- Rupiah menguat tipis 0,04 persen pada Kamis, 26 Maret 2026, ditutup di Rp 16.904 per dolar AS.
- Penguatan rupiah didorong janji pemerintah untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara di bawah tiga persen.
- Analis memprediksi penguatan rupiah tidak bertahan lama akibat tekanan kenaikan harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik.
Suara.com - Pergerakan nilai tukar rupiah bernapas legal pada penutupan, Kamis, 26 Maret 2026. Pasalnya, mata uang garuda terus melemah selama sepekan.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup ke level Rp 16.904 per dolar AS. Nilai tukar itu pun menguat 0,04 persen dibanding penutupan pada Rabu (25/3/2026) yang berada di level Rp 16.911 per dolar AS.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp 16.903 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah didorong janji pemerintah yang memastikan defisit APBN tidak akan mencapai 3 persen.
"Namun ada harapan yang mendukung dari pernyataan pemerintah yg meyakinkan bahwa defisit akan tetap di bawah 3 persen," katanya saat dihubungi Suara.com.
Meskipun demikian, penguatan rupiah tidak akan berlangsung lama. Sebab, mata uang garuda masih akan mendapatkan tekanan dari kenaikan harga minyak dunia.
"Rupiah diperkirakan masih dalam tekanan di tengah harga minyak yg kembali naik serta ketidakpastian prospek perdamaian timteng. Range Rp 16.850 - Rp 16.950," jelasnya.
Sementara itu, pergerakan mata uang di Asia cenderung melemah. Di mana, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,73 persen.
Selanjutnya ada baht Thailand yang ambles 0,3 persen dan won Korea Selatan terlihat tertekan 0,28 persen.
Baca Juga: IHSG Babak Belur di Sesi I: Merosot 1,21Persen, Tertekan Pelemahan Rupiah
Diikuti, peso Filipina yang ditutup terkoreksi 0,25 persen. Berikutnya ada dolar Singapura yang turun 0,14 persen serta dolar Hong Kong tergelincir 0,03 persen.
Disusul yuan China dan yen Jepang yang sama-sama melemah tipis 0,02 persen. Sedangkan dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah ditutup melonjak 0,23 persen terhadap the greenback.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
IHSG Bangkit ke Level 6.000 di Sesi I, Saham TPIA dan TOWR Bersinar
-
Isu Kelangkaan Batu Bara Bikin Listrik Padam, Pengamat Soroti 'Pengusaha Nakal'
-
Produk UMKM Lokal Bakal Diprioritaskan Muncul di Laman Marketplace, Begini Aturannya
-
Setujui Tenor KPR FLPP hingga 40 Tahun, Pemerintah Pertahankan Bunga Rumah Subsidi 5 Persen
-
HSBC Indonesia Nilai Akses Pembiayaan Modal Kerja Penting Buat UMKM
-
Cara UMKM Agar Tidak Kena Potong Pajak e-Commerce saat Jualan Online
-
Terbitkan Panda Bond, Purbaya: Bunga Utang China Lebih Murah Dibanding Amerika
-
Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
-
Purbaya Heran Lembaga Asing Terus Sorot Ekonomi RI, Bandingkan Nasib dengan AS-Eropa
-
Aturan Pajak Marketplace Resmi Berlaku, Cek Daftar Omzet yang Bebas Potongan