- Nilai tukar rupiah ditutup melemah signifikan pada Jumat, 27 Maret 2026, mendekati level Rp 17.000 per dolar AS.
- Pelemahan rupiah didorong oleh sentimen kenaikan harga minyak dunia serta penguatan dolar Amerika Serikat akibat konflik Timur Tengah.
- Bank Indonesia mengubah batas maksimum pembelian valas menjadi 50.000 dolar AS per pelaku mulai berlaku April mendatang.
Suara.com - Pergerakan nilai tukar rupiah terus merosot pada penutupan, Jumat, 27 Maret 2026. Kondisi ini membuat mata uang garuda mulai nyaris tembus level Rp 17.000.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup ke level Rp16.979 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Indonesia pun melemah 0,45 persen dibanding penutupan pada Kamis (25/3/2026) yang berada di level Rp 16.904 per dolar AS.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp 16.957 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah terus ambles karena sentimen kenaikan harga minyak dunia.
"Rupiah tertekan sentimen risk off yang kuat oleh kenaikan harga minyak mentah dunia dan penguatan dolar AS," katanya saat dihubungi Suara.com.
Lukman menjelaskan, investor masih khawatir perkembangan seputar perang di Timur Tengah dan mengabaikan pernyataan dari Presiden Donald Trump yang mengatakan akan menangguhkan penyerangan ke fasilitas minyak Iran.
"Sepekan depan rupiah diperkirakan masih akan terus tertekan, dan perkembangan di Timur Tengah masih akan menjadi faktor utama," jelasnya.
Sementara itu, pergerakan mata uang Asia cenderung bervariasi. Rupee India menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,81 persen Disusul, peso Filipina yang ditutup ambles 0,49 persen.
Selanjutnya, ringgit Malaysia tertekan 0,4 persen dan dolar Taiwan yang ditutup turun 0,12 persen. Lalu, dolar Singapura yang terdepresiasi 0,11 persen.
Baca Juga: Rupiah Terus Lemas, Kurs Dolar AS di Jual Rp17.000 di Mandiri, BNI, BRI, dan BCA
Berikutnya ada yen Jepang yang turun 0,07 persen dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,06 persen pada sore ini.
Sedangkan, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,12 persen
Kemudian, won Korea Selatan dan yuan China yang sama-sama menguat 0,01 persen terhadap the greenback.
Berita Terkait
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 30 Kode Redeem FF 25 Maret 2026: Klaim Bundle Panther Gratis dan Skin M14 Sultan Tanpa Top Up
- 5 Rekomendasi HP Samsung Terbaru Murah dengan Spek Gahar, Mulai Rp1 Jutaan
- Panas! Keluarga Bongkar Aib Bunga Zainal, Sebut Istri Sukhdev Singh Pelit hingga Nikah tanpa Wali
Pilihan
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
Terkini
-
Pemerintah Pastikan WFH ASN Segera Jalan Bulan Ini, Tunggu Pengumuman Resmi
-
BKI Jajaki Kerja Sama Global, Dorong Industri Maritim RI Naik Kelas
-
IHSG Tersungkur Lagi Mendekati Level 6.900
-
Ekonom Ungkap Harga BBM Pertalite dan Solar Setelah Minyak Dunia Melonjak
-
Warga Australia Panik dan Mulai Timbun BBM
-
Belum Ada Pembatasan, Bahlil Persilahkan Masyarakat Bebas Beli BBM Subsidi
-
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Sekarang Popularitas Pemerintah Naik Kencang Sekali
-
Jaga Terang di Hari Kemenangan, Cerita Petugas PLN Amankan Keandalan Listrik di Momen Idul Fitri
-
RI Sudah Punya Pos Impor Minyak Mentah Baru, Bahlil: Jangan Tanya Dari Mana?
-
Kompor Listrik Makin Dilirik, Biaya Masak Lebih Murah dari LPG