Bisnis / Ekopol
Selasa, 10 Maret 2026 | 06:25 WIB
Donald Trump [The White House]
Baca 10 detik
  • Pasar energi global stabil setelah Presiden Trump mengisyaratkan berakhirnya operasi militer AS terhadap Iran.
  • Harga minyak mentah AS turun ke US$86 per barel karena meredanya kekhawatiran penutupan Selat Hormuz.
  • Trump marah atas serangan Israel terhadap depot minyak Iran, membatalkan pertemuan puncak antar-sekutu baru-baru ini.

Suara.com - Pasar energi global mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan isyarat bahwa operasi militer AS di Iran akan segera berakhir.

Sinyal positif yang muncul pasca-percakapan telepon rahasia antara Trump dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, ini memberikan dampak instan terhadap harga komoditas minyak mentah yang sebelumnya sempat melonjak tajam akibat eskalasi di Timur Tengah.

Penurunan Harga Minyak Mentah dan Stabilisasi Selat Hormuz

Dinamika pasar minyak dunia, yang selama beberapa pekan terakhir dipenuhi ketidakpastian, mulai kembali terkendali.

Harga minyak mentah AS kini tercatat turun ke angka US$86 per barel, setelah sempat menyentuh level US$91 per barel akibat kekhawatiran tertutupnya Selat Hormuz—jalur logistik minyak paling strategis di dunia.

Harga minyak mentah WTI tersebut secara kontinyu terus turun dari level tertinggi USD 120 kemarin.

CBS News melaporkan, pernyataan Trump yang mengindikasikan bahwa militer Iran telah usai dan situasi di Selat Hormuz akan kembali normal menjadi katalis utama bagi penurunan harga tersebut.

Hal ini memberikan kelegaan bagi pasar keuangan global, di mana indeks saham utama seperti Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq mencatatkan rebound signifikan setelah sempat terpuruk akibat kecemasan akan krisis energi.

Meski harga mulai turun, friksi di balik layar justru memanas antara Washington dan Tel Aviv. Presiden Trump dilaporkan sangat murka atas serangan udara Israel terhadap 30 depot minyak Iran pada akhir pekan lalu.

Baca Juga: Praperadilan Direktur PT WKM, Kuasa Hukum Nilai Instrumen Negara Digunakan untuk Perang Dagang

Gedung Putih menilai aksi tersebut sebagai langkah yang kontraproduktif.

Penasihat Trump, seperti yang dilansir via Mail, mengungkapkan bahwa Presiden sangat berupaya "menyelamatkan minyak" agar tidak terbakar percuma.

Serangan yang menyebabkan kebakaran besar pada fasilitas minyak tersebut tidak hanya memicu kepanikan pasar, tetapi juga langsung membebani masyarakat Amerika dengan kenaikan harga bensin yang kini rata-rata mencapai US$3,4 per galon.

Rasa frustrasi Washington terhadap langkah Israel ini bahkan berujung pada pembatalan pertemuan puncak antar-sekutu yang seharusnya dijadwalkan awal pekan ini.

Trump menegaskan bahwa operasi militer yang dilakukan saat ini hanyalah "ekskursi jangka pendek".

Dengan klaim bahwa kemampuan militer Iran sudah tidak tersisa, pasar memprediksi tekanan pada harga energi akan terus berkurang dalam beberapa waktu ke depan.

Load More