- Konflik AS-Israel-Iran picu kenaikan harga BBM di 95 negara akibat macetnya Selat Hormuz.
- Harga bensin Kamboja meroket 67,81%, sementara BBM oktan 95 di Indonesia naik 2,65%.
- Krisis energi ancam stok pangan dunia; Bangladesh dan Pakistan mulai batasi aktivitas warga.
Suara.com - Peta energi global mendadak membara. Konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memicu guncangan hebat pada pasokan energi dunia.
Sedikitnya, 95 negara melaporkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang signifikan akibat terganggunya jalur distribusi vital di Selat Hormuz.
Melansir Al Jazeera, Jumat (20/3/2026), macetnya pengiriman minyak dari kawasan Teluk menjadi biang keladi utama. Selat Hormuz, yang selama ini menjadi urat nadi energi dunia, kini nyaris terhenti total, memaksa harga bensin meroket di berbagai belahan bumi.
Kawasan Asia menjadi yang paling babak belur. Ketergantungan yang tinggi pada impor minyak dari Timur Tengah membuat negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan dalam posisi siaga satu. Jepang diketahui mengimpor 95 persen kebutuhan minyaknya dari Teluk, sementara Korea Selatan mencapai 70 persen.
Kondisi lebih tragis terlihat di Asia Selatan. Bangladesh bahkan harus mengambil langkah ekstrem dengan menutup seluruh universitas demi menghemat energi. Sementara Pakistan memberlakukan kebijakan kerja empat hari sepekan dan menutup sekolah-sekolah akibat tipisnya cadangan fiskal.
Berdasarkan data Global Petrol Prices, berikut negara dengan lonjakan harga BBM paling gila:
- Kamboja: naik 67,81 persen
- Vietnam: naik 49,73 persen
- Nigeria: naik 35,02 persen
- Laos: naik 32,94 persen
- Kanada: naik 28,36 persen.
Indonesia tidak luput dari badai ini. Harga bensin oktan 95 di tanah air tercatat merangkak naik 2,65 persen, dari US$0,72 per liter menjadi US$0,74 per liter. Di Amerika Serikat sendiri, harga bensin reguler melonjak 20 persen menjadi US$3,58 per galon, bahkan menembus US$5 di wilayah California.
Kenaikan harga energi ini bak efek domino. Selain membebani sektor transportasi, dunia kini dihantui lonjakan harga pangan global. Komponen energi yang vital dalam produksi pupuk dan distribusi makanan diprediksi akan mencekik negara-negara berpendapatan rendah.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Presiden Prabowo Perintahkan Genjot Produksi Batu Bara
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Investor Migas Makin Percaya Indonesia, Proyek Bukit Panjang Masuk Tahap Fabrikasi
-
Bahlil Ungkap 5.700 Desa Masih Gelap, Pemerintah Gelontorkan Rp10,3 Triliun untuk Listrik Desa
-
Kabar Baik Pencari Kerja! Kemnaker Buka Pelatihan Gratis untuk 20.000 Peserta, Daftar hingga 9 Juli
-
Masuk Fortune Southeast Asia 500 2026, Hutama Karya Perkuat Kiprah sebagai BUMN Konstruksi Terkemuka
-
Beralih ke Jargas Hemat Biaya Energi hingga 33 Persen, Pemerintah Tambah 160 Ribu Sambungan Baru
-
Tahun Emas ke-50, Darya-Varia Berkinerja Tangguh dan Komitmen pada Pertumbuhan Berkelanjutan
-
Pasokan Batubara PLTU Jawa Mulai Pulih, PLN Kini Kejar Perbaikan Dua Pembangkit
-
Bulog Buka Suara soal Dugaan Korupsi Beras Wamena, Pastikan Distribusi Pangan Tetap Aman dan Stabil
-
Kabar Baik bagi MBR! Menteri PKP Pastikan Bunga KPR FLPP Tetap 5 Persen, Meski BI Rate Naik
-
Polemik MBG Saat Libur Sekolah, Gapembi Kritik BGN