Bisnis / Energi
Jum'at, 27 Maret 2026 | 08:26 WIB
Warga Solo saat menggunakan kompor listrik. [Suara.com/Ari Welianto]
Baca 10 detik
  • Elektrifikasi transportasi dan rumah tangga dinilai strategis mengurangi beban APBN dari gejolak harga energi global.
  • Peralihan satu juta mobil fosil ke listrik dapat mengurangi kebutuhan minyak mentah Indonesia hingga 13,2 juta barel per tahun.
  • Penggunaan kompor listrik rumah tangga mampu berpotensi menghemat penggunaan LPG impor lebih dari 130 ton per tahun.

Suara.com - Peralihan ke kendaraan listrik dan kompor listrik dinilai menjadi langkah strategis untuk melindungi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari tekanan gejolak global, khususnya kenaikan harga energi.

Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyebut elektrifikasi di sektor transportasi dan rumah tangga mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi impor, seperti bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.

"Pada sektor transportasi misalnya, peralihan satu juta mobil berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik diperkirakan mampu mengurangi kebutuhan minyak mentah dalam jumlah signifikan. Penggantian satu juta mobil listrik dapat mengurangi kebutuhan minyak mentah hingga 13,2 juta barel per tahun," ujar Fabby seperti dikutip, Jumat (27/3/2026).

Ilustrasi Mobil Listrik

Menurut dia, langkah ini menjadi semakin penting di tengah tingginya sensitivitas fiskal Indonesia terhadap dinamika global, termasuk konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

"Setiap kenaikan harga minyak sebesar USD 1 per barel dapat menambah beban APBN hingga Rp6,7 triliun," katanya.

Tak hanya di sektor transportasi, Fabby menilai elektrifikasi di rumah tangga juga memberikan dampak signifikan terhadap penghematan energi impor.

Penggunaan kompor listrik, khususnya bagi rumah tangga mampu, dinilai lebih ekonomis dibandingkan LPG nonsubsidi.

"Jika rumah tangga mulai menggunakan kompor induksi, penghematan LPG bisa mencapai lebih dari 130 ton per tahun," tambahnya.

Ia menegaskan, elektrifikasi menjadi salah satu kunci untuk menekan lonjakan subsidi energi yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Awas Harga BBM Naik! Indonesia Tidak Termasuk Negara Diizinkan Lewat Selat Hormuz

Pada 2025, subsidi energi tercatat sebesar Rp203,4 triliun dan diproyeksikan naik menjadi Rp210,1 triliun pada 2026.

"Elektrifikasi transportasi dan rumah tangga menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan impor energi sekaligus menekan beban subsidi," pungkasnya.

Load More