- Bursa global kompak rontok, hanya saham Israel yang mampu tumbuh positif 1,8%.
- IHSG alami rapor merah paling parah dengan penurunan tajam hingga 10,8%.
- Ketidakpastian geopolitik seret bursa AS, Eropa, dan Asia ke zona merah.
Suara.com - Peta kekuatan pasar modal global menunjukkan anomali yang mengejutkan dalam kurun waktu dua pekan terakhir selama kondisi perang timur tengah antara Amerika Serikat-Israel Vs Iran.
Di tengah situasi itu bursa saham mayoritas negara-negara besar dunia justru terjerembap ke zona merah, kontras dengan pergerakan bursa Israel yang melaju sendirian di jalur hijau.
Berdasarkan data performa pasar sejak 26 Februari 2026, indeks saham global mengalami aksi jual masif. Fenomena "anomali" ini memicu tanda tanya besar di kalangan investor mengenai daya tahan pasar tertentu di tengah situasi sulit.
Kondisi paling memprihatinkan terlihat pada pasar modal dalam negeri. Bursa saham Indonesia tercatat mengalami kontraksi paling tajam dibandingkan negara-negara lainnya, dengan penurunan hingga -10,8%. Angka ini jauh melampaui pelemahan yang dialami oleh Korea Selatan (-8,5%) dan Thailand (-7,2%).
Keterpurukan ini menunjukkan sentimen negatif yang sangat kuat di pasar domestik, yang kemungkinan dipicu oleh aliran modal keluar (capital outflow) seiring dengan ketidakpastian ekonomi global yang kian memuncak.
Tidak hanya pasar berkembang, bursa saham negara maju pun tak luput dari hantaman badai ekonomi:
- Amerika Serikat mencatatkan pelemahan sebesar -2,5%.
- Inggris (UK) terkoreksi cukup dalam di angka -5,0%.
- Prancis menyusul dengan penurunan signifikan sebesar -6,4%.
- Bahkan China, yang biasanya stabil, harus rela terkoreksi tipis -0,2%.
Di tengah "banjir darah" di pasar modal dunia, bursa saham Israel secara mengejutkan justru tumbuh positif sebesar +1,8%. Tren "naik sendirian" ini dianggap di luar nalar oleh sebagian pelaku pasar, mengingat kondisi geopolitik yang tengah berlangsung.
Pergerakan ini bisa disebabkan oleh sentimen internal spesifik atau relokasi aset investor ke sektor-sektor yang dianggap diuntungkan dalam situasi konflik, namun bagi mayoritas investor global, tren ini tetap menjadi anomali besar di awal Maret 2026.
Baca Juga: Angkasa Pura Sumbar Mulai Stop Penerbangan Umrah Sementara
Berita Terkait
Terpopuler
- PP Nomor 9 Tahun 2026 Resmi Terbit, Ini Aturan THR dan Gaji ke-13 ASN
- Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
- 5 Rekomendasi Body Lotion Terbaik Mencerahkan Kulit di Indomaret
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Angkasa Pura: Penerbangan Umrah Dihentikan Imbas Perang di Timur Tengah
-
Yaqut Diperiksa KPK Pekan Ini Usai Praperadilannya Ditolak, Langsung Ditahan?
-
Dua Kali Blunder Kiper Tottenham Antonin Kinsky Bikin Igo Tudor Kehabisan Kata-kata
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
Terkini
-
Rupiah Tak Bertenaga, Tergerus Sentimen Timur Tengah ke Level Rp16.893
-
INNOCEAN Memuncaki Peringkat Kreatif Korea dan Menembus Papan Atas Asia
-
Demi Keselamatan Perwira di Tengah Eskalasi Geopolitik, PIEP Relokasi Pekerja di Irak dan UEA
-
Angkasa Pura Sumbar Mulai Stop Penerbangan Umrah Sementara
-
Indonesia dan Inggris Raya Jalin Kemitraan untuk Dorong Startup Go Global
-
Zulhas Pastikan Stok Pangan Nasional Aman di Tengah Gejolak Geopolitik Global
-
Arkadia Digital Media (DIGI) Luncurkan Aura Research, Layanan Riset dan Analisis Isu Media Digital
-
FIFGROUP Kantongi Laba Rp4,63 Triliun di 2025, Indra Gunawan Resmi Jadi Bos Baru
-
Angkasa Pura: Penerbangan Umrah Dihentikan Imbas Perang di Timur Tengah
-
Satu Tahun Danantara Indonesia: Memperkuat Fondasi untuk Masa Depan Generasi Indonesia