- Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah melampaui asumsi ICP APBN 2026 pemerintah sebesar USD 70.
- Kenaikan ICP minyak dunia antara USD 85 - USD 92 berpotensi menaikkan Pertalite menjadi Rp 10.500 - Rp 11.000 per liter.
- Pemerintah dihadapkan dilema antara menaikkan BBM untuk disiplin fiskal atau menahannya berisiko pelebaran defisit APBN.
Suara.com - Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak pada proyeksi harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Ekonom Universitas Negeri Surabaya, Hendry Cahyono, menilai tekanan global saat ini telah melampaui asumsi dasar ekonomi pemerintah. Harga minyak dunia bahkan berpotensi menembus di atas 100 dolar AS per barel, jauh dari asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.
"Kondisi geopolitik sekarang membawa pemerintah dalam dilema yang sulit. Akan mempertahankan daya beli dengan risiko disiplin fiskal terabaikan atau menaikkan BBM dengan risiko inflasi bahkan stagflasi," ujar Hendry seperti dikutip, Jumat (27/3/2026).
Dalam skenario harga minyak berada di kisaran 85–92 dolar AS per barel, Hendry memperkirakan harga Pertalite berada pada rentang Rp 10.500 hingga Rp 11.000 per liter dari posisi saat ini Rp 10.000.
Sementara itu, harga solar subsidi diproyeksikan naik menjadi Rp 7.150 hingga Rp 7.500 per liter dari harga sebelumnya Rp 6.800.
Namun, jika harga minyak dunia menembus di atas 100 dolar AS per barel dalam waktu yang berkepanjangan, kenaikan harga BBM diperkirakan akan lebih tinggi.
Harga Pertalite berpotensi naik 15–20 persen menjadi Rp11.500 hingga Rp 12.000 per liter. Adapun solar subsidi diperkirakan meningkat ke kisaran Rp 7.800 hingga Rp 8.200 per liter.
Hendry menegaskan, penyesuaian harga BBM dalam kondisi tersebut menjadi langkah yang semakin rasional untuk menjaga stabilitas fiskal negara.
"Keputusan menahan harga BBM berarti pemerintah memilih menanggung beban melalui pelebaran defisit. Strategi ini efektif menahan inflasi, tetapi berisiko terhadap stabilitas fiskal jangka panjang," katanya.
Baca Juga: Warga Australia Panik dan Mulai Timbun BBM
Ia menjelaskan, setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi hingga Rp 10,3 triliun. Selain itu, defisit APBN juga dapat melebar sekitar Rp6,8 triliun untuk setiap kenaikan tersebut.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kebijakan kenaikan harga BBM tetap memiliki konsekuensi terhadap daya beli masyarakat, sehingga diperlukan langkah mitigasi yang tepat dari pemerintah.
"Kenaikan harga tanpa kompensasi social safety net akan menyebabkan stagflasi karena pendapatan masyarakat tidak meningkat tetapi tergerus inflasi," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
- 7 Sepatu Lari Lokal Paling Underrated 2026: Kualitasnya Dipuji Runner, Tapi Masih Jarang Dilirik
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Qavah Group Mau Lipat Gandakan Investasi China ke RI
-
Harga Minyakita di Wilayah Timur Masih Melambung, Kemendag Soroti Kendala Logistik
-
Kadin China Kirim Surat Protes ke Prabowo, Keluhkan Royalti Tambang, RKAB Nikel hingga Satgas PKH
-
Pemerintah Waspadai Lonjakan Harga Gula Pasir, Skema SPHP Diusulkan
-
Siloam Tutup RUPST Tahun Buku 2025, Lanjutkan Pertumbuhan Berkelanjutan Lewat Diferensiasi Arketipe
-
Rupiah Ambruk ke Rp17.500, Pedagang Elektronik Pasar Minggu Ungkap Penjualan Telah Anjlok 50 Persen
-
Paradoks Beras: Stok Melimpah 5,19 Juta Ton, Harga di 105 Daerah Masih Melonjak
-
Rupiah Tembus di Rp17.500, Pedagang Elektronik: Harga Sudah Naik 5 Persen
-
Rupiah Tembus Rp17.528, Harga Laptop dan Ponsel di Mall Ambasador Terancam Melonjak
-
Siap-siap! Dana Rp 31,5 Triliun Bakal Hilang dari Pasar Modal RI