- PT Prodia Widyahusada Tbk menjaga stabilitas operasional dan kinerja keuangan tahun 2024 dari fluktuasi nilai tukar Rupiah melalui mitigasi risiko.
- Prodia melakukan ekspansi bisnis layanan sel punca melalui PT Prodia Stem Cell Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah jangka panjang.
- Manajemen memproyeksikan layanan sel punca akan memberikan kontribusi signifikan terhadap margin keuntungan perusahaan dalam tiga tahun ke depan mendatang.
Suara.com - PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) memastikan operasional perusahaan tetap stabil di tengah tren pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.
Direktur Utama Prodia, Dewi Muliaty, menegaskan bahwa perusahaan telah menyiapkan langkah mitigasi risiko untuk menjaga kinerja keuangan hingga akhir tahun 2024.
Meskipun industri laboratorium kesehatan banyak melakukan impor alat kesehatan dan reagen, Dewi menjelaskan bahwa Prodia telah memproteksi diri melalui kesepakatan bisnis yang matang.
"Memang banyak impor, tetapi pembatasan risiko rupiah sudah diatur dalam MoU dan kontrak. Jadi sampai saat ini masih aman. Dari mitra kami masih ada jaminan hingga enam bulan ke depan, bahkan sampai akhir tahun. Jadi tidak terlalu besar dampaknya," jelas Dewi Muliaty dalam paparan publik baru-baru ini, Senin (20/4/2026).
Selain fokus pada ketahanan fundamental, Prodia juga tengah memacu lini bisnis baru melalui layanan sel punca (stem cell). Langkah ini diperkuat dengan akuisisi 30 persen saham PT Prodia Stem Cell Indonesia (Prosten) yang dilakukan tahun lalu.
Menanggapi pertanyaan mengenai kontribusi layanan sel punca terhadap pendapatan (top line) Prodia di tahun 2026, manajemen menjelaskan bahwa unit bisnis ini diperlakukan seperti sebuah startup di dalam ekosistem perusahaan.
"Layanan ini adalah scientific-based service yang memerlukan riset panjang dan kepatuhan terhadap regulasi yang ketat. Kami menganggap ini sebagai unit bisnis yang serupa dengan startup. Di tahun pertama, kontribusinya mungkin belum signifikan terhadap total bisnis PRDA, namun kami memproyeksikan hasilnya dalam tiga tahun ke depan," ungkapnya.
Meskipun kontribusi langsung terhadap pendapatan konsolidasi belum terlihat besar dalam waktu singkat, manajemen optimistis kehadiran layanan sel punca akan meningkatkan nilai tambah (value-added) dan margin keuntungan, khususnya pada klinik spesifik seperti Prodia Senior Health Center (PSHC).
Lebih lanjut, pendapatan dari sektor ini tidak hanya bersumber dari layanan klinik, tetapi juga dari produk-produk yang dihasilkan oleh Prosten untuk dijual kepada dokter, klinisi, dan klinik mitra sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Baca Juga: Rupiah Sentuh Level Terendah Lagi Rp 17.188/USD
Dewi Muliaty menekankan bahwa langkah ekspansi ini bukan semata-mata untuk menutupi perlambatan di sektor laboratorium konvensional, melainkan bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang yang mengedepankan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance/GCG).
"Kami sangat mengikuti regulasi agar jangan sampai layanan ini melanggar ketentuan yang ada. Kami tetap mempertahankan prinsip GCG dalam setiap inovasi teknologi baru yang kami hadirkan," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Rupiah Babak Belur ke Rp17.100, BI Siapkan Instrumen Operasi Moneter
-
Terpuruk! Rupiah Tembus Level Terlemah Sepanjang Sejarah Rp 17.105/USD
-
Rupiah Masih Mimpi Buruk, Bertahan di Level Rp 17.078/USD
-
Rupiah Loyo ke Rp17.035, Defisit Anggaran hingga Isu Perang AS-Iran Jadi Biang Keladi
-
Dolar AS Naik, Rupiah Makin Anjlok ke Level Rp17.006
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan