- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,94% ke level 7.097,06 pada Jumat, 27 Maret 2026, akibat sentimen global.
- Pelemahan IHSG dipicu ketidakpastian geopolitik AS-Iran serta kenaikan harga energi dan pelemahan rupiah domestik.
- Sektor infrastruktur terkoreksi terdalam 1,29% sementara sektor energi menjadi satu-satunya yang menguat 0,35%.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin longsor pada pada perdagangan, Jumat, 27 Maret 2026, setelah digempur sentimen global yang masih membayangi pasar.
Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, IHSG terkoreksi 0,94 persen ke level 7.097,06.
Pelemahan ini dipicu ketidakpastian tinggi terkait perundingan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih diwarnai pernyataan kontradiktif dari kedua pihak. Kondisi tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap kelanjutan konflik di Timur Tengah.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dan gas alam turut menjadi sentimen negatif, di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi dan dampaknya terhadap inflasi global.
Dari dalam negeri, tekanan juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah yang turun 0,45 persen ke level Rp16.980 per dolar AS di pasar spot.
Secara sektoral, saham infrastruktur mencatatkan koreksi terdalam sebesar 1,29 persen. Sebaliknya, sektor energi menjadi satu-satunya yang menguat dengan kenaikan 0,35 persen.
Secara teknikal, pergerakan IHSG diperkirakan masih cenderung bergerak sideways dalam rentang 7.000 hingga 7.200. Level resistance berada di 7.200, pivot di 7.100, dan support di 7.000.
Di sisi lain, data jumlah uang beredar (M2) menunjukkan pertumbuhan 8,7 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada Februari 2026, melambat dibandingkan Januari 2026 yang mencapai 10 persen.
Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan M1 sebesar 14,4 persen YoY dan uang kuasi sebesar 3,1 persen YoY, serta penyaluran kredit.
Baca Juga: IHSG Melemah di Sesi I ke Level 7.101, Tekanan Jual Masih Dominan
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah rilis data ekonomi domestik pekan depan, mulai dari indeks manufaktur S&P Global PMI Maret 2026, neraca perdagangan Februari 2026, hingga data inflasi Maret 2026.
Trafik Perdagangan
Pada perdagangan hari ini, sebanyak 18,94 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 11,75 triliun, serta frekuensi sebanyak 1,37 juta kali.
Dalam perdagangan hari ini, sebanyak 292 saham bergerak naik, sedangkan 396 saham mengalami penurunan, dan 270 saham tidak mengalami pergerakan.
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada hari ini diantaranya, SOHO, FMII, CBPE, NZIA, JAYA, NETV, MPAB, DFAM, ENRG, ADES.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, FITT, FUJI, APLI, KUAS, BESS, LUCY, IDEA, IOTF, ICON, AYLS.
Berita Terkait
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
Terkini
-
Warga Jabodetabek Kabur Liburan, Kendaraan Padati Jalan Tol
-
Alasan Panas Bumi Jadi Pusat Pengembangan Energi terbarukan
-
Kemenhub Restui Maskapai Naikkan Fuel Surchage 50%, Tiket Pesawat Ikut Melonjak?
-
BI Prediksi Kinerja Penjualan Eceran April 2026 Tetap Kuat, Kelompok Suku Cadang Jadi Penopang
-
BRI KPR Solusi Permudah Miliki Rumah dan Properti Lelang dengan Cicilan Fleksibel
-
Ada Nama Baru di Jajaran Direksi Garuda Indonesia, Dua WNA Masih Menjabat
-
Industri Rokok Dinilai Jadi Penopang Lapangan Kerja dan Penerimaan Negara
-
Purbaya Rombak Pejabat DJP usai Heboh Kasus Restitusi Pajak
-
Saham-saham Milik Prajogo Pangestu Rontok Setelah Terlempar dari MSCI Indeks
-
Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Dinilai Butuh Regulasi Ramah Investasi