- Fitch pangkas outlook utang RI ke negatif akibat ketidakpastian kebijakan dan risiko fiskal.
- Program Makan Bergizi Gratis & target ekonomi 8% dinilai bebani APBN dan stabilitas makro.
- Tata kelola RI memburuk di level persentil 44, di bawah rata-rata negara peringkat BBB.
Suara.com - Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, memberikan kado pahit bagi perekonomian Indonesia. Fitch resmi memangkas prospek (outlook) utang Indonesia dari 'Stabil' menjadi 'Negatif'.
Meski demikian, Fitch masih mempertahankan peringkat kredit jangka panjang mata uang asing (Long-Term Foreign Currency Issuer Default Rating/IDR) Indonesia di level 'BBB'.
Mengutip keterangan resmi Fitch Ratings, Rabu (4/3/2026), pemangkasan ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kredibilitas bauran kebijakan yang kini dinilai terlalu tersentralisasi. Kondisi ini dikhawatirkan bakal memperburuk prospek fiskal jangka menengah dan menggerus kepercayaan investor global.
"Kekuatan peringkat ini dibatasi oleh penerimaan pendapatan yang lemah, biaya pembayaran utang yang tinggi, dan indikator tata kelola yang tertinggal dibandingkan negara-negara berperingkat 'BBB' lainnya," tulis Fitch.
10 Poin Krusial yang Bikin Fitch Khawatir
Fitch membedah secara rinci alasan di balik sikap skeptis mereka terhadap ekonomi Indonesia saat ini:
- Ketidakpastian Kebijakan: Target pertumbuhan ekonomi 8% dan lonjakan pengeluaran sosial dinilai membuat kebijakan fiskal dan moneter menjadi terlalu longgar. Revisi UU Keuangan Negara di Prolegnas 2026 yang mengancam batas defisit 3% menjadi sorotan utama.
- Beban Belanja Negara: Defisit APBN 2026 diprediksi membengkak ke 2,9%, melampaui target pemerintah 2,7%. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diperkirakan memakan 1,3% dari PDB hingga 2029, meningkatkan risiko penyimpangan fiskal.
- Penerimaan Negara Loyo: Pendapatan negara hanya diproyeksi 13,3% dari PDB akibat pembatalan kenaikan PPN dan pengalihan dividen BUMN ke Danantara.
- Investasi Danantara: Investasi senilai US$ 26 miliar melalui Danantara di 2026 dikhawatirkan kurang transparan dan berisiko menjadi kewajiban kontingen bagi negara jika digunakan untuk kegiatan kuasi-fiskal.
- Masalah Tata Kelola: Protes massal di tahun 2025 memperburuk citra Indonesia. Skor tata kelola Bank Dunia RI merosot ke persentil 44, jauh di bawah median negara 'BBB' (persentil 56).
- Kerentanan Eksternal: Defisit transaksi berjalan melebar ke 0,8% PDB. Volatilitas pasar modal domestik memicu risiko arus modal keluar (capital outflow) yang bisa menekan Rupiah.
- Dilema Bank Indonesia: BI diperkirakan memangkas suku bunga ke 4,25% di akhir 2026. Namun, perluasan mandat BI untuk mendukung pertumbuhan dikhawatirkan mengganggu fokus utama menjaga stabilitas inflasi.
- Beban Bunga Utang Tinggi: Meski rasio utang (41% dari PDB) masih di bawah rata-rata 'BBB', namun biaya pembayaran bunga mencapai 17% dari pendapatan pemerintah, termasuk yang tertinggi di kelasnya.
- Target 8% yang Ambisius: Fitch memprediksi ekonomi RI hanya tumbuh 5,0% di 2026-2027. Target 8% di 2029 dinilai sulit tercapai tanpa reformasi struktural radikal.
- Skor ESG Merah: Indonesia mendapat skor ESG '5' (terburuk) untuk stabilitas politik dan penegakan hukum, mencerminkan kapasitas kelembagaan yang moderat namun korupsi masih tinggi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
Pilihan
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
-
Siasat Dadan Hindayana Cs Korupsi MBG: Pakai Yayasan Sendiri, Sedot Miliaran Rupiah Tiap Hari!
-
Momen Unik Penahanan Dadan Cs, Satu Tersangka Tertinggal Mobil Tahanan hingga 'Dikepung' Wartawan
-
Pakai Rompi Pink dan Diborgol, Kejagung Resmi Tahan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Cs
-
Drama 'Penjemputan' Dadan Hindayana Cs, Ada yang Sempat Lari ke Jabar
Terkini
-
Kegagalan Investasi TaniHub Risiko Bisnis, Bukan Tindak Pidana
-
Eks Dirut BVI Bantah Terima Kickback dari Investasi TaniHub
-
TASPEN Cepat Kilat, 99 Persen Pensiunan Terima Gaji Ke-13 di Hari Pertama Tanpa Potongan
-
Asuransi Astra Rayakan Eksistensi 70 Tahun dengan ACTION! dan Apresiasi Pewarta 2026
-
RUU P2SK Disepakati, Besok Dibawa ke Paripurna
-
Pengamat: Pengusaha Jangan Baru Ribut Saat DSI Bereskan Tata Kelola Ekspor
-
Punya Lisensi, WSKT Mulai Garap Proyek Infrastruktur di Arab Saudi
-
IHSG Anjlok Karena Investor Ragukan Kredibilitas Kebijakan Pemerintah
-
Purbaya Ungkap DPR Bisa Evaluasi LPS, OJK, dan BI berkat RUU P2SK
-
Strategi Bertahan di Tengah Rupiah yang Semakin Jatuh ke Jurang