ini memberikan penilaian yang cenderung "suram" di saat pertumbuhan ekonomi Indonesia terlihat masih stabil di angka 5 persen?
Berdasarkan riset Suara.com pada laporan terkait, alasan utama Fitch berfokus pada sisi fiskal dan tata kelola kebijakan.
Ada kekhawatiran mendalam mengenai kemampuan pemerintah dalam menjaga keseimbangan anggaran di tengah rencana pengeluaran sosial yang melonjak drastis pada semester pertama tahun 2026.
Salah satu poin yang menjadi perhatian utama Fitch adalah implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ambisius ini diperkirakan memakan biaya hingga 1,3% dari PDB.
Fitch menilai, rencana pemerintah untuk memprioritaskan pengeluaran besar ini di awal tahun 2026 dapat memicu pembengkakan defisit anggaran yang melampaui batas aman.
Fitch memproyeksikan defisit fiskal Indonesia pada 2026 akan menyentuh angka 2,9% dari PDB. Angka ini lebih tinggi dibandingkan target yang dipasang pemerintah sebesar 2,7%.
Perbedaan proyeksi ini muncul karena Fitch menggunakan asumsi penerimaan negara yang lebih konservatif dibandingkan estimasi optimis pemerintah.
"Upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketegangan sosial yang masih ada setelah protes tahun lalu akan mendorong pengeluaran sosial lebih tinggi, termasuk program Makan Bergizi Gratis (1,3% dari PDB). Rencana untuk memprioritaskan pengeluaran di semester I-2026 dapat menambah risiko defisit fiskal," tulis draf laporan Fitch.
Lemahnya Tata Kelola
Baca Juga: Properti Dinilai Tetap Jadi Motor Ekonomi, Asal Tak Didominasi Segelintir Pelaku Usaha
Selain masalah belanja, sisi pendapatan negara juga menjadi rapor merah. Fitch memperkirakan rasio penerimaan pemerintah terhadap PDB Indonesia hanya akan berada di kisaran 13,3% pada periode 2026-2027. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan rata-rata negara lain yang memiliki peringkat kredit BBB.
Meskipun pemerintah tengah gencar melakukan upaya peningkatan kepatuhan pajak, Fitch menilai dampaknya tidak akan signifikan dalam waktu dekat.
Kondisi ini diperparah dengan biaya pembayaran utang yang semakin tinggi, yang mulai menggerus ruang fiskal untuk pembangunan infrastruktur produktif lainnya.
Isu sentralisasi pengambilan keputusan juga tidak luput dari pengamatan. Fitch menilai bahwa konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia kini berada dalam tekanan.
Kurangnya transparansi dalam beberapa proses pengambilan keputusan strategis dikhawatirkan dapat memperburuk indikator tata kelola nasional.
Di sisi eksternal, Fitch mencatat bahwa defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar menjadi 0,8% dari PDB pada 2026 akibat melemahnya ekspor bersih. Hal ini membuat posisi Rupiah menjadi rentan terhadap volatilitas global.
Sentimen investor disebut masih sangat rapuh. Kekhawatiran terkait tata kelola pasar modal dan volatilitas pasar domestik berpotensi memicu arus keluar modal (capital outflow).
Jika ini terjadi, tekanan terhadap nilai tukar akan meningkat dan pada akhirnya menaikkan biaya pinjaman bagi pemerintah untuk menambal defisit anggaran.
Berita Terkait
-
Emil Audero Catat 99 Saves Terbanyak, Jay Idzes Masuk Jajaran Bek Elit Liga Italia
-
Alasan Mathew Baker Tak Dipanggil Nova Arianto ke Timnas Indonesia U-20 Terungkap
-
Secara Matematis Timnas Indonesia Bisa Gantikan Iran di Piala Dunia 2026, tapi...
-
Xiaomi Pad 8 Series Resmi Rilis di Indonesia: Tablet Snapdragon 8 Elite, HyperOS 3
-
Kekuatan Timnas Indonesia Tergerus, 3 Pemain Inti Dipastikan Jadi Penonton di FIFA Series 2026
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
Pilihan
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
-
Siasat Dadan Hindayana Cs Korupsi MBG: Pakai Yayasan Sendiri, Sedot Miliaran Rupiah Tiap Hari!
-
Momen Unik Penahanan Dadan Cs, Satu Tersangka Tertinggal Mobil Tahanan hingga 'Dikepung' Wartawan
-
Pakai Rompi Pink dan Diborgol, Kejagung Resmi Tahan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Cs
-
Drama 'Penjemputan' Dadan Hindayana Cs, Ada yang Sempat Lari ke Jabar
Terkini
-
Kegagalan Investasi TaniHub Risiko Bisnis, Bukan Tindak Pidana
-
Eks Dirut BVI Bantah Terima Kickback dari Investasi TaniHub
-
TASPEN Cepat Kilat, 99 Persen Pensiunan Terima Gaji Ke-13 di Hari Pertama Tanpa Potongan
-
Asuransi Astra Rayakan Eksistensi 70 Tahun dengan ACTION! dan Apresiasi Pewarta 2026
-
RUU P2SK Disepakati, Besok Dibawa ke Paripurna
-
Pengamat: Pengusaha Jangan Baru Ribut Saat DSI Bereskan Tata Kelola Ekspor
-
Punya Lisensi, WSKT Mulai Garap Proyek Infrastruktur di Arab Saudi
-
IHSG Anjlok Karena Investor Ragukan Kredibilitas Kebijakan Pemerintah
-
Purbaya Ungkap DPR Bisa Evaluasi LPS, OJK, dan BI berkat RUU P2SK
-
Strategi Bertahan di Tengah Rupiah yang Semakin Jatuh ke Jurang