Bisnis / Ekopol
Kamis, 05 Maret 2026 | 11:26 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan) menyapa warga setibanya setibanya di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jakarta, Rabu (28/5/2025). [ANTARA FOTO/Fauzan/rwa]
Baca 10 detik
  • Prancis melalui Presiden Macron mendukung Spanyol melawan ancaman embargo dagang AS oleh Presiden Trump pada 3 Maret 2026.
  • Dukungan ini muncul setelah Spanyol melarang penggunaan pangkalan militer untuk serangan udara AS terhadap Iran.
  • Macron mendorong persatuan Uni Eropa dan mengusulkan koalisi Eropa tanpa AS untuk mengamankan Selat Hormuz.

Suara.com - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa memasuki fase kritis. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, secara resmi menyatakan dukungannya kepada Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, dalam menghadapi ancaman tekanan ekonomi dari Presiden AS Donald Trump.

Langkah ini menandai terbentuknya poros baru di Eropa yang menentang kebijakan militer AS di Iran.

Perselisihan ini memuncak setelah Trump mengancam akan memutus hubungan dagang dengan Madrid pada Selasa (3/3/2026).

Ancaman tersebut muncul sebagai respons atas keputusan Spanyol yang melarang militer AS menggunakan pangkalan militer bersama untuk melancarkan serangan udara ke Iran.

Menanggapi ancaman tersebut, Macron segera menghubungi Sánchez pada Rabu (4/3/2026)malam untuk menyampaikan solidaritasnya.

Macron mendesak 27 negara anggota Uni Eropa untuk bersatu dan melakukan serangan balik terhadap Washington jika Trump benar-benar merealisasikan ancaman embargo dagangnya.

“Presiden mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Sánchez untuk mengekspresikan solidaritas Eropa menanggapi ancaman paksaan ekonomi yang menyasar Spanyol,” ujar seorang pembantu senior kepresidenan Prancis, dikutip melalui Politico.

Prancis sendiri bukan orang asing bagi ancaman Trump. Sebelumnya, Macron menolak bergabung dalam skema Board of Peace untuk pembangunan kembali Gaza, yang dibalas Trump dengan ancaman tarif 200 persen pada produk anggur (wine) dan sampanye asal Prancis.

"Kita berada di kapal yang sama," tambah sumber tersebut.

Baca Juga: SBY Wanti-wanti Konflik Iran vs AS-Israel Merembet Jadi Perang Dunia III

Pergeseran Sikap Macron: Dari Sekutu Menjadi Kritikus

Awalnya, Prancis bersama Jerman dan Inggris (E3) bersikap lebih lunak terhadap AS dengan menyatakan komitmen untuk melindungi kepentingan sekutu di kawasan Teluk.

Namun, pada Selasa malam, Macron mengubah haluan secara drastis dalam pidato televisinya. Macron menyatakan bahwa serangan AS ke Iran dilakukan di luar hukum internasional. 

"Serangan-serangan ini dilakukan di luar koridor hukum internasional, sesuatu yang tidak dapat kami setujui," tegas Macron.

Pergeseran ini mendekatkan posisi Paris dengan Madrid yang sejak awal menyebut intervensi militer AS sebagai pelanggaran hukum internasional yang berbahaya.

Menariknya, eskalasi konflik di Timur Tengah ini menjadi pengalihan isu yang menguntungkan bagi Sánchez dan Macron di dalam negeri. Keduanya sedang menghadapi tantangan politik domestik yang berat.

Load More