- Defisit APBN Feb 2026 capai Rp135,7 T, melonjak 342,4% akibat percepatan belanja awal tahun.
- Menkeu Purbaya sengaja pacu belanja sejak dini agar dampak ekonomi terasa lebih cepat.
- Pendapatan negara Rp358 T, disokong pajak yang tumbuh 30,4% meski cukai dan PNBP turun.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa blak-blakan mengenai kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sudah mencatatkan defisit jumbo di awal tahun 2026. Hingga Februari 2026, tekor anggaran tercatat mencapai Rp135,7 triliun.
Angka defisit ini melonjak tajam 342,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski terlihat mengkhawatirkan, Purbaya menegaskan bahwa kondisi ini adalah bagian dari strategi pemerintah untuk memacu urat nadi perekonomian nasional lebih cepat.
"Ada yang bilang tahun lalu surplus, kenapa tahun ini defisit? Ya memang desain APBN kita defisit dan sekarang kita paksakan belanjanya lebih merata sepanjang tahun," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2026).
Purbaya menjelaskan, di bawah kepemimpinannya, pemerintah sengaja mengubah pola penyerapan anggaran. Jika tahun-tahun sebelumnya belanja negara cenderung menumpuk di akhir tahun (back-loaded), kini pemerintah mendorong akselerasi sejak Januari.
"Tujuannya agar dampak belanja pemerintah terhadap perekonomian lebih terasa sejak dini," imbuhnya.
Berdasarkan data Kemenkeu, hingga 28 Februari 2026, pendapatan negara terkumpul Rp358 triliun (tumbuh 12,8 persen). Namun, di sisi lain, belanja negara melesat jauh lebih tinggi hingga 41,9 persen dengan realisasi Rp493,8 triliun.
Berikut adalah detail raport keuangan negara di dua bulan pertama tahun 2026:
Sektor Pendapatan (Total Rp358 Triliun):
- Penerimaan Pajak: Rp245,1 triliun (Tumbuh signifikan 30,4%).
- Kepabeanan & Cukai: Rp44,9 triliun (Turun 14,7%).
- PNBP: Rp68 triliun (Turun 11,4%).
Sektor Belanja (Total Rp493,8 Triliun):
Baca Juga: Zulhas Targetkan 30 Ribu Kopdes Merah Putih Beroperasi Juni 2026, Purbaya Diminta Lakukan Ini
- Belanja Pemerintah Pusat: Rp346,1 triliun (Melesat 63,7%).
- Transfer ke Daerah: Rp147,7 triliun (Naik 8,1%).
Purbaya meyakini meski defisit melebar, instrumen fiskal ini masih dalam batas aman dan terkendali. Ia optimistis kombinasi pendapatan yang positif dan belanja yang terakselerasi akan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan global.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Narasi Pemerintah soal Harga Tiket Pesawat Naik 13 Persen Dinilai Menyesatkan
-
Kementan Pastikan Stok Daging Sapi Aman Jelang Idul Adha 2026
-
Mulai Hari Ini Pemerintah Tanggung PPN Tiket Pesawat Kelas Ekonomi
-
BRILink Agen Mekaar 426 Ribu, BRI Perluas Inklusi hingga Desa
-
BRI Consumer Expo 2026 Surabaya Tawarkan Promo Spesial dan Hiburan Musik
-
Hampir Separuh UMKM di Sektor Pangan, Masalah Pasar Masih Jadi Hambatan
-
OJK Perpanjang Batas Laporan Keuangan Asuransi hingga Juni 2026
-
OJK: Bank Bisa Penuhi Kebutuhan Valas Tanpa Bikin Rupiah Semakin Goyah
-
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Tembus Rp64.050/Kg, Telur Ayam Nyaris Rp32 Ribu
-
Masih Harus Uji Coba, Status Bahan Bakar Bobibos Tunggu Kepastian Kategori BBN atau BBM