- Elektrifikasi transportasi dan rumah tangga dinilai strategis mengurangi beban APBN dari gejolak harga energi global.
- Peralihan satu juta mobil fosil ke listrik dapat mengurangi kebutuhan minyak mentah Indonesia hingga 13,2 juta barel per tahun.
- Penggunaan kompor listrik rumah tangga mampu berpotensi menghemat penggunaan LPG impor lebih dari 130 ton per tahun.
Suara.com - Peralihan ke kendaraan listrik dan kompor listrik dinilai menjadi langkah strategis untuk melindungi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari tekanan gejolak global, khususnya kenaikan harga energi.
Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyebut elektrifikasi di sektor transportasi dan rumah tangga mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi impor, seperti bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.
"Pada sektor transportasi misalnya, peralihan satu juta mobil berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik diperkirakan mampu mengurangi kebutuhan minyak mentah dalam jumlah signifikan. Penggantian satu juta mobil listrik dapat mengurangi kebutuhan minyak mentah hingga 13,2 juta barel per tahun," ujar Fabby seperti dikutip, Jumat (27/3/2026).
Menurut dia, langkah ini menjadi semakin penting di tengah tingginya sensitivitas fiskal Indonesia terhadap dinamika global, termasuk konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
"Setiap kenaikan harga minyak sebesar USD 1 per barel dapat menambah beban APBN hingga Rp6,7 triliun," katanya.
Tak hanya di sektor transportasi, Fabby menilai elektrifikasi di rumah tangga juga memberikan dampak signifikan terhadap penghematan energi impor.
Penggunaan kompor listrik, khususnya bagi rumah tangga mampu, dinilai lebih ekonomis dibandingkan LPG nonsubsidi.
"Jika rumah tangga mulai menggunakan kompor induksi, penghematan LPG bisa mencapai lebih dari 130 ton per tahun," tambahnya.
Ia menegaskan, elektrifikasi menjadi salah satu kunci untuk menekan lonjakan subsidi energi yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Awas Harga BBM Naik! Indonesia Tidak Termasuk Negara Diizinkan Lewat Selat Hormuz
Pada 2025, subsidi energi tercatat sebesar Rp203,4 triliun dan diproyeksikan naik menjadi Rp210,1 triliun pada 2026.
"Elektrifikasi transportasi dan rumah tangga menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan impor energi sekaligus menekan beban subsidi," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Purbaya Sidak Pabrik Baja Asal China, Diduga Akali Pajak karena Cuma Bayar Rp 20 M
-
Bitcoin dkk Diramal Bisa Jadi Sistem Finansial Alternatif RI Dalam Waktu 3 Tahun
-
5 Tahun Holding UMi: Lebih Mudah, Dekat dan Berdampak untuk Nasabah PNM Mekaar
-
Delapan Klaster Program Prioritas Nasional di 2027
-
Bahlil Minta Lebih Banyak Lahan untuk Sawit demi Ambisi B80
-
Bahlil Stop Ekspor Batu Bara Usai PLN Kekurangan Pasokan
-
Sandiaga Uno Suntik Modal MUTU, Pasar Karbon RI Jadi Incaran
-
Jasa Marga Tingkatkan Komitmen Pengelolaan Green Toll Road dan Transformasi Rest Area Berkelanjutan
-
LPS Naikkan Bunga Penjaminan Simpanan Rupiah, Kini Tembus 3,75%
-
Toko Online Wajib Punya NIB, Termasuk Penjual Barang Bekas: Ini Ketentuannya